Aku Senior dan Kamu Yunior Dakwah
Oleh : Cahyadi Takariawan
Tidak ada pembakuan soal posisi senior dan yunior dalam dakwah. Namun ternyata hitungan-hitungan keterlibatan dalam dakwah menjadi keniscayaan, semacam kondisi bawah sadar, yang ada dalam diri para aktivis. ”Saya lebih dahulu bergabung dengan organisasi dakwah ini daripada anda. Saya lebih senior dibanding anda. Di mata saya, anda masih anak kecil dalam organisasi dakwah ini”. Astaghfirullahal ’azhim.
Memang sejarah Islam memberikan penghargaan atas assabiqunal awwalun, yaitu orang-orang yang terdahulu masuk Islam. Mereka dicatat dalam lembaran sejarah emas, karena masuk Islam pada kondisi dimana mereka menemukan banyak sekali kesulitan. Sejarah dakwah Islam juga memberikan apresiasi kepada ahlul Bagar, yaitu para sahabat yang terlibat dalam perang Badar sebagai peperangan pertama yang dialami kaum muslimin.
Orang-orang senior selalu memiliki dua beban, pertama adalah beban sejarah, bahwa sejarah pertumbuhan dakwah di masa awal dikaitkan dengan para mu’assis sebagai perintis dakwah di masa-masa sulit. Kedua beban keteladanan, dimana orang-orang senior selalu dilihat bahkan dijadikan sebagai parameter segala sesuatu. Orang-orang yunior menempatkan para senior minimal dalam dua posisi tersebut.
Inilah sulitnya menjadi senior, dan rumitnya menjadi yunior. Sesungguhnya baik yang senior dan yunior tidak menghendaki adanya sekat-sekat senioritas atau yunioritas dalam pergerakan dakwah. Namun justru karena adab dan akhlaq Islami, mengajarkan pengormatan kepada yang lebih tua dan kasih sayang kepada yang lebih muda. Suasana khas itu terbentuk dengan sendirinya, tidak dibuat-buat. Secara alamiah dan naluriah, kita akan cenderung menghormati kader-kader senior, karena ada ikatan sejarah dan ikatan keteladanan dari mereka.
Bentuk implikasinya, jika dalam suatu majelis para senior sudah berpendapat, biasanya cenderung didukung oleh kader yunior. Ucapan dan pendapat senior seperti mendapatkan peniliaian yang lebih, padahal pendapat mereka juga bisa salah, bisa dibantah, dan bisa diluruskan. Ketia senior mengatakan “Tidak setuju”, seakan akan sudah menjadi harga mati bahwa sebuah kegiatan tidak bisa dilaksanakan. Berbeda jika kalimat “tidak setuju” tersebut berasal dari pendapat yunior.
Penjagaan sikap para senior menjadi sangat penting dalam kondisi dan iklim yang khas ini. Para senior harus bisa memberikan ruangan kepercayaan yang besar kepada yunior untuk berkembang tanpa merasa ada kungkungan dan pengawasan yang berlebihan. Jika para senior memberikan ruangan psikologis yang nyaman bagi yunior, akan memperlancar proses regenerasi dan kaderisasi kepemimpinan dakwah.
Kita bisa menengok kembali catatan emas sikap panglima perang senior, Khalid bin Walid, tatkala mendapatkan surat penggantian dirinya dari Khalifah Umar bin Khathab. Surat Khalifah jelas dan tegas menyatakan penggantian posisi Panglima Perang dari Khalid bin Walid kepada Abu Ubaidah yang jauh lebih yunior dari dirinya.
Harusnya, surat Khalifah yang tiba-tiba itu mengagetkan dirinya. Mestinya, penggantian yang tiba-tiba itu menghentakkan kehormatannya. Tidak bagi Khalid ! Ia tidak kecewa, tidak menolak, tidak menentang perintah Khalifah. Saat itu juga ia siap berperang di bawah kepemimpinan yang baru. Yuniornya. Ia tidak mempertanyakan atau mempersoalkan keputusan tersebut.
Pesan Khalid kepada kurir pembawa surat itupun sederhana. “Jangan ceritakan isi surat ini kepada siapapun”.
Luar biasa Khalid bin Walid. Ia diganti dari posisi Panglima Perang justru ketika tengah di puncak kematangan dirinya. Ia panglima, ahli strategi perang, ahli menunggang kuda, pandai memimpin pasukan, dan telah memiliki reputasi sukses yang panjang. Bisa saja ia mempertanyakan soal penggantian ini, dan soal kapasitas penggantinya. Tapi itu tidak dilakukan Khalid. Ia panglima, namun juga prajurit yang tangguh.
Khalifah Umar mengganti posisi Khalid bukan tanpa alasan dan pertimbangan dakwah. Kharisma Khalid bisa menjadi sebuah mitos dan kultus bagi pasukan Islam. Ini akan menjadi kondisi yang tidak sehat, jika kaum muslimin bergantung hanya kepada seseorang dan tidak siap dipimpin oleh yang lain. Namun Khalid memang prajurit Islam sejati. Keikhlasannya berjuang tidak diragukan lagi. Turun pangkat dari panglima menjadi prajurit biasa bukan soal bagi dirinya. Ia siap berperang di bawah kepemimpinan penggantinya.
Yogyakarta, 2016
