Tarbiyah Itu Mudah

Lulusan SMA, Tapi Membina Sarjana, Master, Doktor Bahkan Profesor

Bagikan

Serial ARABIKA – Ajak, Rangkul, Bina, Kawal

@ Cahyadi Takariawan

Namanya Khusnani Hayati. Biasa dipanggil Bu Una. Usia 54 tahun. Tinggal di Kota Solo. Suami Bu Una bernama Abdul Ghofar Ismail, Ketua BKAP DPW PKS Jawa Tengah.

Bu Una dikaruniai 6 anak, seorang menantu dan dua cucu. Sehari-hari beliau mengurus Yayasan Insan Mulia Surakarta. Juga sekaligus sebagai pengurus BKAP DPD PKS Kota Solo.

Beliau sangat produktif membina UPA maupun Majelis Taklim (MT). Dalam sepekan ada 23 kelompok pembinaan yang beliau laksanakan.

Apa rahasia produktif membina? Berikut 16 fakta terkait Bu Una.

Pertama, setiap pekan Bu Una membina 16 kelompok UPA. Ini jelas jumlah yang tidak sedikit. Setidaknya dalam sehari beliau membina 2 UPA.

Kedua, jumlah binaan 182 orang. Total peserta di forum UPA pekanan sebanyak 182 orang. Semuanya kaum ibu-ibu.

Ketiga, jadwal UPA. Setiap pekan, Bu Una mengelola waktu UPA dengan ketat. Hari Ahad ada 1 UPA, Senin ada 3 UPA, Selasa 2 UPA, Rabu 2 UPA, Kamis 2 UPA, Jumat 3 UPA, dan Sabtu 3 UPA.

Keempat, mengelola Majelis Taklim (MT). Selain membina UPA, Bu Una juga membina 7 kelompok MT. Ada yang sepekan sekali.dua pekan sekali, dan ada yang sebulan sekali. Dengan total jumlah peserta MT sebanyak 223 orang.

Kelima, membina total 405 orang. Jika dijumlah, total binaan Bu Una melalui UPA dan MT adalah 405 orang. Sebuah jumlah yang tidak sedikit untuk ukuran pendidikan informal.

Keenam, latar belakang keluarga. Sejak sekolah di bangku SMP, ia sudah mengajar madrasah. Ayahnya adalah seorang guru mengaji. Sepulang sekolah, sang ayah memintanya mengajar madrasah. Ini menjadi bekal yang kuat di kemudian hari.

Ketujuh, latar belakang pembinaan. Ia mulai berinteraksi dengan komunitas pembinaan sejak tahun 1991. Di tahun itulah Bu Una mulai bergabung dengan kelompok pembinaan intensif.

Kedelapan, membangun kepribadian. Dari forum pembinaan yang ia ikuti, Bu Una mulai memahami bahwa tidak cukup hanya dengan mengajar. Harus ada pembinaan intensif agar terbentuk kepribadian Islami (syaksiyah islamiyah) dan kepribadian da’i (syakhsiyah da’iyah).

Kesembilan, termotivasi dari surat Al-‘Ashr. Sejak kecil Bu Una sudah mendapatkan pengajaran surat Al-Ashr. Allah menyatakan bahwa semua manusia itu rugi, kecuali yang orang beriman. Namun orang beriman masih mengalami kerugian, kecuali mereka yang beramal salih. Orang beriman dan beramal salih masih mengalami kerugian, kecuali yang mau saling berwasiat (tawashau) dalam kebenaran maupun kesabaran. Dan itulah hakikat dakwah. Bu Una tidak ingin menjadi orang yang merugi.

Kesepuluh, usaha menolong diri sendiri. Bu Una meyakini, bahwa ketika kita membersamai orang lain dalam belajar dan mengenal Allah, sejatinya kita sedang menolong diri kita sendiri untuk meraih kemuliaan dan keselamatan. Dakwah itu artinya menolong diri sendiri di hadapan Allah.

Kesebelas, upaya menciptakan legacy. Bu Una selalu mengingat nasehat di awal hidup berumah tangga, bahwa dimanapun tinggal harus menciptakan peninggalan yang baik. Bu Una dan keluarga berpindah tempat tinggal (kontrakan) sampai 10 kali. Di setiap tempat yang ditinggali tersebut berusaha memberikan tinggalan (legacy) berupa lahan dakwah. Maka binaannya tersebar di berbagai kawasan.

Keduabelas, senang membersamai proses pembelajaran. Bu Una marasa tidak memiliki bekal keilmuan syar’i yang memadai, namun ia memiliki kesenangan membersamai orang lain dalam proses belajar Al-Qur’an. Dari sinilah embrio UPA mulai didapatkan.

Ketigabelas, setiap UPA punya cerita. Terbentuknya 16 UPA tersebut dengan cerita dan sejarah yang berbeda-beda. Terkadang membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan ada yang bertahun-tahun, untuk membentuk sebuah kelompok UPA. Bu Una sabar dan telaten membersamai prosesnya.

Keempatbelas, tidak menolak permintaan. Ketika ada ibu-ibu yang tergerak ingin belajar, Bu Una berusaha untuk tidak pernah menolak permintaan itu. Kecuali apabila waktu yang diminta berbenturan dengan kegiatan UPA yang sudah berjalan. Sepanjang tidak berbenturan waktu, semua permintaan pembelajaran selalu diterima.

Kelimabelas, peserta UPA beragam usia dan strata. Bu Una membina kelompok ibu-ibu muda, hingga kelompok lansia. Banyak di antara mereka yang sarjana, lulus S2, S3, bahkan ada yang Profesor. Padahal Bu Una hanya tamat SMA.

Keenambelas, masih berusaha menambah binaan. Saat ini Bu Una tengah melakukan pendekatan terhadap kelompok remaja untuk bisa rutin mengikuti pembinaan. Jika berhasil dikondisikan, berarti jumlah kelompok UPA yang dibina Bu Una bertambah lagi. Kita doakan agar berhasil usaha pendekatannya.

Anda membina berapa kelompok UPA? Tuliskan cerita Anda.

TarbiyahItuMudah

TahunRekrutmenMasif #SerialArabika #KisahUPA #UPAbercerita

Tinggalkan Balasan