just write
Sastra Budaya

Jangan Kebanyakan Mikir, Tulis Saja !

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan


James Whitfield Ellison, penulis novel The Summer After The War, ketika ditanya bagaimana ia bisa produktif menulis buku? Ia menjawab, “No thinking, that comes later. Jangan berpikir. Berpikir itu nanti saja”, jawabnya.

Waw. Inilah kunci produktif menulis ala Ellison. Terbukti, ia telah melahirkan puluhan novel laris. Apa kuncinya? Menulis dan terus menulis.

*****

Apa yang Anda bayangkan tentang sosok penulis? Apakah seorang lelaki berambut gondrong yang merenung di sudut ruang, sendiri berlama-lama memikirkan sesuatu? Apakah seorang perempuan dengan kaca mata tebal, yang merenung di kursi, dengan meja yang penuh berisi kertas-kertas?

Seakan, saking banyaknya berpikir, sampai seseorang tidak sempat merapikan rambut. Atau saking banyak berpikir, sampai kepala rambutnya habis. Menjadi botak karena menulis buku.

Mungkin ini bayangan orang pada umumnya tentang sosok penulis. Bahwa menulis buku harus berpikir keras. Harus menguras otak untuk menghasilkan karya tulis.

Kebiasaan terlalu banyak berpikir ini, akhirnya menimpa banyak penulis pemula. Mereka terlalu banyak menghabiskan waktu untuk berpikir. Akhirnya waktu habis, dan mereka tidak pernah menulis.

Saya harus sering mengingatkan para peserta Kelas Menulis Online, agar mereka tidak terlalu banyak berpikir. Tulis saja, karena kita adalah penulis. Tugas utama penulis adalah menulis.

Kelas yang saya asuh adalah Kelas Menulis. Jadi, tugas utamanya adalah menulis, menulis dan menulis. Kalau saya mengasuh Kelas Berpikir Online, maka tugasnya adalah berpikir, berpikir dan berpikir. Hasilnya adalah para pemikir.

*************

Banyak yang bertanya, kalau tidak berpikir, lalu bagaimana bisa menulis? Pertanyaan inipun sudah dijawab oleh Ellison. “Tulis dengan hatimu”, itu jawabannya.

You must write your first draft with your heart”. Kamu tulis draft pertama kamu dengan hati, ujar Ellison. Tuangkan perasaan, tuangkan isi hati, tuangkan apa yang ada di hatimu, dalam bentuk tulisan. Just do it. Tulis saja, mengalir.

Nyatakan keinginanmu, ungkapkan kata hatimu, sampaikan suara jiwamu, melalui tulisan. Ini adalah mengungkapkan hal-hal yang ada dalam jiwa kita. Sesuatu yang semua manusia memilikinya. Tak perlu berpikir mencar-cari.

You rewrite with your head”, ujar Ellison. Setelah selesai menulis, kamu menulis ulang (mengedit) dengan pikiranmu. Nah, mengedit inilah pekerjaan yang harus banyak berpikir.

Menulis itu mengalirkan suara hati, mengalirkan suara jiwa, mengalirkan rasa, melalui kata-kata. Tuliskan apa yang ada dalam diri kita. Ini akan menjadi pekerjaan yang sangat mudah, karena bahannya ada dalam diri kita sendiri.

***************

Tentu saja, awalnya harus direncanakan. Membuat outline, membuat kerangka atau plot cerita. Ini juga mengalir saja. Jangan berlama-lama memikirkan outline.

Bikin rencana tulisan atau kerangka, dengan santai. Dengan jiwa. Beri sentuhan seni dalam kerangka tulisan Anda. Lalu mulai isi kerangka tulisan itu.

Menulis itu seperti bernapas. Tidak berpikir. Apakah Anda pernah menghitung berapa kali Anda bernapas hari ini? Anda tidak pernah menghitung. Kenapa demikian? Karena bernapas itu tidak berpikir.

Jika Anda berpikir untuk bernapas, Anda akan justru kesulitan bernapas. Anda akan sesak napas.

Maka kunci sukses menulis menurut Ellison adalah —langsung menulis. Bukan berpikir. “The first key to writing is… to write, not to think!” Demikian rumus Ellison.

Jika Anda terlalu banyak berpikir, Anda akan dibuat sesak napas. Tidak bisa menulis lagi. Tak pernah menghasilkan karya.

**********

Di antara hal yang menggelayuti pikiran para penulis pemula adalah, apakah tulisanku sudah benar? Apakah kata-kata yang aku gunakan sudah sesuai KBBI? Apakah ini kata baku atau tidak baku? Apa struktur kalimat ini sudah benar?

Saking seriusnya memikirkan tata bahasa, sampai tidak menulis. Saking seriusnya memikirkan, apakah kata-kata yang digunakan baku atau tidak, sampai tidak berani menulis. Saking takut salah tulis, sampai tidak berani menulis.

Sudahlah, menulis saja, pasti Anda akan menghasilkan karya. Menulis saja, karena Anda adalah penulis. “The first key to writing is… to write, not to think!”

Seperti yang saya lakukan dengan tulisan ini. Tulis saja, jangan mikir. Anda tahu, kata mikir itu tidak ada di KBBI. Tapi tulis saja. Mengapa? Karena kita penulis.

Jika ada kesalahan tulis, kesalahan dari sisi PUEBI dan KBBI, bisa diedit dan dibenarkan nanti. Tapi Anda tidak bisa membenarkan apa-apa jika tidak menulis. Anda tidak bisa mengedit apapun, kalau tidak ada yang ditulis.

Maka tulislah, jangan banyak mikir.

9 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Artikel ini telah dilihat : 340 kali.