Tarbiyah Itu Mudah

Masalahnya Ada pada Niat

Bagikan

Serial Arabika – Ajak, Rangkul, Bina, Kawal
(Sharing untuk ikhwah yang belum menjadi pembina UPA)

@ Iron Man (Kalideres, Jakarta)

Ada satu momen yang sampai hari ini masih membekas kuat dalam ingatan saya. Tahun 2021, setelah sebuah acara, saya dihampiri oleh seorang ikhwah. Wajahnya serius, matanya penuh rasa ingin tahu.

Ia baru saja menyaksikan saya menerima penghargaan sebagai pembina UPA terbaik se-DKI Jakarta dari Ustad Ahmad Heryawan yang waktu itu menjadi Wakil KMS.

Dengan penuh rasa penasaran ia bertanya, “Ustadz… apa jurusnya menjadi pembina UPA?”

Saya tersenyum. Lalu menjawab singkat, “Niat, akh.”

Dia terdiam. Wajahnya berubah. Antara kaget, tidak percaya, atau mungkin merasa jawabannya terlalu sederhana. “Apakah sesederhana itu, Ustad?”

“Iya… sesederhana itu.”


Seringkali kita membayangkan bahwa menjadi seorang murobbi itu membutuhkan kesiapan yang sangat besar. Harus punya ilmu yang luas, materi yang banyak, waktu yang longgar, mental yang kuat, dan pengalaman yang panjang. Kita merasa belum pantas. Kita merasa belum siap.

Padahal, kalau kita jujur… semua itu bukan penghalang utama. Penghalang utamanya hanya satu, niat yang belum benar-benar menyala.

Kalau niat itu sudah ada, maka jalan akan terbuka.

Tidak punya ilmu? Kalau niat, kita akan belajar. Tidak punya waktu? Kalau niat, kita akan meluangkan—bahkan jika harus di jam-jam yang orang lain masih terlelap.

Tidak punya materi? Kalau niat, kita akan mencari, bertanya, bahkan mengetuk pintu-pintu ikhwan lain untuk dibantu.

Tidak percaya diri?
Kalau niat, kita akan minta didampingi oleh BKAP DPC, belajar pelan-pelan, lalu tumbuh.

Selalu ada alasan untuk tidak membina. Tapi kalau niat itu kuat… selalu ada jalan untuk tetap membina.

Maka sebenarnya, tidak benar-benar ada alasan yang membuat seseorang tidak bisa menjadi murobbi…kecuali memang ia belum berniat.

Izinkan saya berbagi sesuatu yang saya yakini dalam-dalam.

Menjadi pembina UPA, menjadi murobbi… itu bukan sekadar aktivitas dakwah. Itu adalah strategi hidup. Bahkan lebih dari itu—strategi akhirat.

Kita semua tahu hadits tentang tiga amalan yang tidak terputus,
sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan.

Coba kita renungkan… Dengan menjadi murobbi, kita sedang membuka peluang untuk memiliki ketiganya sekaligus.

Kita mengajarkan ilmu—dan ilmu itu diamalkan. Kita membina manusia—yang kemudian menjadi pribadi shalih. Kita menanam kebaikan—yang terus berbuah bahkan setelah kita tiada.

Dan yang lebih luar biasa…Seorang murobbi tidak hanya membentuk orang baik. Ia membentuk pembentuk-pembentuk berikutnya.

Satu halaqoh… bisa melahirkan halaqoh-halaqoh lain.
Satu binaan… bisa melahirkan generasi pembina berikutnya.

Bayangkan efek berantainya. Kebaikan itu tidak berhenti. Ia mengalir. Ia berkembang. Ia menyebar—bahkan ke tempat-tempat yang tidak pernah kita datangi.

Saya pernah merasakan sendiri bagaimana Allah menunjukkan “buah” dari jalan ini.

Suatu hari, tiba-tiba datang sebuah paket ke rumah. Tidak ada angin, tidak ada kabar sebelumnya. Di dalamnya ada sebuah surat.

Isinya sederhana, tapi menghujam hati. “Ustad, terima kasih. Saya sampai di titik ini karena wasilah bertemu dan dibina bersama Ustad.”

Tidak ada nomor yang tersimpan. Tidak ada kontak. Saya bahkan tidak tahu siapa pengirimnya saat itu. Beberapa waktu kemudian, tiba-tiba ada pesan masuk. Kami lanjutkan dengan telepon.

“Ustad… ana kangen… sekarang ana sudah jadi manajer di perusahaan kontraktor tambang di Tanjung Tabalong. Semua yang ana pelajari di UPA—10 muwasofat itu—ana turunkan jadi indikator profesional. Ana terapkan di tim. Dan ana dapat apresiasi dari pimpinan.”

MasyaAllah…

Di momen seperti itu, kita sadar—bahwa apa yang kita tanam dulu… ternyata tidak hilang. Ia tumbuh. Ia hidup. Ia berbuah.

Dan kita bahkan tidak tahu kapan buah itu akan kembali kepada kita.

Ikhwah fillah…Kalau antum ingin memperbaiki hidup, jadilah murobbi.

Kalau antum ingin lebih disiplin, jadilah murobbi. Kalau antum ingin lebih menjaga shalat, jadilah murobbi. Kalau antum ingin hidup lebih terarah, jadilah murobbi.

Kenapa? Karena menjadi murobbi itu unik.

Ia bukan hanya memperbaiki orang lain. Ia memaksa kita untuk memperbaiki diri.

Bagaimana mungkin kita mengingatkan orang lain tentang shalat, tapi kita sendiri lalai? Bagaimana mungkin kita berbicara tentang kedisiplinan, tapi kita sendiri tidak tepat waktu?

Akhirnya… tanpa kita sadari… kita berubah.

Bukan karena dipaksa orang lain. Tapi karena amanah yang kita emban.

Dan ada satu hal lagi yang sering kita lupakan… Doa.

Doa dari binaan kita. Doa dari orang yang kita sentuh hidupnya. Doa dari generasi setelahnya.

Doa-doa itu mungkin datang di waktu yang kita tidak sangka. Dalam bentuk yang tidak kita duga.

Rezeki yang tiba-tiba lancar. Masalah yang tiba-tiba dimudahkan. Hati yang tiba-tiba lebih tenang.

Bisa jadi… itu adalah buah dari doa-doa yang tulus.

Saya dan istri sering merasakan bagaimana tarbiyah ini bukan sekadar aktivitas, tapi menjadi bagian dari kehidupan.

Menjelang jadwal UPA, suasana di rumah berubah. Ada semangat. Ada persiapan.

Materi sudah disiapkan.
Informasi sudah dirangkum. Fisik dijaga. Waktu diatur.

Bahkan urusan rumah pun disiasati. Istri sudah koordinasi dengan tukang sayur. Masak diatur. Semua disiapkan.

Karena kami sama-sama memahami… Ini bukan agenda biasa. Ini adalah agenda kehidupan.

Dan kami meyakini…Allah memberkahi rumah ini, keluarga ini, kehidupan ini… karena kami menjaga tarbiyah.

Ikhwah yang saya cintai… Kalau hari ini kita merasa hidup biasa saja… Kalau kita merasa stagnan… Kalau kita merasa keberkahan belum terasa…

Mungkin ada satu mata rantai yang terputus.

Kita dibina… tapi belum membina.

Padahal, tarbiyah itu bukan hanya untuk dinikmati. Ia harus diteruskan.

Karena kebaikan itu sifatnya mengalir. Kalau ia berhenti di kita.. maka ia akan berkurang nilainya.

Tapi kalau ia kita teruskan… maka ia akan berkembang tanpa batas.

Maka hari ini, saya ingin mengatakan dengan penuh keyakinan. Jangan tunggu siap untuk menjadi murobbi.
Niatkan… lalu Allah yang akan menyiapkan.

Jangan runggu sempurna untuk membina. Mulai… lalu Allah yang akan menyempurnakan.

Jangan tunggu punya banyak waktu. Mulai saja… nanti waktu akan menyesuaikan.

Karena jalan ini bukan tentang siapa yang paling siap… Tapi siapa yang paling siap untuk melangkah dengan niat.

Mari kita hidupkan kembali niat itu. Mari kita ambil peran itu.

Mari kita menjadi bagian dari rantai panjang kebaikan yang tidak pernah putus… hingga hari akhir.

Bukan hanya menjadi orang yang dibina… Tapi menjadi orang yang membina.

Karena bisa jadi… Di sanalah letak keberkahan hidup kita yang selama ini kita cari.

IronMan-PKSKalideres
Pembina dan Pembimbing dengan 46 Anggota UPA

Tinggalkan Balasan