Perasaan Berjasa: Ini Hasil Kerja Saya!
Oleh : Cahyadi Takariawan
Ketika dakwah menunjukkan hasil-hasil dan prestasi yang menggembirakan, wajar jika muncul perasaan kebanggaan pada pelakunya. Ini perasaan yang sangat manusiawi. Namun perasaan ini jangan dibiarkan berkembang menjadi klaim atas usaha pribadi dan meremehkan kerja orang lain. Karena dalam setiap keberhasilan dakwah, pasti akan dijumpai peran semua pihak dalam mencapai keberhasilan tersebut, sekecil atau sebesar apapun.
“Kalian tahu, siapa yang telah melakukan perubahan spektakuler, sehingga tercipta hasil yang sangat menakjubkan ini? Tidak ada lain yang bisa melakukannya, kecuali saya. Semua saya kerjakan sendiri”, pernyataan ini sangat mungkin benar sesuai realitas yang ada. Namun ungkapan ini bisa menjadi awal dari munculnya kesombongan, apabila merasa bahwa kehebatan dirinya tidak ada yang menandingi, dan meremehkan peran orang lain.
“Payah benar kader di sini. Tidak ada yang mau bekerja. Kalau saja saya tidak bergerak, Pemilu kemarin hasilnya tidak akan sebagus ini”.
“Kemenangan Pilkada di daerah ini adalah hasil kerja keras dan jerih payah saya. Pengorbanan yang saya berikan telah membuahkan hasil berupa kemenangan gemilang. Jika saya tidak terlibat, saya tidak bisa bayangkan apa yang akan terjadi”.
“Gerakan dakwah ini menjadi besar dan berkembang pesat, karena usaha yang saya lakukan. Kader-kader lain tidak memiliki peran dan keterlibatan, sehingga terpaksa saya bekerja sendiri. Alhamdulillah hasilnya signifikan”.
Masyaallah. Benarkah kita bisa bekerja sendiri? Dalam sistem amal jama’i yang dibangun gerakan dakwah, seluruh bagian akan saling berkait, berhubungan dan mempengaruhi. Kita tidak bisa melepaskan diri dari pengaruh bagian lain yang ada dalam mesin amal jama’i ini. Ibarat mesin mobil, semua komponen saling berpengaruh dan berhubungan. Laju mobil merupakan hasil kerja simultan seluruh bagian. Bukan hanya karena mobil punya roda. Bukan hanya karena mobil punya mesin. Bukan hanya karena mobil punya gas.
Mur dan baut dalam sebuah bangunan raksasa mungkin dianggap hanya bagian yang kecil. Namun yang pesti mereka punya kontribusi untuk tegaknya bangunan yang menjulang tinggi. Bagaimana besi bisa merasa hanya ia yang melakukannya? Bagaimana semen mengaku bahwa itu semua hasil kerjanya?
Arsitek sangat penting perannya dalam merancang sebuah bangunan. Namun tukang batu dan tukang kayu yang belum tentu tamat SD, pasti punya peran yang tak bisa diremehkan dalam pembangunan gedung menjulang. Bagaimana insinyur sipil mengaku itu semua hasil jerih payahnya? Bagaimana mandor bangunan merasa hanya dia yang berjasa?
Sampainya beras di rumah kita dan dimasak menjadi nasi, tentu bukan semata-mata kerja Menteri Pertanian. Petani punya peran dan jasa yang penting. Pabrik pupuk, bagian pengairan, buruh tani yang bekerja menanam benih serta memanen hasilnya, seluruhnya memiliki peran dan kontribusi khas. Pemilik sawah tidak berhak mengklaim bahwa ia saja yang memiliki jasa.
Sungguh, kita bukanlah siapa-siapa, tanpa kader lain di sekitar kita. Sungguh, kita tak akan pernah bisa bekerja sendirian. Kita selalu memerlukan tim dalam perjuangan.
Yogyakarta, 2016
