copyeditor
Sastra Budaya

Apa Perbedaan Penyunting dan Editor Buku?

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Selama ini, secara sederhana kita menyebut penyunting itu sama saja dengan editor. Kita juga menyamakan antara aktivitas menyunting dengan mengedit. Namun Pamusuk Eneste (2017) membedakan keduanya, terutama dalam penerbitan buku.

Menurut Pamusuk, penyunting adalah kopieditor, yaitu pembantu editor. Ketika naskah buku diterima oleh penerbit, pertama kali naskah akan diserahkan kepada editor untuk dilakukan substantial editing. Editor akan melakukan proses edit secara substasi atau isi materi. Bukan soal teknis.

Mengenal Tugas Editor

Editor memiliki tugas yang sangat luas. Dalam dunia penerbitan buku, tugas editor sangatlah signifikan untuk menentukan kelangsungan penerbitan. Sebab, ada tidak adanya naskah di penerbit, merupakan tanggung jawab editor.

Tugas editor buku, menurut Pamusuk adalah:

  1. Merencanakan naskah yang akan diterbitkan oleh penerbit
  2. Mencari naskah yang akan diterbitkan
  3. Mempertimbangkan naskah yang masuk ke penerbit
  4. Menyunting naskah dari segi isi
  5. Memberi petunjuk / arahan kepada kopieditor

Menurut Pamusuk, editor banyak ‘keluar kantor’, karena harus mencari naskah yang akan diterbitkan. Ia tidak boleh pasif duduk menunggu naskah yang masuk ke penerbit, namun harus aktif merencanakan dan mencari naskah. Dengan demikian, penerbit akan selalu bisa memproduksi buku sesuai rencana.

Mengenal Tugas Penyunting

Setelah naskah disetujui oleh editor, berikutnya, naskah akan diserahkan kepada penyunting alias kopieditor. Di sini naskah akan mengalami mechanical editing. Penyunting melakukan tugasnya, untuk menyiapkan naskah siap diterbitkan menjadi buku dari segi teknis.

Tugas penyunting, menurut Pamusuk, lebih banyak kerja di kantor. Secara rinci, tugas penyunting adalah:

  1. Menyunting naskah dari segi kebahasaan
  2. Memperbaiki naskah dengan persetujuan penulis
  3. Membuat naskah enak dibaca dan tidak membuat pembaca bingung
  4. Membaca dan mengoreksi cetak coba (dummy)

Dari tugas tersebut, kita mengetahui ada sangat banyak kemampuan yang perlu dimiliki oleh penyunting. Tidak sembarang orang bisa menjadi penyunting naskah buku. Ada berbagai syarat yang harus dipenuhi untuk menjadi penyunting, antara lain:

  • Menguasai ejaan

Seorang penyunting naskah pada satu penerbit harus menguasai kaidah ejaan bahasa Indonesia yang baku. Untuk saat ini, aturan mengenai ejaan diatur dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI, sebagai pengganti dari aturan Ejaan yang Disempurnakan (EYD).

  • Menguasai tatabahasa

Seorang penyunting naskah dituntut menguasai tatabahasa Indonesia dalam arti luas. Diantaranya adalah susunan kalimat yang baik, kata-kata baku, dan lain sebagainya.

  • Bersahabat dengan kamus

Seorang penyunting naskah perlu akrab dengan kamus. Karena tidak mungkin dirinya bisa menguasai semua kata yang dalam berbagai macam bahasa. Itulah pentingnya kamus.

  • Memiliki kepekaan bahasa

Karena selalu berhubungan dengan ejaan, tatabahasa, dan kamus, seorang penyunting naskah pun dituntut untuk memiliki kepekaan bahasa. Dia harus tahu mana kalimat yang kasar dan kalimat yang halus, harus tahu kapan kalimat atau kata tertentu digunakan atau dihindari.

  • Memiliki pengetahuan luas

Seorang penyunting naskah dituntut untuk memiliki pengetahuan yang luas. Maka ia harus banyak membaca buku, membaca majalah, koran, dan menyerap informasi melalui berbagai media.

  • Memiliki ketelitian dan kesabaran

Seorang penyunting dituntut untuk tetap teliti dan sabar dalam melakukan tugasnya. Kalau tidak teliti, penyunting naskah bisa terjebak pada hal-hal yang merugikan penerbit di kemudian hari.

  • Memiliki kepekaan terhadap SARA dan pornografi

Seorang penyunting naskah harus peka terhadap hal-hal yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) serta pornografi. Jika tidak peka, buku bisa dipersoalkan ke pengadilan oleh pihak yang merasa dirugikan.

  • Memiliki keluwesan

Seorang penyunting berhubungan dengan penulis, maka ia harus memiliki sifat luwes atau supel. Apa yang dilakukan penyunting, mewakili citra penerbit.

  • Memiliki kemampuan menulis

Seorang penyunting suatu saat harus menulis surat/imel kepada penulis atau calon penulis naskah, menulis ringkasan isi buku (sinopsis), atau menulis biografi singkat (biodata) penulis.

  • Menguasai bidang tertentu

Sangat baik apabila seorang penyunting naskah menguasai salah satu bidang keilmuan tertentu. Misalnya ilmu sastra, jurnalistik, pendidikan, psikologi praktis, dan lain sebagainya. Ini sangat meunjang tugasnya.

  • Menguasai bahasa asing

Dalam menyunting naskah, seorang penyunting akan berhadapan dengan istilah-istilah bahasa Inggris atau istilah-istilah yang berasal dari bahasa asing lainnya.

  • Memahami kode etik penyuntingan naskah

Penyunting harus tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dilakukan dalam penyuntingan naskah. Jika penyunting tidak memahami Kode Etik Penyuntingan Naskah, ia bisa salah langkah atau salah sunting. Ini bisa merugikan banyak pihak.

Kode Etik Penyuntingan Naskah

Ada enam poin Kode Etik Penyuntingan Naskah yang wajib diperhatikan oleh para penyunting, yaitu:

  1. Penyunting naskah wajib mencari informasi mengenai penulis naskah sebelum memulai menyunting naskah.
  2. Penyunting naskah bukanlah penulis naskah.
  3. Penyunting naskah wajib merahasiakan informasi yang terdapat dalam naskah yang disunting.
  4. Penyunting naskah wajib mengonsultasikan hal-hal yang mungkin akan diubah dalam naskah.
  5. Penyunting naskah tidak boleh menghilangkan naskah yang akan, sedang, atau telah disunting
  6. Penyunting naskah wajib menghormati gaya penulis naskah.

Demikianlah beberapa penjelasan singkat mengenai penyunting dan editor, terutama dalam dunia penerbitan buku.

Bahan Bacaan

Pamusuk Eneste, Buku Pintar Penyuntingan Naskah, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2017

4 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Artikel ini telah dilihat : 348 kali.