Saya Pernah Lelah dan Ingin Berhenti Dari Lingkaran Kebaikan Ini
@ Lia Fitriana (Tanjung Balai, Sumatera Utara)
Nama saya Lia Fitriana, ibu dari 4 orang anak. Saya seorang pembelajar, oleh sebab itu saya kuliah lagi di kampus Al-Hikmah Tanjungbalai. Sekarang semester 4.
Saya punya tekad kuat untuk membina UPA di kampus dan lingkungan sekitar. Saya ingin selalu terlibat dalam proses pembinaan.
Jujur, saya nggak selalu kuat. Ada masa di mana saya merasa capek banget. Dan ingin berhenti.
Capek ngajak orang. Sudah banyak ngajak, tapi nggak direspon. Dicuekin.
Capek nunggu, karena yang ditunggu pada nggak datang. Padahal semua sudah saya siapkan : materi, tempat, camilan, dan bingkisan. Berharap binaan saya hatinya tambah lengket dengan lingkaran pembinaan ini.
Capek berharap. Karena sering membangun harapan, tapi sering kecewa.
Kadang saya mikir, “Sebenarnya saya ini cocok nggak sih di jalan ini?”
Pernah satu hari saya sudah menyiapkan semuanya. Materi sudah ada. Waktu sudah saya kosongkan. Tapi pas waktu pertemuan tiba, nggak ada yang datang. Zonk.
Saya cuma duduk sendiri, termenung dan sedih. Diam.
Lihat HP… kosong. Gak ada kabar. Kadang yang berkabarpun alasannya garing banget
Rasanya itu… bukan cuma sepi, tapi kayak ada yang jatuh di dalam hati. Saya pulang dengan perasaan aneh. Nggak marah… tapi sedih banget.
Malamnya, saya benar-benar nangis. Saya bilang dalam hati, “Ya Allah… ini karena dosa saya ya? Ya Allah apa saya ini hina ya?”
Saya ngerasa… mungkin saya terlalu banyak salah. Mungkin saya belum pantas ngajak orang lain, sementara diri saya sendiri masih berantakan. Hafalan Qur’an saya sedikit, akhlak jauh dari kata baik untuk seorang pembina.
Tapi di tengah pikiran itu saya ingat satu ayat:
“Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah…”
(QS. Az-Zumar: 53)
Ayat itu tampak “sederhana”, tapi kena banget. Saya mikir, kalau saya yang banyak dosa ini malah menjauh, terus saya mau ke mana lagi?
Dan saya juga ingat hadits:
“Allah melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Di situ saya mulai sadar… Meskipun saya nggak hebat, mungkin cara saya masih salah, mungkin hasilnya belum kelihatan.
Tapi… saya datang dengan niat. Saya berusaha, walaupun sering gagal. Dan mungkin… itu yang Allah lihat.
Sekarang saya masih sering ngerasa capek. Masih sering ngerasa gagal. Kadang masih nangis juga.
Tapi satu hal yang berubah : Saya nggak mau berhenti lagi.
Bukan karena saya sudah kuat. Tapi karena saya takut. Kalau saya berhenti, saya malah makin jauh dari Allah.
Jadi sekarang, walaupun pelan, saya tetap jalan. Biar merangkak, biar tertatih tatih. Walaupun nggak sempurna, saya tetap coba.
Karena buat saya, yang penting bukan hasil… Tapi saya masih ada di jalan ini.
Saya tak mau meninggalkan. Dan tak mau ketinggalan.
Karena tarbiyah benar-benar indah.
