anakku guru istimewa
Sastra Budaya

Bersikap Nyaman Saat Harus Menghadapi Ketidaknyamanan

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

Dalam kehidupan sehari-hari, orangtua selalu berusaha untuk menemani anak-anak, dan membimbing mereka menuju kesuksesan dunia akhirat. Tatkala anak masih kecil, mereka kadang rewel karena berada dalam suasana yang tidak nyaman.

Misalnya, saat berada di bus umum atau KRL yang penuh sesak. Suasana panas, ramai, dan lama di dalam bus atau KRL, kadang membuat anak rewel. Orangtua akan berusaha menenangkan dan menghibur dengan berbagai macam cara.

Kadang orangtua harus merogoh kocek, mengeluarkan uang untuk membeli es krim atau makanan anak-anak. Bahkan tak jarang ‘terpaksa’ membelikan mainan anak yang harganya cukup mahal. Semua dilakukan, demi bisa menenangkan anak-anak.

Namun ternyata tidak semua anak berlaku seperti itu. Ada pula anak yang pandai menghibur diri sendiri. DI saat merasa suasana tidak nyaman, ia bisa melakukan tindakan yang bisa menyenangkan diri sendiri. Tidak perlu rewel, apalagi sampai menyusahkan orangtua.

Lebih hebat lagi, ada anak yang justru bisa menghibur orangtua, di saat mengalami suasana yang tidak menyenangkan. Inilah yang terjadi pada Muaz (9 tahun). Muaz adalah singkatan dari Muhammad Alif Zain.

Saat itu, Muaz bersama sang ayah sedang mengendari bus umum jarak jauh. Suasana panas, sesak dan sangat ribut, membuat penumpang sangat tidak nyaman. Sang ayah sudah gelisah, khawatir Muaz akan rewel karena berada dalam suasana semacam itu.

Namun ternyata dugaan sang ayah salah. Muaz tampak tenang bahkan happy saja. Suasana tidak nyaman dalam bus seakan tidak dirasakan olehnya. Dia terlihat ceria bahkan mengobrol dan bercanda dengan penumpang lain.

Muaz berhasil membuat sang ayah dan penumpang lain menjadi ceria. Tidak dibuat stres oleh ketidaknyamanan suasana dalam bus. Muaz memang istimewa.

Sang ayah menjadi merenung. Ia merasa malu dengan sang anak yang baru kelas empat SD. Begitu pandai menghibur diri, bahkan menghibur orang lain. Sang ayah bersyukur, dengan mengajak Muaz, perjalanan yang berat bisa menjadi ringan dan menyenangkan.  

Inilah keistimewaan Muaz, yang mampu menyikapi kondisi yang menyusahkan menjadi ceria. Dampak keceriaannya bukan hanya untuk diri Muaz, namun bahkan bisa menularkan keceriaan kepada orang lain.

Sering kita diharuskan atau terjebak pada situasi yang tidak menyenangkan seperti harus berada dalam bus yang ngetem yang tidak jelas kapan berangkatnya disertai keriuhan para pedagang asongan. Atas hal tersebut, bisa saja kita mengeluh bahkan marah-marah. Namun itu bukan solusi.

Belajar dari Muaz, ketika terjebak atau diharuskan berada pada kondisi yang tidak menyenangkan, alih-alih mengeluh atau menyesalinya, yang harus dilakukan adalah jangan menjadikan hal tersebut sebagai beban, enjoy aja, jadikan waktu tersebut memberi manfaat.

****************

Kisah di atas dituturkan oleh Iwan Rudi Saktiawan, dalam artikel berjudul “Belajar dari Muaz”. Merupakan salah satu kisah inspirasi yang ada dalam buku “Anakku Guru Istimewa”, terbitan terbaru Wonderful Publishing (2020).

Buku “Anakku Guru Istimewa” ini merupakan karya bersama dari 17 orang penulis, yang tengah belajar bersama saya di Kelas Menulis Antologi batch 5 / 2020. Buku ini berusaha menggali pelajaran berharga yang kita dapatkan dari anak-anak maupun murid di sekolah.

Sebab, orang dewasa sering merasa telah banyak memberi pelajaran kepada mereka. Padahal sebenarnya, kitalah yang mendapat banyak pelajaran dari mereka. Buku ini sangat layak untuk menjadi sarana pembelajaran bagi kita semua, orang-orang dewasa.

Selamat dan sukses saya sampaikan kepada 17 kontributor buku “Anakku Guru Istimewa”, yaitu Diana Nurul Hidayati, Nurlaila, Iwan Rudi Saktiawan, Adji Soegiatno, Nanik SW, Diana Ariani, Osep Muhammad Yanto, Ries Ambarsari, Haripah Wijayati, I Made Suardika, Deswati, Widya Nugraheny, Sinung Dyah Artati, Umi Laili, Yenni Merdekawati, Nurhayati Hasan, dan Dewi Sahara.

2 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Artikel ini telah dilihat : 157 kali.