“Ke Mana Saja Selama Ini, Kok Baru Sekarang Membina Kami?”
Serial Arabika – Ajak, Rangkul, Bina, Kawal
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Namanya Dyah Retno Savitri, tinggal di Kabupaten Lamongan. Saat ini berusia 53 tahun, dikaruniai 4 anak. Aktivitas sehari-hari bekerja wiraswasta.
Membina beragam kalangan. Bu Dyah mengawali kegiatan pembinaan sejak pindah ke kota Lamongan tahun 1998. Dimulai dari membina siswi SMA dan mahasiswi, lalu merambah ke para karyawan, profesional dan juga ibu rumah tangga.
Tiada hari tanpa pembinaan. Saat ini setiap pekan ia membina 6 kelompok UPA ditambah 1 majelis taklim. Amanah struktural sebagai anggota Komdis DED PKS Kabupaten Lamongan.
Berangkat dari kegelisahan. Ia aktif melakukan pembinaan berawal dari sebuah kegelisahan. Bu Dyah melihat masih banyak ibu-ibu belum bisa membaca Al-Qur’an atau belum lancara dan belum benar dalam membaca Al-Qur’an. Ia merasakan empati, sehingga tergerak untuk melakukan pembinaan.
Memulai dengan mengajar Al-Qur’an. Dengan ilmu tahsin yang ia miliki, digunakan untuk mengajak para muslimah belajar memperbaiki bacaan. Awalnya hanya 5 sampai 7 orang, lama-lama bertambah banyak yang ingin ikut belajar.

Mengapa tidak dari dulu? Semakin banyak mengajarkan Al-Qur’an, semakin besar pula rasa bersalah muncul dalam dirinya. “Mengapa tidak mengajak ibu-ibu ini dari dahulu?” Demikian rasa penyesalannya. Namun lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Bertambah sedih. Salah satu hal yang membuat dirinya semakin sedih adalah pernyataan ibu-ibu peserta pembinaan. Di forum pembinaan pekanan, ia sering bertanya “Ke mana saja ibu-ibu selama ini, hingga sudah usia segini belum bisa membaca Al-Qur’an?”
Ke mana saja ustadzah selama ini? Pertanyaan ini berbalik seperti bumerang. Mereka kembali bertanya, “Ustadzah ke mana saja sih selama ini, kok baru membina kami di usia senja begini?” Pertanyaan yang sangat memukul secara mental.
Banyak yang ingin dibina. Rupanya banyak orang di luar sana yang siap mendapat pembinaan, namun tidak ada yang mengajak. Ini menjadi bahan introspeksi bagi kita semua. Jangan enggan untuk memulai mengajak orang-orang dekat untuk mengikuti pembinaan.
Mulai bergerak. Dari keprihatinan tersebut, bu Dyah berusaha mengajarkan Al-Qur’an. Sejak dari belajar membaca dari awal, memperbaiki bacaan, menghafal ayat-ayat Qur’an, hingga memahami kandungan Al-Qur’an. Dari pengajaran Al-Qur’an ini, sekaligus menjadi sarana untuk menanamkan aqidah, akhlaq serta ibadah. Inilah hakikat pembinaan rutin di UPA pekanan.
Motivasi membina UPA. Motivasi Bu Dyah membina UPA adalah menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil ‘alamin. “Saya sudah merasakan nikmatnya berislam melalui pembinaan, maka saya pun ingin orang lain turut merasakan,” ujarnya.
Jadwal pelaksanaan UPA. Kegiatan UPA dilaksanakan setiap hari dari Senin hingga Sabtu. Sedangkan hari Ahad adalah jadwal membina MT. Tiada hari tanpa kesibukan membina. Hidupnya didedikasikan untuk pembinaan.
Pesan untuk para Pembina. “Membina bukan sekadar kewajiban, namun sebuah kebutuhan untuk menyampaikan risalah dan memperpanjang nilai amal kita”, ungkapnya. “Waktu kita terbatas energi kita terbatas maka tinggalkan jejak dengan membina”, lanjutnya.
Bekal utama. Menurut Bu Dyah, bekal utama menjadi Pembina adalah banyak belajar, jangan merasa puas dengan ilmu yang sudah dimiliki, cari referensi yang mencukupi. Karena dengan mengajar, kita akan banyak belajar, baik secara materi maupun mental.
Belajar mengelola emosi. “Bahkan secara alami kita akan belajar tetang mengelola emosi. Membina beragam usia dan kalangan, membuat harus pandai menata hati dan mengatur setelan emosi yang paling tepat dalam pembinaan”, ungkapnya.
Anda membina berapa kelompok UPA? Coba tuliskan kisahnya.
#TarbiyahItuMudah #TahunRekrutmenMasif #SerialArabika #IndonesiaMembina
