Tarbiyah Itu Mudah

Aman dan Nyaman dalam Lingkaran Kebaikan

Bagikan


–Tarbiyah Itu Sungguh Indah

@ Ratna Kushardjanti

Ini adalah sebuah kisah perjalanan. Aku menuliskan agar dipahami anak cucuku nanti.

Aku meyakini, kebaikan harus selalu dipintakan.
Harapan harus dilafadzkan dalam doa. Hidayah harus didamba dalam permohonan panjang kepadaNya.

Saat galau mencari jati diri, aku melafadzkannya berulang kali. Ini kejadian 37 tahun lalu.

Jakarta, 1989. Dari sini aku mulai menemukan kebaikan, di sebuah lorong di Jalan Kenari. Aku belajar di sebuah bimbel di Jakarta Pusat.

Aku belajar dibersamai oleh orang-orang yang aku merasa mereka tidak sama dengan orang-orang lain yang kukenal sebelumnya.

Mentor laki-laki selalu berjalan menunduk, apalagi jika melintasi kami para akhwat. Umumnya mereka memiliki jenggot yang sengaja dipelihara meskipun hanya tumbuh tipis.

Mentor perempuan jauh dari kata modis. Setidaknya menurut ukuran saat itu. Selalu datang dengan hijab panjang yang menutupi tubuhnya. Saat itu melihat mereka rasanya seperti melihat makhluk asing.

Di tempat ini aku punya banyak teman. Penampilan mereka kebanyakan hampir sama dengan para mentor. Memakai gamis dan berjilbab lebar.

Aku ingin seperti mereka, meskipun saat itu aku merasa belum sesolihah mereka. Hanya saja aku belum punya cukup uang untuk membeli gamis dan jilbab baru.

Saat itu aku masih belajar menutup aurot. Jilbabku masih kecil. Berbeda dengan akhwat yang lain yang sudah memakai jilbab rapi.

Tentu saja aku risih berasa berbeda. Itulah yang membuatku berusaha menyisihkan uang untuk membeli pakaian yang lebih rapi. Sekuat itu lingkungan memberikan tenaga untuk berubah.

Dari uang yang kusisihkan aku mulai belanja kain panjang di Pasar Paseban.

Di bimbel, selain mendapatkan pelajaran umum, kami mengikuti mentoring keagamaan. Aku suka sekali mendengar arahan-arahan Kak Indra, mentor kami.

Aku mencoba mencerna setiap perkataan yang beliau sampaikan. Sesuatu yang menurutku baru. Sesuatu yang mengairi haus keingintahuanku.

Hingga saat Kak Indra menikah, untuk kesekian kali aku melihat sesuatu yang berbeda. Aku menghadiri sebuah pernikahan yang tidak lazim pada saat itu. Mempelai laki-laki dipisah dari mempelai perempuan. Demikian juga para tamu.

Tidak ada dandanan berlebihan pada mempelai putri. Aku sungguh terperangah. Mereka menikah tanpa pacaran.

Otakku bahkan berasa lemot mencerna semuanya. Tapi tak apa. Pemahaman itu berproses setelah kubiarkan mengendap.

Aku mencoba menambah wawasan dari berbagai bacaan. Aku baca dan langganan majalah Islam yang saat itu terbit dengan harga 350 rupiah. Aku memiliki dari volume 1 masa terbitnya.

Sayang sekali waktunya tiba. Aku harus kembali ke Yogyakarta. Aku mengikuti ujian masuk Perguruan tinggi negeri.

Aku merasa ada sesuatu yang belum tuntas. Aku merasa ada yang terputus.

Aku yang sekarang merasa cara pandang terhadap kehidupan mulai berubah. Aku yang sebelumnya suka semau gue, menunda-nunda waktu sholat, tak peduli masalah ikhtilat, belum menutup aurat saat itu sudah merasa adanya dorongan kebaikan untuk menyempurnakan kekuranganku.

Aku sedih karena harus meninggalkan Jakarta, sedih karena harus meninggalkan bimbel, sedih harus meninggalkan teman-teman dan mentor yang baik.

Saat aku bertanya pada Allah kenapa aku harus terpisah dari suasana ukhuwah yang begitu indah? Allah langsung menjawabnya. Ia membayar kontan semua tanya.

Aku diterima di sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Yogyakarta. Aku mengikuti mentoring agama islam di kampus. Aku merasa menemukannya kembali.

Sesuatu yang sempat terputus. Sesuatu yang pernah hilang.

Ya, lingkaran kebaikan itu. Yang tak pernah ingin kutinggalkan lagi. Lingkaran yang membersamai hidupku

Lingkaran kecil. Hingga aku menikah, memiliki anak- anak bahkan cucu. Hingga 37 tahun berlalu.

Aku tetap mencintai lingkaran yang menghangatkan, lingkaran yang selalu mengingatkan dalam kebaikan, lingkaran yang menguatkan, lingkaran yang abadi dalam komitmen hidupku. Yang bahkan aku tak peduli siapa yang saat ini menjadi mentorku.

Yang pasti aku akan selalu menjadi bagian dari dakwah. Ini merupakan kebahagian dan keberuntungan dalam hidupku.
Terimakasih ya Allah untuk kenikmatan dan keindahan hidup dalam lingkaran kebaikan.

Aku selalu merasa aman dan nyaman bersama mereka. Semoga kekal hingga ke surga.

Kotagede 9 April 2026

Tinggalkan Balasan