Mengenal Mereka yang Tidak Pernah Dikenal
Oleh : Cahyadi Takariawan
Dalam setiap tahapan dakwah, selalu ada orang-orang yang dikenal, namun ada pula orang-orang yang tidak dikenal. Selalu ada tokoh-tokoh penting dan berpengaruh secara langsung dalam mengelola dan menjalankan dakwah. Nama-nama yang disebut, nama-nama yang ‘harum’, nama-nama yang dikagumi oleh para kader dan publik. Merekalah yang kerap muncul namanya di pemberitaan media, atau memangku jabatan dan posisi penting, atau kerap tampil di hadapan kader maupun publik.
Namun, sesungguhnya nama-nama yang tersebut itu, hanyalah sedikit dibandingkan dengan para pegiat dakwah di berbagai daerah yang tak pernah disebut namanya. Keberhasilan dakwah, capaian-capaian yang dihasilkan dalam perjuangan dakwah, bukan hanya hasil kerja segelintir orang yang dikenal kader dan publik tersebut saja. Semua keberhasilan dalam dakwah —-sebagaimana semua kegagalan dalam dakwah— pada dasrnya merupakan hasil kerja kolektif dari semua kader.
Sebagai contoh, dalam sebuah perjuangan pilkada, dimana kader dakwah yang diusung berhasil menjadi kepala daerah, maka yang namanya langsung muncul di kader dan publik —-secara otomatis— adalah si kepala daerah sebagai tokoh utama yang dimunculkan. Namun, pada kemenangan tersebut, terdapat ribuan peran dari ribuan kader dan pendukung. Terdapat pula pengorbanan dari sangat banyak pihak yang namanya tidak akan bisa disebut satu per satu. Mereka ini —bisa jadi— tidak akan pernah disebut sama sekali seumur hidupnya di dunia. Tentu kelak mereka yang berjasa akan mendapat balasan kebaikan di sisi Allah Ta’ala.
Tapi lihatlah, kita hampir-hampir tak mengenal mereka, dan melupakan mereka. Saya sebut satu nama dengan inisial, sekedar memberi contoh bahwa ada sangat banyak peran yang tak pernah kita ingat dalam lembar sejarah ingatan kita. MJ, sebut saja begitu. Dia kader dakwah militan, dia kader dakwah yang taat. Dalam setiap Pemilu legislatif namanya selalu muncul sebagai caleg, dan qadarullah dirinya belum pernah terpilih menjadi aleg. Perjuangannya luar biasa, totalitas dalam setiap Pemilu.
Pengorbanannya tak pernah padam, kendati daerah pemilihan (dapil) —yang dirinya ditempatkan oleh partai— selalu berubah. Ia pendobrak di saat kader tidak bersedia ditempatkan di dapil tersebut, saking beratnya medan perjuangan. Tempat yang minim kader dan pendukung, tempat yang harga kursi sangat mahal. Saat tak ada kader yang bersedia ditulis namanya sebagai caleg, semuanya menolak, maka MJ adalah kader yang taat untuk ditugaskan.
Nama ini tentu tak ada yang tahu. Justru karena ia selalu berpindah dapil, dan belum pernah berhasil menjadi aleg. Tahun 1999 maju menjadi caleg, tahun 2004 maju menjadi caleg, tahun 2009 maju menjadi caleg, tahun 2014 maju menjadi caleg, dan tahun 2019 maju pula menjadi caleg. Di dapil yang selalu baru. Bahkan di daerah yang ia tidak memiliki sejarah apapun di tempat itu. Belum pernah berhasil menjadi aleg dalam lima kali Pemilu.
Anda mau tertawa? Anda mentertawakannya? Ia sendiri tertawa-tawa saja. Bukan karena lucu, tapi karena baginya nothing to lose. Ia hanya menjalankan tugas, ia hanya menjalankan amanah, dan sudah ia kerjakan dengan totalitas. Membiayai perjuangannya sendiri, meninggalkan keluarga untuk waktu lama, demi berjuang di dapil yang ditugaskan untuknya. Ia bukan kader yang suka berebut dapil. Ambisinya hanyalah bekerja untuk kemenangan dakwah.
Anda banyak mengenal nama-nama tokoh dan pejabat publik baik eksekutif maupun legislatif. Anda mengenal nama Ahmad Heryawan, karena beliau Gubernur Jawa Barat dua periode. Anda mengenal Irwan Prayitno, karena beliau Gubernur Sumatera Barat dua periode. Anda mengenal Mahyeldi, karena beliau Walikota Padang dua periode. Anda mengenal Almuzzammil Yusuf karena beliau anggota DPR RI tiga periode. Anda mengenal Mohammad Sohibul Iman karena pernah menjadi anggota DPR RI dan sekarang Presiden Partai. Mereka itu namanya sangat dikenal di kalangan kader dan publik.
Tentu mereka adalah kader yang sangat baik dan berprestasi, sekaligus terkenal. Karena terkenal itu, tentu anda sering mendoakan mereka, bahkan menyebut namanya. Namun, pernahkah anda mendoakan kader dakwah yang jumlahnya sangat banyak, yang berjuang dalam diam, tidak dikenal publik, tidak disebut namanya oleh media, dan tidak dikenal pula jasa-jasanya? Padahal jasa mereka sangat nyata.
Kehadiran kader seperti MJ di setiap Pemilu, telah menyebabkan peningkatan signifikan perolehan suara di dapil, yang secara akumulatif juga menambah suara nasional. Pada contoh Pemilu 2019, ia menyumbang suara signifikan, sehingga berhasil mengusung satu kader dakwah menjadi anggota DPRD. Bukan dirinya, namun tanpa dukungan suara MJ, kursi di dapil itu bisa jadi hilang karena tidak mencukupi hitungan.
Teramat sangat banyak kader seperti MJ. Mereka tentu tak ingin disebut dan dicatat. Namun mereka berhak untuk mendapatkan doa dari kita semua. Bukan hanya mendoakan mereka yang kita kenal jasa dan namanya. Namun hendaknya mendoakan pula ribuan kader yang bekerja di pos masing-masing, di bidang masing-masing, yang berkontribusi besar terhadap dakwah dengan caranya masing-masing. Tanpa harus mengenal nama dan jasanya, doakan saja mereka.
Nabi Saw telah bersabda:
“إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”. قال: فلقيت أبا الدرداء في السوق، فقال مثل ذلك، يأثر عن النبي صلى الله عليه وسلم.
“Sesungguhnya do’a seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa’a yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendo’akan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan do’anya. Tatkala dia mendo’akan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” HR. Muslim: 48
Mari kita doakan mereka semua, semoga Allah berikan balasan kebaikan berlipat atas semua jerih payah dan amal salih merek dalam dakwah. Semoga Allah berikan istiqamah kepada mereka semua untuk selalu di jalan dakwah sampai akhir hayat yang indah. Semoga kelak Allah berikan surga untuk semua pengorbanan dan perjuangan yang tak kenal lelah.
Al Fatihah.
Lampung, 29 Februari 2020
