Tetap Kuat Bersama Tarbiyah
@ Tina (Batubara, Sumatera Utara)
Izinkan aku berkisah tentang perjalanan tarbiyah. Aku ceritakan ini agar semua kader semakin yakin, bahwa tarbiyah itu indah, dan tarbiyah itu mudah.
Kita akan semakin kuat dan kokoh dengan tarbiyah. Insyaallah.
Berawal dari tahun 2025. Saat itu muncul pertarungan batin yang sangat melelahkan dalam berdakwah. Aku merasa telah disudutkan dengan verbal.
Namun kata-kata itu adalah titik awal kebangkitan semangatku. Suaranya yang begitu lantang, menggema di telingaku.
“Kalau cara dakwahmu begitu, bisa jadi bubar dakwah ini!! Tidak akan ada yang mau mengikutimu!!”
Suaranya yang tegas dan keras, memecah kebisingan forum pekanan kami saat itu.
Ya Allah… Aku hanya bisa terdiam seribu bahasa. Hening seketika, dan hatiku hancur lebur.
Tak setetes air pun jatuh, padahal saat itu aku sangat marah dengan kondisi ini. Ingin sekali aku menjawab. Namun aku memilih diam.
Kututup mataku. Kusebut nama-Mu, “Ya Allah… “
Apakah aku salah membuka pengajian dengan cara yang sedikit berbeda dengan mereka?
Aku pulang tertunduk. Sesak. Sakit. Seperti orang terbuang di dalam jamaah dakwah ini.
Awalnya aku merasa sangat berat dengan hal ini. Namun akhirnya aku menyadari, ini adalah salah satu cara jamaah untuk mendidik dan menguatkanku. Cara Allah mentarbiyah diriku yang lemah.
Notifikasi group whatsapp tarbiyah ruhiyah berdering. Ada informasi kajian zoom bersama gurunda ustadz Abdul Azis Alhafizh.
Lagi-lagi aku bertakbir. Allahu akbar..
Kajian hari itu sesuai dengan kondisiku yang sedang hancur. Dan pertanyaan-pertanyaan para peserta rupanya berasal dari orang-orang yang seperti diriku. Sedang mengalami rasa sulit dalam dakwah.
Dan… Inilah obat, yang membuat aku menangis terus tanpa henti. Aku menemukan solusi. Aku menemukan motivasi untuk bangkit kembali.
Gurunda Abdul Aziz dengan ciri khasnya yang santun, lembut, tenang mengatakan kepada kami, “Banyak atau sedikitnya orang yang mengikutimu itu bukan karena kehebatan kamu ataupun kekurangan kamu. Tapi itu karena Allah yang melembutkan hati mereka. Bukan kamu…. “
Aku butuh kalimat itu untuk bisa mengangkat kepalaku lagi. Alhamdulillah alladzi binimatihi tatimusholihat.
Kini aku semakin kuat. Aku bangkit kembali dan bersemangat.
Hari ini aku membina 13 kelompok UPA. Belum seberapa, tentu saja. Aku sempat iri saya dengan ikhwah yang membina 30 UPA. Allahu Akbar. Minimal aku nanti membina 15 kelompok UPA. Begitu niatku.
Tapi aku tahu diri. Aku hanya tamatan pendidikan umum. Bukan dari pondok pesantren atau kuliah syariah. Tentu aku tahu keterbatasanku.
Alhamdulillah aku merasa sangat terbantu dengan fasilitas-fasiltas membina dari struktur. Ada kajian TV, kajian zoom, tinggal pilih. Fikih, psikologi, sejarah, parenting, semua ada.
Kalau aku tidak sempat menyimak kajian Online secara langsung, aku akan menyimak versi rekaman.
Semua itu karena pertolongan Allah. Semua menjadi mudah. Bismillah.
