Robin Ginting, di Tengah Padatnya Kesibukan, Ia Membina 5 Kelompol UPA Sepekan
Serial Arabika – Ajak, Rangkul, Bina, Kawal
Di sudut kota Medan, seorang guru setiap hari melangkah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Nyaris tak pernah berhenti.
Namanya Robin Ginting. Pagi hari ia berdiri di depan kelas, mendidik generasi muda di bangku SMP. Siang hingga sore, ia beralih peran menjadi penggerak masyarakat. Malam hari menjadi murabbi.
Ia menjalankan amanah sebagai sekretaris Dewan Etik Daerah PKS Kota Medan, aktif sebagai ketua STM, juga menghidupkan BKM di lingkungan sekitar. Ia juga terlibat dalam berbagai komunitas kemanusiaan yang membantu masyarakat yang membutuhkan.
Namun malam hari adalah waktu yang paling istimewa. Di saat banyak orang beristirahat, Robin justru menghidupkan jiwa-jiwa—melalui UPA, halaqah kecil yang menjadi pusat pembinaan Iman.
Ia teringat prinsip dakwah dari al-Banna: “Kewajiban kita lebih banyak daripada waktu yang kita miliki.”
Robin membina lima kelompok UPA dari berbagai latar belakang. Ada abang becak, driver ojek online, kalangan anak muda, guru dan akademisi. Bahkan ada yang bergelar doktor dan lulusan luar negeri.
Namun di dalam UPA, tidak ada sekat status khusus. Ia tidak memposisikan mereka sebagai murid, tetapi sebagai sahabat dalam perjalanan Iman. Di sinilah keikhlasan diuji.
Walaupun kadang ia menyampaikan materi sambil melihat buku, tapi hatinya tetap yakin bahwa yang ia sampaikan adalah kebenaran yang harus dibagikan.
Dakwah Itu Merangkul, Bukan Menggurui
Dalam membina, Robin tidak hanya berbicara—ia memberi. Baginya, dakwah bukan hanya ceramah, tapi pelayanan.
- Membelikan mushaf Al-Qur’an untuk binaan yang belum punya
- Menjemput dan mengantar mereka yang kesulitan transportasi
- Menguatkan yang lemah, bukan menghakimi.
Baginya, dakwah bukan hanya ceramah, tetapi harus membantu sesama.
Regenerasi: Dari Dibina Menjadi Pembina

Robin tidak ingin dakwah berhenti pada dirinya. Ia melatih binaannya untuk menjadi pelanjut:
Ada yang ia amanahkan memegang kelompok UPA. Ada yang ia dorong mencari binaan baru. Ada yang ia bentuk menjadi murabbi.
Karena dakwah bukan tentang menjadi sempurna, tapi tentang terus menyampaikan.
Perjalanan panjang ia jalani sejak semester 4 kuliah hingga hari ini telah membentuk satu hal yang indah: Ketika anaknya yang masih kecil mulai akrab dengan kata “liqo”.
Itu bukan sekadar kata.
Itu adalah peradaban kecil yang sedang tumbuh di rumahnya.
Mungkin tidak semua orang memahami lelahnya. Tidak semua orang melihat pengorbanannya. Namun Allah melihat semuanya.
Sebagaimana pesan al-Banna, dakwah adalah jalan panjang yang membutuhkan kesabaran, keikhlasan, dan kesinambungan. Dan Robin Ginting telah memilih jalan itu.
Jalan sunyi… tapi penuh cahaya.
Semoga kelak, di hadapan Allah, ada yang berkata: “Ya Allah, aku mengenal-Mu karena dia.” Dan itu lebih berharga dari seluruh kemewahan dunia.
……….
@ bahan tulisan : Robin Ginting. Diedit oleh Cahyadi Takariawan
