Membina Gen Zillenial : Mendampingi Mereka Memasuki Masa Dewasa
Serial Arabika : Ajak, Rangkul, Bina, Kawal
@ Wijaya (Pembina Gen Z)
.
Membina 12 UPA. Saat ini saya membina 12 kelompok UPA dengan jumlah total 123 orang. Ditambah membina 3 kelompok Majelis Taklim dengan jumlah anggota 120 orang.
Ternyata dunia MiZi (Milenial – Zillenial) lebih seru. Bisa dibilang saya harus mendampingi binaan yang sebagian dari mereka sama usianya dengan saya.
Tapi justru di situlah saya menemukan jati diri. Menjadi Pembina, kita dituntut untuk lebih dewasa dari usia kita sesungguhnya.
Saat ada binaan yang datang dengan persoalan khas remaja, kita harus sigap dengan berbagai solusi. Padahal mungkin kita juga masih memiliki masalah yang sama. Yah di situlah justru letak uniknya.
Tidak jarang mereka menganggap kehadiran kita bukan hanya sekedar “Mentor”, tapi “Ayah”. Bahkan saya pernah mendapatkan sebuah quote dari binaan saya yang sesama Millenial.
“Kita menemukan sosok Bapak di liqo ini ya….”, Wah saya jadi makin berbunga-bunga. Dan faktanya, saat itu saya masih belum menikah.
Menakjubkan saat kita ikut menghantarkan mereka sampai ke jenjang pernikahan. Alhamdulillah sudah puluhan binaan yang saya antarkan sampai ke jenjang itu.
Mengagetkannya adalah saat mereka secara bergantian “menuntut” saya untuk hadir di momen spesial itu, menjadi saksi dan turut memberikan nasihat pernikahan.
Mulai dari Aceh, Medan, Lampung, Jawa sampai Makassar dan Kalimantan. Bahagianya kita turut menjadi bagian dari puzzle kehidupan mereka.
_
Cerita unik lainnya… Saya sadar, dalam tarbiyah kita jangan mengedepankan sifat “ketokohan” kepada binaan kita. Maksudnya jangan sampai binaan kita “ketergantungan” hanya kepada kita. Karena perihal ketokohan tadi yang kadung terbentuk.
Ada momen dimana saya sangat kesulitan dalam mentransfer binaan ke kelompok lain. Dan uniknya ini justru hadir dikelompok usia senior (up to 50 years old) hehehe…
Salah satu kelompok UPA yang saya bina adalah para pensiunan BUMN. Usianya rata-rata diatas 45-50 tahun. Bahkan ada yang sudah mencapai 60-an tahun.
Kelompok ini kebagian waktu malam hari, tepatnya malam Jumat. Karena kesibukan saya maka UPA dimulai jadi bakda Isya.
Pernah karena saya ada lembur, mereka rela menunggu sampai jam 11 malam. Nah karena pertimbangan waktu dan saya memikirkan kesehatan mereka, maka saya berinisiatif untuk memindahkan dengan Pembina lain.
Waktu terus berlalu. Setelah kira-kira 3 bulan dari peristiwa mutasi itu, saya bertemu dengan teman yang saya minta membina beliau-beliau ini.
“Afwan Ustadz, bagaimana kelompok bapak-bapak? InsyaAllah lancar ya perjalannya?” tanya saya
“Ah, gimana ya. Ane sebenarnya sejak awal pertemuan baru sekali itu datang membina mereka”.
Mendengar jawaban itu saya kaget dan saya langsung memutuskan untuk mendatangi salah satu anggota kelompok itu.
Ternyata mereka tidak mau dipindah pembina. Tidak mengapa jadwal berubah-ubah, jadwal tengah malam, asal liqo tetap sama saya.
Ada lagi cerita penuh makna, namun justru menjadi motivasi dan gairah saya dalam membina. Di antara yang saya bina, ada beberapa kelompok yang isinya adalah Anak Anggota.
Orang tua mereka adalah kader dakwah. Salah seorang “senior” menelepon saya dan mengatakan, “Akhi ini gimana sih anak saya shalat Subuh kesiangan mulu, antum didik yang benar dong, antum kan Murrabinya… “
Hmmm. .. Okelah, rupanya saya harus makin sayang sama anak-anak itu, makin rindu setiap pekan, makin membuncah rasa untuk berjumpa.
Semoga Allah menjaga hati-hati dan keistiqamahan kita.
#SerialArabika #TahunRekrutmenMasif #RekrutmenTarbawi #IndonesiaMembina
