Konsisten Dalam Kebaikan Adalah Ajakan
Serial Arabika – Ajak, Rangkul, Bina, Kawal
Oleh: Baharuddin (Karo, Sumatera Utara)
Suatu hari saya bertemu dengan pengamen jalanan. Terus terang saya kaget, karena ia dulunya adalah adik angkatan di kampus. Saya ajak ketemuan secara personal, sekadar berbincang ringan.
Bersyukur saya diajak untuk bertemu dengan rekan-rekan dia sesama pengamen. Beberapa kali pertemuan, saya berinisiatif membelikan dua buah alat musik zimbe –semacam kendang, untuk tambahan peralatan mengamen. Dengan tambahan alat ini, mereka terlihat lebih keren saat mengamen.
Seiring berjalannya waktu, saya semakin sering menyempatkan diri untuk berkumpul dengan mereka. Terutama sepulang dari kerja.
Setiap kali masuk waktu magrib, saya izin kepada mereka untuk keluar dan sholat ke masjid atau sholat ke mushola kantor. Ini hal rutin yang saya usahakan untuk tetap dilakukan : sholat berjamaah.
Di setiap pertemuan dengan mereka, saya selalu izin apabila waktu sholat magrib tiba. Hal ini saya lakukan secara spontan saja, tanpa ada niat apapun untuk memberikan pesan tertentu kepada mereka. Saya hanya ingin menjaga sholat berjamaah.
Suatu waktu salah seorang dari mereka berkata, “Bang, udah mau magrib nih, abang gak sholat?”
Saya lihat jam memang sudah mendekati waktu magrib. “Oh iya, terimakasih sudah diingatkan”. Saya pun izin kepada mereka untuk sholat ke masjid.
Pada pertemuan berikutnya, orang yang sama bertanya, “Bang, ini udah mau magrib. Abang mau sholat di mana?”
Dia bertanya untuk memastikan lokasi sholat saya. Karena kalau sholat ke musholla kantor, jaraknya dekat tetapi kalau ke masjid lumayan jauh. Sepertinya ia penasaran.
Dalam pertemuan berikutnya, tiba-tiba dia mengajak saya untuk sholat magrib. Sejujurnya saya kaget, tidak menyangka dengan ajakan itu. Bahkan dalam hati saya masih ada ganjalan, karena penampilan dia bergaya “punk”.
Ia hanya memakai baju kaos singlet yang kedodoran ala anak jalanan, dengan celana jeans yang sangat banyak koyaknya. Mulai dari bagian paha sampai pangkal lutut, semua koyak. Tapi tentu saja saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.
Berangkatlah kami ke masjid untuk sholat maghrib. Sesampai di masjid kami langsung berwudu, dan kami sudah terlambat karena jamaah maghrib sudah mulai. Kami masih mendapati imam rukuk pada rakaat pertama, sehingga saat salam saya masih bisa mengikuti imam.
Berbeda dengan teman pengamen tadi. Dia melanjutkan berdiri untuk rakaat ke tiga. Saya melihatnya berdiri ketika saya menoleh untuk salam.
Dengan tampilan yang unik tersebut, tentu menjadikan dirinya pusat perhatian jamaah masjid yang telah selesai sholat berjamaah. Saya sendiri hanya tersenyum melihatnya.
Ada rasa kagum bercampur haru melihat dia bersedia sholat maghrib. Yang membuat saya semakin terharu adalah, ternyata dia paham soal “masbuk” sholat.
Semenjak peristiwa itu, saya sering mengajak dan melibatkan dia dalam berbagai kegiatan. Pernah suatu waktu, saya mengajak tim pengamen ini untuk mengisi acara halal bihalal di DPD PKS Kabupaten Karo.
Mereka sangat antusias dengan ajakan ini. Sayangnya beberapa kader justru menganggap hal ini sebagai tindakan kurang tepat. Mungkin masih kaget dengan penampilan mereka.
Sampai hari ini alhamdulillah abang pengamen ini tetap istiqomah menjalankan sholat. Saya bahagia dengan perubahan ini.
Insyaallah mereka adalah partner dakwah dengan versi terbaik yang berhasil mereka capai saat ini. Semoga bisa menjadi lebih baik lagi dari waktu ke waktu, insyaAllah.
*) Foto : sekedar ilustrasi, diambil dari ms416 – https://pixabay.com/
