disaster
Sastra Budaya

Konsistensi, Tetap Menulis di Semua Kondisi dan Situasi

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“It’s important to try to write when you are in the wrong mood or the weather is wrong. Even if you don’t succeed, you’ll be developing a muscle that may do it later on.” John Ashbery.

**************************

Nasihat John Ashbery –-penulis buku Penguin Poets— di atas, sangat patut kita perhatikan. Sebab, hidup telah mengajarkan kita sangat banyak hal. Terkadang kita tidak bisa memilih, namun harus menghadapi. Tak semua hal dalam hidup ini, sesuai dengan yang kita inginkan.

Pandemi salah satu contohnya. Kita tak pernah memilih, namun harus menghadapi. Maka kualitas kehidupan yang baik —good life, menurut Martin Seligman— adalah mampu beradaptasi dalam semua kondisi. Manusia yang mampu eksis dalam semua kondisi, adalah mereka yang pandai beradaptasi.

Maka kita harus siap mengalami banyak kondisi dan situasi. Baik sesuai harapan kita, ataupun tidak sesuai dengan harapan kita. Apapun yang tengah kita hadapi, harus selalu siap siaga menjalani. Inilah kualitas “good life” menurut Seligman, atau “quality of life”, menurut teori kebahagiaan Nestle.

Maka, menulis juga harus bisa dilakukan dalam semua kondisi. Tak perlu memilih-milih kondisi. Karena bagi para penulis, menulis adalah kehidupan itu sendiri. Tak bisa eksis jika hanya memilih kondisi yang disukai.

Anda memang harus merancang kondisi menulis, sebaik mungkin. Pada Zona Waktu Menulis (ZWM) terbaik, pada Zona Tempat Menulis (ZTM) terbaik, dengan Sarana Khusus Menulis (SKM) terbaik. Namun Anda juga harus menyiapkan plan B, apabila ada kondisi yang tak sesuai harapan.

Meskipun bertemu kondisi yang tak sesuai rencana dan harapan, Anda tetap harus menulis. Joseph M. Moxley dalam tulisannya “Establish a Comfortable Place to Write” yang diposting di web Writing Commons menyarankan kita tentang konsistensi menulis.

 “When circumstances prevent you from writing at your best time of day, however, do not use this as an excuse not to write at all. Even ten minutes of freewriting at your worst time of day is better than no writing”, ujar Moxley.

“Ketika bertemu kondisi yang menghalangi Anda untuk menulis pada waktu yang terbaik, jangan gunakan ini sebagai alasan untuk tidak menulis sama sekali. Bahkan sepuluh menit freewriting pada waktu terburuk Anda, lebih baik daripada tidak menulis sama sekali”.

Bukan hanya kondisi yang tak sesuai harapan, bahkan ketika berhadapan dengan kondisi yang sangat buruk sekalipun —tetaplah menulis. Moxley menyarankan, “On days when disaster strikes—when the rain leaks through the roof of your writing site or a bad storm knocks out the electricity—you should still try to contribute something to your writing, even if it is a single sentence written hastily on a napkin or spoken into a tape recorder”.

Jangankan cuma ga punya mood — meskipun hujan badai, meskipun gunung meletus, meskipun pandemi, meskipun gempa, meskipun tsunami dan liquifaksi —Anda tetap harus menulis. Mengapa harus menulis? Karena Anda penulis.

Mungkin menulis reportase kejadian bencana, mungkin menulis kronologi peristiwa, mungkin menulis pesan untuk penggalangan dana bagi para korban bencana. Dalam situasi apapun —sadari sepenuhnya, Anda adalah penulis.

Inti belajar menulis adalah konsistensi. Jangan memilih kondisi untuk menulis, meskipun Anda harus merancang kondisi menulis. Tetaplah menulis meskipun bertemu situasi dan kondisi yang tak sesuai harapan Anda. Tak sesuai recana Anda.

Sebagaimana saran John Ashbery, “Sangat penting untuk menulis ketika Anda berada dalam suasana hati yang buruk atau cuaca yang buruk. Bahkan jika Anda tidak berhasil, Anda telah melatih ketrampilan untuk melakukannya kapan saja”.

Saat Anda merasa suasana hati yang salah, atau Anda merasa berada dalam cuaca yang salah, tetaplah menulis. Saat terjadi hujan di bulan Juni, memacu Sapardi Djoko Damono untuk menulis puisi Hujan Bulan Juni, yang kemudian diangkat menjadi film layar lebar. Tak perlu mengutuki hujan —mengapa kamu datang di bulan Juni?

Rayakan dengan menulis hujan yang datang tak pada musimnya.

Bahan Bacaan

Joseph M. Moxley, Establish a Comfortable Place to Write, www.writingcommons.org

8 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Artikel ini telah dilihat : 258 kali.