kewajiban
Sastra Budaya

Ketika Menulis Menjadi Sebuah Kewajiban

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Ini karier Anda, ini kewajiban Anda, ini dunia yang Anda geluti, ini profesionalitas Anda. Kerjakan sendiri!”

Maafkan saya, jika tulisan kali ini tidak nyaman pada sahabat sekalian. Tapi saya sedang mencoba untuk merasionalisasi kondisi yang dihadapi beberapa sahabat —yang merasa ‘terpaksa’ menulis.

Mengapa terpaksa? Karena tugas. Karena kewajiban. Karena persyaratan.

Jika tidak dilakukan, berarti melalaikan tugas, berarti tidak melaksanakan kewajiban, dan tidak memenuhi persyaratan. Tidak bisa lulus, tidak bisa naik pangkat, tidak bisa menempati posisi tertentu.

Contohnya, menulis skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian tindakan kelas (PTK), penelitian tindakan sekolah (PTS), karya ilmiah untuk jurnal, dan lain sebagainya. Ini kudu, harus, wajib. Karena tugas, karena kewajiban, karena persyaratan.

Bukan soal mau atau tidak mau. Bukan soal suka atau tidak suka. Ini sesuatu yang harus dilakukan, sesuai dengan ketentuan.

Anda tidak akan lulus S1, jika tidak mau menulis skripsi —-sepandai apapun diri Anda. Demikian pula, Anda tidak akan lulus S2, jika tidak mau menulis tesis —sehebat apapun diri Anda. Bagi para guru, Anda tidak akan naik pangkat / golongan, jika tidak mau menulis laporan PTK, sebagus apapun kualitas mengajar Anda.

Menulis Sesuai Ketentuan

Untuk tipe tulisan yang kudu, harus, dan wajib ini — maka tak ada cara lain : kerjakan sesuai ketentuan. Tutup mata, tutup telinga, atas ketidaknyamanan Anda sendiri dalam mengerjakannya. Anda harus melakukan, demi menjalankan tugas.

Anda tidak harus mengerjakan dengan hati —jika memang itu tidak sampai hati Anda. Mungkin hanya sampai tangan Anda, okay, kerjakan saja. Abaikan teori ‘menulis dengan hati’ atau ‘menulis dengan ketajaman emosi’.

Namun, ada catatan sangat penting dari saya. Kerjakan sendiri tugas Anda. Jangan ‘menjahitkan’ pada ‘tukang jahit; di luar sana. Ini karier Anda, ini kewajiban Anda, ini dunia yang Anda geluti, ini profesionalitas Anda. Kerjakan sendiri!

Sangat berat pertanggungjawaban Anda, jika ‘menjahitkan’. Niatkan dalam diri, kerjakan sesuai kemampuan. Mungkin tidak ideal, mungkin dianggap ecek-ecek —namun karya sendiri. Tulisan sendiri. Hasil jerih payah sendiri.

Sekarang saatnya Anda menerapkan prinsip ‘menulis sesuai ketentuan instansi’. Lalu, bagaimana melakukannya?

  • Pahami dan kuasai ketentuan

Jika Anda harus menulis disertasi untuk kelulusan S3, pahami dan kuasai ketentuan penulisan dengan detail. Anda harus mengerti bagian apa saja yang harus ada, bagaimana cara menuliskannya, dan sebagainya. Jangan sampai susah-susah Anda mengerjakannya, eh ternyata tidak sesuai ketentuan.

Demikian pula para guru yang kudu menuliskan laporan PTK serta kepala sekolah yang kudu menuliskan PTS. Pahami duli ketentuan pembuatannya secara detail. Anda harus sangat memahami aturan, karena sebagus apapun tulisan Anda akan tertolak jika tidak sesuai ketentuan.

  • Pilih yang paling mudah bagi Anda

Setelah Anda memahami ketentuannya, pilihlah tema yang paling mudah bagi Anda untuk mengerjakannya. Saya ingat saat ‘terpaksa’ harus menulis skripsi. Awalnya saya diarahkan untuk melakukan penelitian laboratorium, ternyata itu sulit bagi saya.

Maka saya ajukan keberatan, dan akhirnya saya disetujui untuk melakukan penelitian lapangan. Saya enjoy dengan penelitian lapangan, dan ini yang membuat saya sangat cepat menyelesaikannya. Masalah penelitian selesai, tinggal menuliskannya.

Jadilah skripsi saya, karena memilih yang paling mudah. Ini bukan ‘menulis dengan hati’, namun ‘menulis sesuka hati’. Yang penting skripsi jadi dan bisa lulus ujian pendadaran.

  • Rencanakan tindakan yang harus Anda lakukan

Anda sudah mengetahui ketentuan, sudah menentukan tema yang paling mudah, sekarang rencanakan tindakan yang akan Anda lakukan. Susun rencana kerja, buat time line untuk melaksanakannya, dan detailkan rencana Anda.

Jika Anda guru yang harus melakukan PTK, maka rancanglah desain penelitian Anda. Kapan melakukannya, dimana, bagaimana? Semua harus sudah terencana, agar mudah dalam menjalankannya nanti sesuai time line.

  • Konsultasi kepada ahli

Apa yang Anda rasakan paling sulit dalam proses mengerjakan tugas tersebut? Pada proses penelitiannya, atau pengolahan hasil penelitian, atau dalam penulisan? Konsultasikan kepada ahli yang sesuai dengan jenis kesulitan tersebut.

Kembali pada cerita saya soal skripsi di atas. Setelah selesai penelitian lapangan, problem berikutnya muncul dari pengolahan statistik. Saya tidak menguasai ilmu statistik, padahal harus digunakan untuk mengolah data penelitian. Saya putuskan kursus kilat statistik kepada kakak kelas yang saya ketahui ahli statistik.

Ajaib, di bawah bimbingan kakak kelas, saya menjadi menguasai ilmu statistik. Padahal saat kuliah, saya mendapat pelajaran dua semester ilmu statistik dan tidak paham. Hanya dengan beberapa kali pertemuan dengan kakak kelas, mendadak saya ahli statistik.

Saat ujian skripsi, saya sangat lihat dan detail menjawab pertanyaan dosen pembimbing ketika mereka menanyakan pengolahan data. Sampai seorang dosen saya menjadi penasaran, bagaimana ‘tiba-tiba’ saya menjadi ahli statistik?

Sang dosen ini minta saya mengajari beliau untuk ilmu statistik. Keren, usai ujian skripsi saya menemui beliau untuk mengajarkan ilmu statistik. Dari kursus beberapa pertemuan, saya bisa mengajari dosen.

  • Mulai eksekusi

Setelah berkonsultasi, dan Anda mulai semakin mengerti tentang peta proses, segera eksekusi. Jangan menunda waktu lagi, makin cepat Anda mengerjakannya, makin bagus. Ingat, ini bukan menulis dengan hati, namun menulis sesuka hati, yang penting sesuai ketentuan.

Mengapa bukan menulis dengan hati? Soalnya Anda tidak bisa bebas berekspresi di sini. Ini tugas, suka atau tidak suka, ingin atau tidak ingin. Tulislah, dan segera tuntaskan.

  • Batasi waktu Anda

Anda harus memiliki target waktu. Berapa lama proses penulisan akan Anda lakukan. Tentu Anda harus mencermati adakah deadline, karena terkait batas waktu pengajuan. Jika ada deadline, semakin asyik lagi.

Misalnya Anda memiliki waktu sebulan untuk menulis. Dalam sebulan tersebut, Anda harus semakin efektif membagi-bagi waktu per satuan pekerjaan harian. Pukul berapa tidur, pukul berapa bangun, pukul berapa kerja, pukul berapa menulis, dan seterusnya.

Efektifkan waktu saat Anda telah berada dalam sesi menulis. Jangan ada gangguan apapun, sehingga benar-benar Anda berkonsentrasi hanya untuk menyelesaikan kewajiban tersebut.

Kalau Anda ditanya, apa yang sedang Anda lakukan? Jawablah, saya sedang melaksanakan tugas. Sedang menjalankan kewajiban. Ya, Anda memang tidak sedang menulis. Sungguh Anda sedang menjalankan kewajiban.

Selamat menjalankan kewajiban. Meskipun terpaksa, namun ini demi kebaikan diri dan instansi Anda. Lakukan dengan sepenuh kesungguhan dan sepenuh kedisiplinan. Demi masa depan.

8 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Artikel ini telah dilihat : 293 kali.