Tarbiyah Itu Mudah

Yang Tegar di Semua Mihwar

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Sebuah gedung sederhana di Jl. Mampang Prapatan Raya No 98 DEF, Jakarta Selatan, menjadi saksi sunyi perjuangan para aktivis dakwah. Gedung yang sebenarnya adalah ruko, telah diubah menjadi tempat koordinasi, komunikasi dan konsolidasi para pegiat dakwah dari berbagai penjuru tanah air.

Kisaran tahun 1998 hingga 2005, gedung tiga lantai itu selalu ramai digunakan untuk berbagai kegiatan. Para aktivis yang tulus dan lurus, bahkan banyak yang badannya kurus. Datang dari berbagai pelosok tanah air, untuk berkonsolidasi. Mereka adalah komunitas dakwah yang melebarkan sayap perjuangan melalui jalur partai politik.

Di lantai 3 gedung itu, ada sebuah ruang serba guna. Bisa untuk menginap para aktivis yang datang dari luar Jakarta dan memerlukan penginapan. Ruang yang sangat sederhana –jika dibandingkan dengan hotel. Namun cukup memadai untuk istirahat dan menginap. 

Di zaman itu tidak ada skema pendanaan untuk biaya operasional. Semua kegiatan ditopang menggunakan dana dari kantung pribadi. Sunduquna juyubuna, kas kami berasal dari kantung kami sendiri. Terkadang mendapat subsidi dari iuran sesama aktivis di wilayah masing-masing.

Para aktivis yang berasal dari luar Jawa, banyak yang datang menggunakan moda transportasi kapal laut. Mereka belum mampu mengakses pesawat terbang. Demikian pula, mereka belum mampu mengakses hotel untuk penginapan. Gedung dakwah di Mampang Prapatan menjadi destinasi ‘penginapan’ yang sangat bermanfaat.

Salah satu yang sering menghuni ruang serba guna itu adalah aktivis dakwah dari Palu, Sulawesi Tengah. Seorang ustadz alumni LIPIA Jakarta. Namanya Muhammad Ali Lamu, Lc.

Sebagian orang memanggil beliau dengan ustadz Muhammad. Ada yang memanggil ustadz Ali. Ada yang memanggil ustadz Lamu. Ada pula yang memanggil beliau dengan ustadz Ali Lamu. Beliau nyaman-nyaman saja dengan semua panggilan itu.

Melihat sosok dan cara komunikasinya, orang akan mudah respek dan nyaman. Halus, lembut, namun berwibawa. Wajah teduh dan selalu tersenyum, membuat siapapun mudah bersahabat dengannya.

Semangat dakwah Ustadz Ali Lamu luar biasa. Sejak masih kuliah di Jakarta, beliau sudah banyak membina pemuda lingkungan. Mengarahkan anak-anak muda di sekitar tempat kos beliau untuk belajar Islam.

Setelah lulus kuliah dari LIPIA, beliau pulang kampung ke Palu dan langsung terlibat aktif dalam pembinaan masyarakat. Dakwah beliau menyentuh berbagai kalangan masyarakat, sejak dari khutbah Jumat, pengajian, takbligh akbar, seminar, majelis taklim umum hingga forum pembinaan intensif.

Tahun 1998, dirinya turut mendeklarasikan partai politik di Provinsi Sulawesi Tengah. Semenjak saat itu, beliau aktif sebagai pengurus Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Keadilan (PK) yang kemudian bermetamorfosa menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Provinsi Sulawesi Tengah.

Pada tahun 2004, beliau terpilih menjadi anggota DPRD Kota Palu. Beliau terpilih dalam Pemilihan Legislatif dan menjadi anggota DPRD periode 2004 – 2009, terpilih kembali pada periode 2009 – 2014, dan kembali terpilih pada periode 2014 – 2019. Namun pada 15 Januari 2015 beliau dipanggil menghadap Allah Ta’ala.

*******

Kita kembali ke masa awal pembentukan Partai Keadilan. Gedung dakwah di Mampang Prapatan adalah kantor Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Keadilan. Kantor pusat pertama kali yang digunakan untuk mengelola semua aktivitas formal kepartaian.

Dengan berbagai keterbatasan kemampuan dan daya dukung, para aktivis yang hadir mengikuti suatu agenda di Mampang Prapatan harus mencari tempat menginap sendiri. Bagi yang berasal dari Jabodetabek, mereka bisa pulang ke rumah. Namun bagi yang dari luar Jabodetabek, mereka mengupayakan tempat menginap sesuai kondisi dan situasi masing-masing.

Ada yang menginap di rumah saudara atau teman. Ada yang mencari penginapan murah meriah. Ada pula yang bermalam di markas Mampang Prapatan. Sebuah ruang serbaguna di lantai tiga telah menjadi ‘tempat penampungan’ para aktivis yang memerlukan penginapan ala kadarnya.

Salah satu yang kerap menghuni ruang serbaguna itu adalah ustadz Ali Lamu, Allahuyarham. Ketika mendapat undangan rapat di DPP, beliau segera mencari tiket kapal laut. Perjalanan kapal dari Palu sampai Jakarta memerlukan waktu 4 hari.

Tiba di Jakarta langsung menuju kantor DPP, menunggu jadwal rapat. Beliau langsung bermarkas di ruang serbaguna tersebut. Rapat mungkin berlangsung 4 jam. Jika rapat besar mungkin berlangsung satu hari penuh.

Selesai rapat yang hanya beberapa jam, beliau masih harus menunggu jadwal kapal ke Palu. Karena kapal rute Palu – Jakarta pp tidak beroperasi setiap hari. Jadi, beliau masih harus stay di ruang serbaguna itu beberapa hari, sampai tiba jadwal keberangkatan kapal untuk kembali ke Palu.

Perjalanan kapal menuju Palu memerlukan waktu 4 hari lagi. Sesampai di Palu, beliau segera menindaklanjuti hasil rapat dengan sosialisasi dan mendetailkan teknis pelaksanaan di lapangan. 

Hari berikutnya, undangan rapat sudah datang lagi. Dari Bidang atau Badan yang berbeda. Perwakilan dari DPW Sulawesi Tengah hampir selalu beliau yang hadir. Maklum, jumlah kader yang memenuhi kualifikasi hadir rapat masih sangat sedikit. Akhirnya ustadz Ali Lamu menjadi ikon Sulawesi Tengah.

Sejak undangan rapat Bidang Kaderisasi, Bidang Kepemudaan, Bidang Perempuan dan Keluarga, hingga rapat Dewan Syariah, yang muncul orangnya sama. Sosok yang tulus menjalankan perannya. Seakan waktu beliau habis di laut. Durasi rapat hanya beberapa jam, namun perjalanan Palu – Jakarta pp memerlukan 8 hari. Plus masa tunggu jadwal kapal pulang ke Palu, bisa beberapa hari lagi.

****

Saking seringnya ustadz Ali Lamu menginap di ruang serbaguna lantai 3 kantor DPP, semua petugas kantor menghapal dan akrab dengan beliau. Selama ‘masa tunggu’ jadwal kapal pulang ke Palu, beliau tinggal di markas Mampang Prapatan dan ikut berkegiatan dengan para pengelola gedung. Tak sungkan beliau ikut terlibat bersih-bersih dan beres-beres gedung.

Sebuah handuk setia tergantung di jemuran, dekat ruang serbaguna tempat menginap beliau. Handuk yang menjadi saksi keringat beliau di jalan dakwah. Handuk yang menjadi saksi kesetiaan beliau dengan jalan dakwah. Handuk yang menjadi saksi perjuangan di masa awal kepartaian.

Saat saya mengunjungi kantor DPP, saya menuju lantai tiga. Beruntung jika bertemu ustadz Ali Lamu untuk berbincang dan saling memberi tausiyah. Jika beliau sudah berangkat ke Palu, setidaknya saya menemukan handuk beliau tergantung di jemuran.

Saya meyakini handuk itu berbau wangi oleh amal dan ketulusan beliau. Handuk itu pula kelak menjadi salah satu saksi di hadapan Allah akan kesetiaan dan ketegaran di tengah kesulitan serta keterbatasan.

Semoga Allah merahmati, mengampuni dan meridhaimu, wahai ustadz Ali Lamu. Engkau adalah guru sekaligus sahabatku. Mengajarkan kepada kami semua tentang nilai dan hakikat perjuangan dakwah di jalan Allah.

Bahwa kader harus setia hingga akhir usia. Kader harus istiqamah di jalan Allah hingga akhir hayat yang indah hunul khatimah.

Tinggalkan Balasan