Nekat Fi Sabilillah: Catatan Kecil tentang Lahirnya Sebuah UPA
Serial Arabika – Ajak, Rangkul, Bina, Kawal
Oleh : R. Irwan Waji (Pembina 6 Kelompok UPA – Makassar)
.
Ini kisah lama. Saat saya tinggal di sebuah wilayah pinggiran Kota Makassar. Istilah pinggiran kota tidak hanya mewakili sebuah teritorial, tetapi sering kali juga merepresentasikan kondisi sumber daya manusia yang “pinggiran” dalam arti tertentu.
Akses ilmu tidak terlalu luas, tradisi belajar belum terlalu kuat, dan model pengajian yang berkembang masih bersifat umum.
Namun saya juga memahami bahwa dakwah ini harus lahir dan bertumbuh di mana pun para aktivisnya berada. Karena itu saya sering berpikir, bagaimana menghadirkan pembinaan rutin di tengah masyarakat dengan corak sosial seperti ini.
Hingga suatu saat muncul sebuah ide sederhana: melakukan safari shalat Maghrib dari masjid ke masjid di sekitar wilayah kelurahan tempat saya tinggal.
Saya mulai menjalankan kebiasaan itu. Setiap waktu Maghrib saya berpindah dari satu masjid ke masjid lain dengan harapan bisa berkenalan dengan jamaah dan menemukan orang-orang yang mungkin tertarik dengan gagasan pengajian model seperti ini.
Suatu hari, ada seorang ikhwah yang bersedia memfasilitasi dan menyambungkan ide saya dengan salah seorang jamaah masjid yang berada tidak jauh dari rumahnya. Namun bentuk pengajian yang diinginkan ternyata bukan halaqah kecil seperti yang saya bayangkan. Mereka mengusulkan agar diadakan taklim ba’da Maghrib sampai Isya di masjid, terbuka untuk umum, dengan jamaah laki-laki dan perempuan.
Terus terang, tawaran itu menjadi tantangan besar yang hampir mematikan niat saya. Sebab pengajian model seperti ini biasanya diisi oleh “ustadz kabir” yang kafa’ah secara syar’i, yang menguasai berbagai persoalan fikih yang biasa dihadapi masyarakat.
Sementara saya? Bahasa Arab tidak menguasai. Pengalaman mengisi majelis taklim belum pernah. Bahkan bacaan Al-Qur’an sendiri masih perlu diperbaiki tajwid dan makhrajnya.
Namun akhirnya saya mengambil keputusan yang terdengar sederhana, tetapi pada saat itu terasa sangat besar bagi saya: “Nekat fī sabīlillāh.”
Deal ! Saya menyatakan kesiapan diri.
Hari yang ditentukan pun tiba—hari launching pengajian taklim ba’da Maghrib sampai Isya. Perasaan saya benar-benar tidak karuan. Godaan untuk mangkir dari kesepakatan mulai bekerja.
Saya keluar dari rumah, tetapi tidak langsung menuju masjid tujuan. Saya justru mampir di sebuah masjid terdekat untuk mengambil nafas dan bernegosiasi ulang dengan diri sendiri. Apakah proyek dakwah ini dihentikan saja? Atau tetap diteruskan? Benar-benar sebuah peperangan dahsyat di dalam diri saya.
Menjelang adzan Maghrib dikumandangkan, akhirnya keputusan itu lahir. Lanjut ! Sebuah keputusan yang nekat. Apa pun risikonya. Yang penting janji harus saya tunaikan.
Saya tiba di masjid tujuan persis ketika shalat Maghrib akan ditunaikan secara berjamaah. Setelah shalat selesai, para jamaah berdzikir. Sebagian menunaikan shalat sunnah ba’diyah, lalu satu per satu mereka mulai meninggalkan masjid.
Saya memperhatikan dengan seksama. Satu orang pulang. Yang lain menyusul. Kemudian beberapa orang lagi.
Hingga akhirnya jamaah yang tersisa hanya sekitar lima atau enam orang, semuanya laki-laki. Perasaan saya langsung plong. Rasanya seperti menghadapi sebuah eksekusi hukuman yang tiba-tiba dianulir.
Saya menduga bahwa kemungkinan besar acara launching pengajian ini memang tidak akan terlaksana karena kegiatan ini tidak diumumkan secara luas oleh pengurus masjid. Mengapa ? Mungkin juga karena ustadz yang akan menjadi narasumber tidak dikenal sehingga kurang memiliki daya tarik.
Kami pun berbincang dengan jamaah yang tersisa untuk mengevaluasi mengapa acara ini tidak berjalan sebagaimana rencana. Namun bagi saya, kegagalan acara itu bukanlah poin yang paling penting. Yang paling penting adalah bagaimana membentuk sebuah halaqah.
Di situlah saya merasakan pertolongan Allah. Tibalah saatnya jurus andalan dikeluarkan !
Saya menawarkan kepada mereka sebuah model pengajian yang berbeda: pengajian terbatas, santai, tidak terburu-buru, dengan suasana yang lebih akrab. Saya mengusulkan agar pengajian dipindahkan ke rumah setelah shalat Isya.
Setelah saya menjelaskan tentang konsep halaqah dan manfaatnya, ternyata mereka sangat tertarik. Bahkan mereka merasa model seperti ini justru lebih menarik dibandingkan pengajian umum yang sifatnya satu arah.
Walhasil, dari sebuah acara yang tampak seperti kegagalan, lahirlah sebuah forum pembinaan rutin di tengah masyarakat –yang sebelumnya saya anggap hampir mustahil.
Allah berfirman,
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا
“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (QS. Al-‘Ankabut: 69)
Di sini kita bisa memahami makna taqwa secara lebih dalam dan luas. Bahwa jalan keluar yang Allah siapkan bagi orang yang bertaqwa bukanlah sesuatu yang turun tanpa usaha. Jalan keluar itu dititipkan pada kesungguhan perjuangan, pada keberanian melangkah meskipun dengan segala keterbatasan.
Dan ketika seorang hamba benar-benar bersungguh-sungguh, Allah akan membukakan jalan yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.
Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.
*) Saat ini R. Irwan Waji membina 6 Kelompok UPA setiap pekan. Dengan jumlah peserta 50 orang. Terdiri beragam kalangan, sejak tukang ojek online hingga Anggota DPR-RI, DPRD Propinsi dan Kab/Kota. Dari pedagang keliling hingga pebisnis omset 3 milyar perbulan. Dari Guru SD hingga Dosen Universitas. Dari guru mengaji hingga pemilik pondok pesantren. Dari karyawan biasa hingga direktur Kepala Bagian Rumah Sakit
**) Anda membina berapa kelompok UPA? Coba tuliskan kisahnya.
#TarbiyahItuMudah #TahunRekrutmenMasif #SerialArabika #IndonesiaMembina
