Perasaan Kebanggaan: Siapa Yang Lebih Baik?
Oleh : Cahyadi Takariawan
Dalam kehidupan dakwah, sisi-sisi perasaan kemanusiaan selalu hadir membersamai para aktivis. Di antaranya adalah perasaan bangga yang menyelinap muncul tatkala menghadapi suatu situasi positif yang sesuai harapan atau bahkan sangat diharapkan. Misalnya seorang aktivis mampu menyelesaikan tugas-tugas dakwah dengan sukses, atau telah melaksanakan program kerja kelembagaan dengan tingkat keberhasilan di atas sembilan puluh persen, atau mendapatkan apresiasi lebih dari para pemimpin lembaga dakwah. Banyak hal yang bisa memunculkan perasaan bangga di hati para aktivis.
Perasaan bangga ini tentu saja sangat manusiawi, mengingat karakter kemanusiaan yang menghajatkan pengakuan akan keberhasilan yang telah diraih, atau prestasi yang telah dicapai, atau target yang telah terlampaui, atau kenyamanan kondisi yang dinikmati. Akan tetapi yang harus diperhatikan adalah, jangan sampai perasaan bangga yang dirasakan menyebabkan memandang remeh orang lain, atau menganggap tidak ada bandingannya dengan pihak lain. Apalagi apabila sampai menyebabkan perasaan angkuh, karena menganggap bahwa semua keberhasilan itu adalah karena kehebatan dirinya.
“Saya memang luar biasa. Kalau tidak ada saya, tentulah kondisinya tidak bisa sebaik ini”, ungkapan ini sangat mungkin benar sesuai kenyataan. Akan tetapi bisa menjadi negatif apabila berkembang menjadi perasaan takjub dan membesar-besarkan peran dirinya dengan mengabaikan peran atau keterlibatan pihak-pihak lain. Kondisi ini bisa disebut angkuh atau sombong, padahal bangga tidak sama dengan sombong dan angkuh.
Untuk itulah Nabi saw sangat memperhatikan, agar kebanggaan tidak berkembang menjadi kesombongan atau keangkuhan. Perhatikan pengakuan Amr bin Ash ra ini :
“Rasulullah menghadapkan wajah dan pembicaraan kepadaku, sehingga aku menduga bahwa aku adalah sebaik-baik kaum (manusia). Lalu aku bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku atau Abu Bakar yang lebih baik ?”Jawab Rasul, “Abu Bakar !” Aku bertanya lagi, “Ya Rasulullah, apakah aku atau Umar yang lebih baik ?’ Jawab Rasul, “’Umar !” Lalu aku bertanya, “Ya Rasulullah, apakah aku atau ‘Utsman yang lebih baik ?”, Beliau menjawab, “’Utsman !” Mungkin bila aku tak bertanya kepada Rasulullah beliau akan membenarkan aku. Maka timbullah (penyesalan dalam hatiku), seharusnya aku tak bertanya lagi kepadanya” (Riwayat Tirmidzi).
Semua sahabat tahu, bahkan Rasulullah juga tahu bahwa Amr bin Ash adalah seorang prajurit Islam yang tangguh. Kesetiaan dan loyalitas di jalan Allah swt telah teruji di berbagai medan pertempuran melawan orang-orang musyrik. Namun Rasulullah tak ingin ada kesombongan yang dapat muncul di dalam hati Amr bin Ash, sehingga pertanyaan yang ditujukan kepada beliau telah dijawab secara tegas, dan bisa menutup peluang ke arah penyimpangan tujuan serta niatan.
Bukankah Rasulullah sebenarnya bisa menjawab, seperti keinginan Amr bin Ash, bahwa beliau mencintainya lebih dari yang lain ? Seandainya Rasul saw mengatakan Amr bin Ash lebih baik dari Abu Bakar, hal itu tak akan mengurangi kemuliaan dan kewibawaan Abu Bakar di hadapan para sahabat yang lain. Demikian pula jika Nabi saw mengatakan Amr bin Ash lebih baik dari Umar, sekali-kali keutamaan Umar tak akan pudar di hadapan sahabat lainnya. Namun perasaan apakah yang sekiranya muncul pada diri Amr bin Ash, jika jawaban beliau seperti itu ?
Jika anda mengalami peristiwa seperti yang dialami Amr bin Ash, bagaimanakah kiranya perasaan anda? Pemimpin yang diharapkan memberikan apresiasi atas keberhasilan anda dalam menunaikan amanah dakwah, ternyata tidak seperti yang anda harapkan. Bagaimana pula seandainya kondisinya lebih buruk dari itu ? Anda telah bekerja keras tanpa kenal lelah di medan dakwah, namun yang anda jumpai justru kritikan dan cemoohan ?
Ada kalanya kita merasa lebih baik –astaghfirullahal ’azhim—dari orang lain yang ternyata jenjang kekaderannya lebih tinggi. Kita merasa tertinggal dari segi jenjang atau level, padahal jika dibandingkan, rasanya kita tidak kalah dibanding orang lain yang level kekaderannya lebih tinggi daripada kita.
Lebih-lebih lagi jika kita menyaksikan ada kader yang baru saja bergabung dengan organisasi dakwah, namun posisi kekaderan dan amanahnya demikian melejit meninggalkan kita. Terkadang muncul kecemburuan dan sejumlah pertanyaan. Mengapa dia demikian cepat meningkat jenjang kekaderannya? Mengapa ia sedemikian cepat mendapatkan amanah dakwah yang berada dalam posisi hebat? Kadang kita merasa tersisihkan, atau bahkan disisihkan. Terlebih ketika merasa lebih senior dan lebih mampu.
Bolak-balik kita bertanya: Siapa sebenarnya yang lebih baik?
Benar-benar ini ujian dalam perjalanan jenjang pengkaderan. Apakah perasaan ini juga yang dialami oleh masyarakat Bani Israil, saat harus menerima realitas Thalut menjadi pemimpin mereka? Coba perhatikan kisahnya.
“Apakah kamu tidak memperhatikan pemuka-pemuka Bani Israil sesudah Nabi Musa, yaitu ketika mereka berkata kepada seorang Nabi mereka: “Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?” Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim” (Al Baqarah: 246).
“Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui” (Al Baqarah: 247).
Bukankah pemuka Bani Israil sendiri yang meminta agar diutus seseorang untuk menjadi pemimpin mereka? Setelah yang ditunjuk menjadi pemimpin adalah Thalut, ternyata mereka tidak bisa menerima. “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”
Jika gerakan dakwah dipimpin oleh seseorang yang –menurut ukuran kita—tidak memiliki kelebihan apapun dibanding kita, apakah cukup tersedia ruangan dalam diri kita untuk mendengar dan taat kepadanya? “Bagaimana ia memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?”
Saya doktor, alumnus luar negeri, bagaimana bisa dipimpin seorang anak lulusan SMA dalam negeri ? Saya ustadz, memiliki kafa’ah syar’i, berpendidikan tinggi, mengapa harus dipimpin oleh seorang awam yang kemarin sore baru belajar mengaji? Saya keturunan bangsawan, ningrat, berdarah biru, bagaimana akan dipimpin oleh kader yang orang biasa saja ? Saya senior, termasuk generasi awal dakwah ini, bagaimana akan taat kepada pendatang baru yang masih sangat yunior ? Ya tidak level lah….
Maka, kitapun mempertanyakan keputusan syura… “Masak, musyawarah menghasilkan keputusan yang sangat naif seperti ini ? Bagaimana kita bisa taat ?”
Bolak-balik kita bertanya, “Siapa sebenarnya yang lebih baik?”
Nastaghfirullahal ‘azhim, wa natubu ilaik.
Saya kira, perasaan-perasaan tersebut adalah bagian dari sisi-sisi kemanusiaan dalam dakwah. Sangat manusiawi, akan tetapi bukan berarti harus dituruti. Bangga memiliki prestasi adalah hal yang wajar, namun bukan berarti menafikan kebaikan orang lain. Bangga menjadi orang baik adalah wajar, namun bukan hanya kita yang baik. Amat banyak orang baik, amat banyak orang berprestasi, amat banyak orang berjasa di sekitar kita. ”Mereka dan kita”, dalam komunitas dakwah ini, adalah satu kesatuan yang harus saling menguatkan dalam kebaikan.
Kita harus berbangga atas prestasi dan kinerja kader lain, dan bukan mempersoalkannya. Kita ikut bersuka cita atas kemampuan dan kapasitas yang dimiliki saudara-saudara kita, sehingga akan menjadi potensi positif bagi dakwah. Bukan mengingkari dan merendahkannya. Termasuk ketika ”mereka” yang dari berbagai sisi kita anggap berada di bawah kapasitas kita, tidak layak dilecehkan atau ditiadakan artinya. Atau dinihilkan peluangnya menjadi pemimpin kita.
Jika semua potensi dalam dakwah ini dipadukan, tentu akan menjadi kekuatan yang luar biasa dahsyatnya. Akan menjadi kontribusi yang tiada hingga dalam upaya melakukan perbaikan masyarakat, bangsa dan negara. Sekecil apapun peran dan kontribusi seseorang di dalam dakwah ini, janganlah direndahkan. Janganlah disepelekan. Janganlah dilecehkan. Jangan diremehkan. Perhatikan bagaimana Allah mengapresiasi kebaikan, walau hanya seberat dzarrah:
“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya” (Az Zalzalah: 7).
Allah tidak akan menyia-nyiakan amal hamba yang berjuang di jalanNya. Allah yang Mahatepat penglihatanNya atas amal hamba. Semua dinilai dan mendapatkan balasan terbaik di hadapan Allah. Maka tak layak kita hanya bisa melihat peran kita sendiri dalam dakwah, sementara sekian banyak keterlibatan kader ikhwan dan akhwat di segenap rentang penjuru bumi Allah. Bagaimana kita bisa menafikan peran mereka, bagaimana kita bisa menganggap kecil apa yang mereka lakukan, bagaimana bisa menganggap remeh apa yang mereka perjuangkan ?
Kalaupun amal saudara-saudara kita –menurut kita– belum sebanyak amal kita, tidak ada alasan untuk menjustifikasi bahwa kita pasti lebih baik. Pasti lebih layak mendapat amanah. Pasti lebih berhak mendapat penghargaan. Pasti lebih pantas menyandang peran kehormatan. Pasti lebih layak mendapat surga Allah. Bukankah hanya Allah yang bisa memberikan penilaian secara tepat dan adil ? Kita hanya mampu menilai dari kulit luarnya saja, tidak tahu apa yang sesungguhnya tersimpan dalam jiwa seseorang.
Mari kita bersihkan hati. Mari kita jaga kelurusan orientasi. Semoga mampu menggapai ridha Ilahi.
Yogyakarta, 2016
