Sastra Budaya

Kapan Menulis Buku Disebut Selesai?

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Saya sangat suka pertanyaan seorang Emak peserta Kelas Emak-Emak Punya Karya (EEPK), “Kapan menulis buku bisa disebut sudah selesai?” Empat puluh Emak ini, mereka tengah mengikuti bimbingan untuk membuat buku mandiri.

Di Kelas, selain saya berikan materi tentang cara membuat buku, juga langsung praktek menentukan tema, menentukan jenis tulisan, membuat outline buku dan memulai menulis. Mereka baru bisa mulai menulis untuk bahan buku apabila outline sudah mendapat persetujuan dari tim.

Nah, beberapa Emak bertanya kepada saya mengenai definisi selesai. Kapankah proses penulisan buku bisa disebut selesai?

Kapan Disebut Selesai?

Ada dua definisi “selesai” dalam proses pembuatan buku. Yang pertama adalah selesai secara substansi (substantial), dan yang kedua adalah selesai secara mekanik (mechanical). Kita lihat perbedaan keduanya.

Ketika Anda membuat buku, tentu dimulai dengan membuat perencanaan —apapun bentuk perencanaan ini. Misalnya, menggunakan kerangka tulisan atau outline, yang memandu proses pernulisan buku.

Ketika Anda sudah menetapkan outline, Anda harus segera menulis isi buku sesuai outline tersebut. Outline adalah panduan, sehingga jelas bahan yang harus Anda tulis. Setelah selesai semua Anda tulis, tugas Anda adalah membaca ulang semua bahan.

Ya benar. Anda harus membaca ulang semua yang sudah Anda tulis, dari awal sampai akhir. Bahkan berulang-ulang, bukan hanya sekali baca. Jika Anda merasa bahwa semua yang hendak Anda sampaikan kepada pembaca sudah  tertulis, berarti Anda sudah selesai secara substansi.

Artinya, seluruh substansi materi yang hendak Anda sampaikan, sudah tertuliskan dalam bahan buku. Tidak ada lagi pesan penting yang belum tertuliskan. Tak ada yang terlewatkan.

Untuk menyatakan selesai secara substansi, Anda benar-benar harus membaca secara teliti semua naskah yang Anda miliki. Jika masih ada yang belum tersampaikan, artinya secara substansi masih belum selesai dan Anda harus menambah pada bagian-bagian substansi yang belum tersampaikan.

Target Buku

Sebelum Anda memulai menulis buku, Anda sudah harus menentukan target akhir dari buku tersebut secara teknis. Misalnya, Anda ingin menulis buku setebal berapa halaman isi? Target ini penting Anda tetapkan agar memiliki progres dari hari ke hari.

Misalnya, Anda menargetkan menulis buku setebal 300 halaman. Anda juga menetapkan target waktu penyelesaian buku tersebut, misalnya 100 hari. Dengan demikian, setiap harinya Anda harus menulis bahan yang setara dengan tiga halaman isi buku.

Nah, ketika target tersebut telah tercapai, yaitu sebanyak 300 halaman isi, berarti Anda sudah selesai secara mekanik. Hasil akhir penulisan Anda sudah tercapai, yaitu sebanyak 300 halaman. Telah sesuai target yang Anda tetapkan.

Idealnya adalah, ketika Anda sudah mencapai penyelesaian secara substansi, juga sudah selesai secara mekanik. Demikian pula, ketika Anda sudah mencapai penyelesaian secara mekanik, juga sudah selesai secara substansi. Dengan demikian, semua substansi pesan sudah tersampaikan, sesuai target akhir yang Anda inginkan.

Jarak Mekanik dan Substansi

Pada prakteknya, selesai secara substansi dan selesai secara mekanik tidak selalu terjadi bersama. Hal ini disebabkan, saat menuangkan ide ke dalam tulisan, Anda lebih fokus kepada proses kreatif menulis itu sendiri. Tidak terlalu fokus dengan panjang pendek tulisan. Untuk itu, sebagai penulis Anda harus berusaha memadukan kedua kriteria selesai tersebut.

Masalahnya adalah, pertama, ketika selesai secara mekanik, namun belum selesai secara substansi. Masalah kedua, selesai secara substansi namun belum selesai secara mekanik. Keduanya adalah kondisi tidak ideal, dan harus mendapatkan penyelesaian.

Bagaimana cara mengatasi dua masalah ini? Ikuti pembahasan saya dalam postingan selanjutnya.

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Artikel ini telah dilihat : 248 kali.