buku
Sastra Budaya

Ketika Pesan Telah Tersampaikan Tanpa Tulisan

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Buku, tidak selalu tentang khazanah keilmuan yang rumit. Tidak selalu tentang penjelasan secara akademik terhadap segala sesuatu. Tidak selalu tentang fantasi dan imajinasi yang absurd.

Buku adalah ide. Buku adalah karya. Buku adalah sarana menyampaikan pesan. Sarana menyalurkan perasaan dan suara jiwa terdalam.

Maka dalam dunia perbukuan, yang terjadi adalah kontestasi ide. Kontestasi karya. Kontestasi kreativitas. Juga kontestasi seni menyuarakan kata hati.

Siapa yang memiliki ide, dia akan melahirkan buku. Siapa yang lebih kreatif, dia yang akan menerbitkan buku. Siapa yang memiliki pesan sangat dalam, ia bisa mengekspresikan melalui buku.

Selama ini, secara tradisional, kita mengetahui buku adalah ide yang dituangkan ke dalam tulisan, kemudian diterbitkan. Maka berinteraksi dengan buku, artinya kita membaca isi buku. Membaca pesan yang dalam buku —secara tekstual maupun kontekstual.

Kemudian buku pun mengalami perkembangan. Buku bisa menjadi ekspresi karya seni berupa gambar, foto, kaligrafi, dan karya seni lain. Muncullah komik yang berbasis gambar, dilengkapi dengan cerita.

Muncul pula buku cerita bergambar. Sejak dari gambar coretan tangan asli, hasil animasi, atau fotografi. Semakin lama, buku mengalami perkembangan yang sangat pesat. Tak lagi bercorak tradisional.

Muncul berbagai kreasi buku, yang mengajak pembaca beraktivitas. Ada hal-hal yang harus pembaca lakukan, seperti menulis, memilih, mewarnai, melipat, menggunting, menyobek dan seterusnya. Buku semakin berwarna-warni, bentuknya pun secara fisik sangat beragam.

Buku Tanpa Teks

Hingga akhirnya, kita pun menemukan buku tanpa teks. Tanpa gambar. Buku kosong.

Zaman dulu, kita akan mengatakan, apa gunanya judul, jika tanpa isi? Namun di zaman sekarang, kita bisa menemukan buku yang hanya judul —tanpa isi teks. Apakah laku di pasaran? Laris manis dan cetak ulang.

Judul buku itu adalah “Everything Men Know About Women”, karya Dr. Alan Francis dan Cindy Cashman. Buku setebal 100 halaman itu, tidak ada isinya sama sekali. Yang ada hanya halaman-halaman kosong.

Lihat bentuknya di link berikut ini:

Tak ada satupun huruf, kata, kalimat atau paragraf yang menghiasi bagian dalam buku. Seratus lembar, kertas kosong saja, tanpa gambar, tanpa kata. Benar-benar kosong.

Anda tahu, pesan apa yang disampaikan oleh buku itu? Ya. Semua orang bisa menangkap maksudnya. Inilah seni komunikasi, tidak selalu dengan kata-kata, tidak selalu dengan tulisan.

Dr. Alan Francis dan Cindy Cashman, penyusun buku itu, memberi pesan melalui judul. “Everything Men Know About Women”, segala sesuatu yang diketahui lelaki dari perempuan. Kemudian, jawabannya ada pada lembar-lembar halaman isi tanpa tulisan.

Nihil. Tak ada yang diketahu laki-laki tentang perempuan. Sama sekali.

Kira-kira, seandainya disampaikan dengan tulisan, menjadi seperti ini. “Kamu tidak mengerti apapun tentang perempuan. Kamu tidak mengerti perasaan perempuan. Kamu tidak mengerti kebutuhan perempuan”.

“Kamu tidak mengerti isi hati perempuan. Kamu tidak mengerti kesedihan perempuan. Kamu tidak mengerti pengorbanan perempuan. Kamu tidak mengerti makna tangis perempuan”.

Ternyata, tanpa aksara, tanpa angka, tanpa kata, tanpa titik koma, tanpa tanda baca, tanpa kalimat, tanpa paragraf, tanpa bab —-buku itu dimengerti isinya. Pesan telah tersampaikan, tanpa tulisan.

Nah, Anda juga bisa membuat buku serupa. Untuk mengekspresikan suara jiwa Anda. Untuk menyampaikan pesan yang tak mampu Anda lukiskan dengan kata-kata, gambar ataupun suara.

Saat seorang warga bingung dan frustrasi dengan cara pengelolaan negara yang dihuni, ia bisa menerbitkan buku berjudul, “Daftar Keberhasilan Pemerintah Indonesia”. Isinya, 200 lembar kertas kosong, tanpa isi.

Saat seorang istri bingung dengan tingkah laku suaminya, ia bisa menerbitkan buku berjudul “Apa yang Aku Ketahui Tentang Suamiku?” Isinya adalah 500 halaman kosong, tanpa isi.

Cetak satu saja. Berikan kepada suami.

Siapa bilang membuat buku itu sulit?

21 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Artikel ini telah dilihat : 566 kali.