Sastra Budaya

Cerpen (Sejatinya) Pendek

Bagikan

Oleh : Zulfaisal Putera

Salah satu ciri yang melekat pada cerita pendek (cerpen) adalah terbatasnya jumlah kata dan halaman. Hal ini terus menjadi pertanyaan jika seseorang penulis ingin menulis sebuah cerpen atau ingin memastikan apakah cerita yang ditulisnya termasuk cerpen. Saking  perhatiannya seorang penulis cerpen terhadap batasan jumlah kata, sampai-sampai lupa mencermati unsur lain dari cerpen yang juga penting, seperti ketunggalan pikiran, konflik,  dan nasib tokoh yang takberubah.

Cikal bakal munculnya cerpen bermula dari sebuah anekdot yang populer pada masa Kekaisaran Romawi. Saat itu, anekdot berfungsi sebagai perumpamaan, sebuah cerita realistis yang singkat, yang mencakup satu pesan atau tujuan. Tradisi ini berkembang di Eropa pada awal abad ke-14, dengan terbitnya anekdot lucu karya Geoffrey Chaucer Canterbury Tales dan karya Giovanni Boccaccio  Decameron, sampai mengalami metamorfose pada abad ke-19 menjadi bentuk cerpen modern, seperti karya Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara (1824-1826). Semua karya saat itu menggambarkan cerpen sebagai karya miniatur.

Edgar Allen Poe (1809-1849) yang dikenal sebagai bapak cerpen modern, dalam esainya “The Philosophy of Composition” (1846)  memberikan garis yang jelas bahwa cerpen adalah cerita yang habis dibaca dalam sekali duduk. Jika merujuk kepada jumlah kata, maka cerpen merupakan karya fiksi yang panjangnya tidak lebih dari 20.000 kata dan tidak kurang dari 1.000 kata. Cerpen yang kurang dari 1.000 kata tergolong pada genre fiksi kilat (flash fiction), sedangkan yang melampaui  batas maksimum digolongkan kepada novel.

Dalam Lima Hukum Menulis Cerpennya, Poe, mengibaratkan cerpen sebagai selembar kain ketat, tak banyak memberikan kelonggaran. Cerpen juga mempunyai satu pikiran utama dan aksi yang dikembangkan dalam satu garis. Tiada ruang dalam cerpen untuk memaparkan serbaneka kejadian atau serba detil karakter seperti pada novel. Sekalipun sebagai karya rekaan, cerpen tetap harus tampak nyata hingga tak kentara fiksi dan imajinasinya. Dan cerpen, menurut Poe, harus memberi kesan tuntas, rampung pada satu titik.

Batasan inilah yang menjadi pegangan para penulis cerpen, apalagi jika terkait dengan syarat dimuatnya cerpen di media massa, koran dan majalah, khususnya. Keterbatasan kolom dan halaman menjadikan redaksi media massa, dengan spesifikasi masing-masing, telah menyiapkan sejumlah rambu agar cerpen tersebut bisa dimuat. Ada media yang suka menyajikan cerpen yang panjang memenuhi satu halaman, tetapi ada juga yang hanya setengah, bahkan sepertiga halaman. Hal ini juga tampaknya menjadi kebijakan redaksi Balairung, halaman Sastra dan Budaya Banjarmasin Post dalam menentukan kelayakan dimuatnya sebuah cerpen.

Sejatinya cerpen memang harus pendek, paling tidak mengambil ukuran batas bawah sekitar 1000 kata atau dua halaman quarto. Pembaca koran dan majalah yang menghadapi banyak lembaran halaman dan materi, serta dengan keterbatasan waktu baca, harus benar-benar bisa ditarik minatnya membaca cerpen. Suguhan cerpen yang pendek dan unsur-unsur lainnya yang terpenuhi tentu akan menjadi daya tarik tersendiri. Menarik mata pembaca agar melek ke karya sastra bukanlah pekerjaan mudah. Namun, tak salah jika dimulai dengan menyajikan cerpen-cerpen yang pendek. (Zf)

Zulfaisal Putera, Cerpen (Sejatinya) Pendek, www.kompasiana.com, 24 Juni 2015

Tinggalkan Balasan

Artikel ini telah dilihat : 70 kali.