Membina 9 Kelompok, Dari Sosialita Sampai Nasionalis
@ Inge Novita (Kendari)
.
Tarbiyah atau pembinaan adalah suatu aktivitas yang sudah saya geluti sejak tahun 1992. Saat itu saya duduk di bangku sekolah kelas 3 SMA di Jakarta.
Usia saya sekarang 52 tahun, separuh umur saya jalani dengan membersamai dakwah ini. Alhamdulillah tidak pernah putus dibina dan membina. Sejak 2011 pindah ke kota Kendari, aktivitas pembinaan terus berlanjut.
Saat ini membersamai 9 kelompok binaan yang beragam dari sisi usia dan latarbelakang, dari gen Z sampai baby boomer. Hal ini menuntut tidak hanya keseriusan tapi juga teknik pendekatan yang beragam. Baik dalam cara penyampaian maupun pendekatan psikologisnya.
Saya merasa tertantang ketika membina satu kelompok pembinaan yang mayoritas anggotanya anggota sebuah partai politik umum atau nasionalis. Bukan partai Islam.
Mereka ini dari generasi baby boomer, tapi semangatnya untuk mengikuti pembinaan pekanan, masya Allah… Sangat bersemangat. Sering saya jadikan contoh untuk kader-kader yang mulai malas hadir di forum pembinaan.
Salah satu kutipan yang pernah mereka ungkapkan adalah, ”Pokoknya kita harus ikut forum pembinaan ini terus sampai mati, jangan malas.”
Masya Allah… saya merinding ketika hal ini diungkapkan ketua kelompok mereka, yang kader dari sebuah partai nasionalis. Mereka merasakan kebermanfaatan forum pembinaan sebegitu dalam.
Ada lagi kelompok ”sosialita” dari generasi gen X. Awalnya mereka dari kumpulan sosialita, seiring berjalan waktu, mereka adalah kader tarbiyah yang muntijah. Banyak kegiatan –baik ke dalam maupun syiar ke luar yang sudah mereka lakukan.
Di antara syiar keluar yang mereka lakukan adalah bakti sosial, pasar murah, bazar baju layak pakai, berbagi sembako, berbagi ”ta’jil on the road” dan donasi 1000 buku untuk anak pesisir. Dengan aktivitas dan program yang selalu beragam dan bersemangat, mulai tahun 2025 forum ini membentuk suatu komunitas. Alhamdulillah sampai saat ini masih eksis.
Kelompok ”sosialita” ini pun sudah punya taklim binaan di ujung perbatasan kota Kendari, tepatnya perbatasan Konawe Selatan. Taklim ini terbentuk sebagai follow up dari kegiatan baksos yang kami lakukan didaerah itu.
Diawali dari baksos dan berbagi 1000 buku untuk anak pesisir di sana, kemudian kami mengajak ibu-ibu pesisir untuk taklim rutin. Alhamdulillah sampai saat ini mereka rutin mengikuti taklim pekanan.
Ada juga kelompok pesisir lainnya, perbatasan kabupaten Konawe. Dari hanya belasan yang ikut taklim, sampai saat ini sudah lebih dari 30 orang bergabung. Dari jalanan berlubang dan berlumpur untk sampai ke lokasi sampai saat ini mulus beraspal.
Program mereka pun beragam, hal ini yang membuat ibu-ibu ini betah dan saling mengajak teman dan tetangganya. Yang tadinya hanya satu titik kegiatan, sekarang sudah merambah sampai tiga kelurahan yang berdekatan.
Mereka adalah ibu-ibu dengan ekonomi menengah ke bawah, tapi saling support ketika ada program yang sudah disepakati bersama. Ramadhan tahun ini program unggulannya adalah berbagi paket sembako untuk lingkungan sekitar –khususnya untuk para janda.
Kelompok lainnya dikomandoi oleh ”ibu Polisi” (begitu kami memanggil, karena suaminya mantan Polisi). Kelompok ini awalnya tidak lebih dari 10 orang. Saat ini masuk tahun kedua hampir 20 orang yang rutin hadir.
Pendekatan awal untuk kelompok ini adalah dengan metode tahsin. Satu tahun full perbaikan bacaan, setelah itu mulai materi dengan topik berbeda-beda yaitu fiqh, tafsir, parenting dan siroh menjadi agenda pekanan terjadwal.
Kelompok pembinaan yang ini mayoritas dari gen X dan baby boomer. Bahkan ada nenek yang usianya 70 tahun sangat rajin hadir meskipun ketika tilawah dengan suara yang sudah gemetar khas lansia.
Ada juga kelompok pegawai, mayoritas gen Z dan milenial. Pendekatan dan cara penyampaian ke mereka ini berbeda. Teknik yang saya terapkan ini lebih banyak diskusi ketimbang penyampaian materi, karena mereka lebih kritis. Dan lebih santai gak terlalu serius. Dengan model pendekatan ini mereka bebas dan nyaman bercerita apa saja apalagi pembahasan jodoh sangat mereka minati.
Kelompok lainnya adalah dari ”komunitas hijrah”. Awal merekrut komunitas ini, ketika diminta menjadi narasumber acara mereka, dari situ jiwa merekrut meronta-ronta untuk segera dieksekusi.
Dan alhamdulillah para pengurus komunitas hijrah ini mau ikut pembinaan dan sekarang sudah tergabung dalam forum pembinaan khusus. Mereka adalah gen Z yang punya semangat bergerak, terbukti komunitasnya eksis dan aktif dimedsos. Mereka adalah ingin bergerak untuk kebaikan tapi masih sangat perlu untuk diarahkan.
Dua kelompok terakhir adalah gen Z dengan gaya anak muda, sehingga kadang harus ”ditarik” dengan ketegasan, kadang ”diulur” untuk memberikan kebebasan mereka dalam bergerak dan berekspresi.
Kelompok terakhir adalah sistem UPA online. Karena mereka gabungan dari beberapa kabupaten yang kadernya sedikit. Sehingga untuk efektivitas waktu dan tetap dalam pembinaan, maka dilakukan UPA online setiap malam ba’da isya.
Mendapat amanah membina beragam usia, lokasi dan waktu (ada yang bada subuh dan bada isya), terus terang butuh konsentrasi yang tidak mudah. Selain metode penyampaian yang digunakan setiap kelompok berbeda, persiapan materi dan untuk pergi liqo pun menjadi sesuatu yang harus direncanakan secara matang (karena tersebar dipenjuru kota).
Bersyukur segala aktivitas saya selalu disupport oleh suami dan 7 anak yang sangat kooperatif sehingga meringankan kerja dakwah ini.
Saat ini mendapat amanah sebagai ketua BKAP Kota kendari. Saya masih harus banyak belajar, penyesuaian dan pembenahan, memerlukan waktu lebih serius, sehingga membagi waktu antara keluarga, amanah struktur dan amanah membina menjadi suatu tantangan tersendiri dalam mengelola.
’Ala kulli hal, semoga Allah ridho dengan langkah kecil ini dan bernilai pahala di sisi Allah sebagai pemberat untuk tiket masuk surga-Nya. Aamin.
Kota Kendari, April 2026
