Write From Home
Sastra Budaya

Tulisan yang Bagus dan Berkualitas, Seperti Apa?

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Seorang pria tengah asyik bekerja di kantor, ketika sebuah panggilan telepon masuk ke smartphone-nya. Ternyata dari petugas di rumah sakit. “Pak, istri Anda mengalami kecelakaan serius. Ada kabar buruk dan kabar baik untuk Anda,” ujar petugas.

Dengan ragu-ragu, pria itu pun memutuskan mendengar kabar buruknya terlebih dahulu. “Kabar buruknya, istri Anda mengalami kelumpuhan total. Untuk bisa bertahan hidup, dia harus menggunakan respirator.”

Dengan tak kuasa menyembunyikan kesedihannya, pria itu bertanya, “Lalu apa kabar baiknya?” Petugas menjawab, “Saya hanya bercanda, Pak….”

Pria itupun merasa lega, dan petugas kembali melanjutkan bicaranya, “Sebenarnya, istri Anda sudah meninggal dunia.”

Berita Baik dan Berita Buruk

Mungkin seperti pria itulah perasaan saya, ketika mendapatkan bertubi-tubi pertanyaan dari para peserta Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku, tentang membuat tulisan yang bagus dan berkualitas. Di setiap batch KMO, selalu ada pertanyaan seperti ini:

“Bagaimana caranya agar kita bisa menghasilkan tulisan yang berkualitas?” (Erni Bulkisi, Batch 29 / 2020). “Bagaimana cara meyakinkan diri sendiri bahwa tulisan kita berkualitas? Bagaimana strategi supaya tulisan kita selalu berkualitas?” (Sri Wahyuni, Batch 29 / 2020). “Apa kiat agar tulisan kita bagus? Apa ciri artikel yang menarik bagi pembaca?” (Khamsiatun, Batch 29 / 2020). “Apa rahasia agar tulisan kita bisa menambah rasa keingintahuan yang lebih atau membuat penasaran dan  semangat bagi para pembaca” (Erni Bulkisi, Batch 29 / 2020).

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu, berita baiknya, menandakan antusiasme para peserta untuk menghasilkan karya tulis yang bagus dan berkualitas. Berita buruknya, saya sulit menjawab –karena saya sendiri merasa tulisan saya biasa-biasa saja. Bagaimana orang yang tulisannya biasa-biasa saja, harus menjelaskan tentang tulisan yang bagus dan berkualitas?

Tapi karena saya ditanya oleh peserta —-mau tidak mau—- saya harus menyediakan jawabannya. Dengan memberanikan diri, saya ajak anda untuk memahami terlebih dahulu, ‘daftar keinginan’ dari pertanyaan-pertanyaan yang saya tuliskan di atas. Paling tidak, saya menangkap ada tiga bagian keinginan peserta.

  1. Agar tulisan bagus dan berkualitas
  2. Agar tulisan menarik bagi pembaca
  3. Agar tulisan membuat penasaran pembaca

Tapi dari ketiga bagian tersebut, sesungguhnya terbangun satu logika linear. Tulisan yang bagus dan berkualitas, adalah tulisan yang menarik bagi pembaca, dan membuat penasaran pembaca. Tulisan yang bagus dan berkualitas membuat pembaca tertarik untuk meneruskan dan menyelesaikan bacaan. Maka, saya ajak Anda untuk menemukan jawaban, seperti apakah tulisan yang bagus dan berkualitas itu.

Tulisan yang Bagus dan Berkualitas

Hampir saya tidak berani menulis soal ini. Takut tidak sepadan antara judul tulisan dengan kenyataan. Supaya saya tidak kesulitan sekaligus tidak kepedean, maka saya akan membuat definisi tentang tulisan yang bagus dan berkualitas. Menurut saya, tulisan yang bagus dan berkualitas itu jika dirumuskan, memenuhi lima unsur yang saya sebut dengan istilah MULIA. Tulisan kita, harus mulia, jangan sampai tulisan kita masuk kategori nista.

Inilah konsep MULIA dalam karya tulis.

M – Mudah  Dipahami

U – Unik dan Orisinal

L – Logis

I – Informasi Kekinian

A – Akurasi Tinggi

Mari kita bedah satu persatu dari kelima unsur MULIA.

M – Mudah Dipahami

Tulisan Anda —sebagus apapun isi dan pesannya, sepenting apapun nilai informasinya— jika tidak bisa dipahami, maka dianggap tulisan yang tidak berkualitas oleh publik. Agar tulisan Anda mudah dipahami, berikut ada beberapa tips praktis yang bisa Anda terapkan.

  • Buat kerangka tulisan sebelum menulis

Kerangka tulisan atau outline, gunanya untuk men-sistematisir alur tulisan agar sistematis. Tulisan yang sistematis akan lebih mudah dipahami oleh pembaca. Berbeda dengan tulisan yang tidak runtut, akan cenderung membingungkan pembaca.

  • Gunakan istilah, kalimat dan gaya bahasa yang sederhana

Terkadang, seseorang ingin menunjukkan kelas intelektualitasnya dalam tulisan, dengan menggunakan istilah yang sulit dipahami oleh khalayak. Agar mudah dipahami publik, gunakan istilah-istilah yang biasa digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian pula penggunaan kalimat dan gaya bahasa, tidak perlu mengada-ada.

  • Gunakan cerita atau kisah sebagai ilustrasi pendukung

Secara umum, manusia suka dengan cerita atau kisah. Bahkan dalam Al-Qur’an pun, sangat banyak dimuat kisah-kisah. Dengan memilih kisah yang relevan, membuat tulisan Anda mudah dipahami.

  • Gunakan ‘pointers’

Pembaca akan terbantu memahami tulisan Anda, apabila Anda menggunakan poin-poin. Dalam satu pembahasan yang panjang, pembaca akan lelah jika tidak dijeda dengan poin-poin.

U – Unik dan Orisinil

Tulisan disebut bagus dan berkualitas, apabila unik dan orisinil. Mengapa tulisan bisa unik? Karena orisinil, hasil karya Anda sendiri. Bukan hasil menjiplak atau copy paste. Tentu saja Anda boleh merujuk atau mengutip, akan tetapi secara keseluruhan, ide tulisan, kerangka, dan isi tulisan, benar-benar karya Anda sendiri. Anda benar-benar menciptakan karya tulis. Ini yang membuat tulisan Anda bernilai unik, karena tidak ada yang sama dengan tulisan Anda. Jika Anda copas atau Anda reposting karya orang lain, ini tidak unik, karena sudah banyak dilakukan orang lain.

Anda boleh searching ke mesin pencari, masukkan kata kunci “tulisan yang bagus dan berkualitas”, pasti Anda akan temukan sangat banyak tulisan di berbagai web yang menjelaskan tentang kriteria tulisan yang bagus dan berkualitas. Anda boleh baca dan boleh pelajari semua saran dan semua tips dari para maestro dan para mastah tersebut. Insyaallah memberi banyak manfaat dan pencerahan. Namun saya sangat yakin, bahwa konsep MULIA yang saya kemukakan ini —unik. Tidak ada orang lain yang memiliki konsep MULIA seperti yang sedang saya bahas ini.

Konsep ini benar-benar saya pikirkan dengan serius, menimbang banyak hal, membaca banyak rujukan, menyimak berbagai pengalaman, hingga akhirnya saya rumuskan dengan istilah MULIA. Ini unik, karena tidak ada penulis lain yang mengemukakan konsep ini. Jadi, sepanjang Anda benar-benar memikirkan, merumuskan, dan kemudian menuliskan sendiri, itu akan menjadi tulisan yang unik dan orisinil. Kalaupun Anda merujuk atau mengutip pada beberapa bagian tulisan, sebutkan sumber rujukannya. Tulisan Anda tetap unik dan orisinil meskipun ada kutipan dan rujukan.

Nah, sudah mengerti ya, apa yang disebut sebagai unik dan orisinil.

L – Logis

Tulisan disebut bagus dan berkualitas apabila logis atau nalar. Seliar-liarnya Anda berfantasi atau berkhayal saat menulis cerita fiksi, Anda tetap harus bisa menjelaskan secara logis. Dengan penjelasan yang logis, hal-hal yang semula dianggap tidak masuk akal, menjadi bisa diterima oleh pembaca. Demikian pula dalam karya tulis nonfiksi, Anda harus menjaga agar keseluruhan isi tulisan dari awal hingga akhir bernilai logis dan bisa diterima akal sehat.

Salah satu lawan dari logis adalah emosional. Tulisan yang emosional —-berbeda dengan tulisan yang mengaduk-aduk emosi. Tulisan emosional itu cenderung tidak logis. Si penulis mengemukakan kemarahan, kebencian, kegalauan, dengan bahasa dan kalimat yang vulgar bahkan kasar. Kalaupun si penulis berada pada pihak yang benar, tulisan yang bernada emosional itu tidak bisa memunculkan rasa simpatik. Justru pembaca akan apatis, karena menganggap si penulis terlalu emosional.

Kepandaian penulis untuk memberikan argumen, bisa membuat sesuatu hal yang semula tampak mustahil, menjadi hal yang bisa diterima secara logika. Misalnya, dalam dunia sains dan teknologi. Saat seseorang mengajukan konsep teknologi komunikasi yang tidak perlu menulis dan bicara. Cukup dengan membatin saja, orang lain sudah bisa mengerti maksud kita. Bisa jadi, sebagian masyarakat akan mengatakan hal itu sebagai tidak logis. Namun ketika mampu dijelaskan menggunakan perangkat ilmu pengetahuan, akan bisa diterima sebagai sesuatu yang logis.

Oke, sudah paham kan makna logis? Anda suka berkomentar ‘masuk akal’ ketika usai membaca sebuah tulisan atau mendengar sebuah penuturan.

I – Informasi Kekinian

Tulisan disebut sebagai bagus dan berkualitas, apabila tidak ketinggalan informasi. Tulisan Anda tersambung dengan data dan informasi kekinian. Bukan saja istilah, namun juga konteks. Di waktu sekarang ini —April 2020— istilah ODP, PDP, WFH, lockdown, pandemi, rapid test dan lain sebagainya, sudah harus Anda akrabi, sehingga tulisan Anda tentang apapun tidak ketinggalan konteks kekinian.

Pasti Anda akan menangkap sesuatu yang janggal, ketika saya menulis informasi seperti ini:

“Kehadiran teknologi komunikasi melalui SMS telah menimbulkan banyak sisi negatif. Di Kota Depok Jawa Barat, Pengadilan Agama mengeluarkan data, bahwa 70 % perceraian disebabkan karena SMS. Suami yang asyik ber-SMS dengan perempuan lain, atau perempuan yang asyik ber-SMS dengan laki-laki lain, telah menimbulkan keretakan dalam rumah tangga. 30 % lainnya, perceraian dipicu oleh faktor ekonomi”.

Di saat masyarakat sudah sangat akrab dengan komunikasi melalui chatting, memang masih ada manusia jadul yang menikmati SMS. Namun akan menjadi pertanyaan besar, apabila dinyatakan 70 % perceraian di Kota Depok dipicu oleh SMS. Anda akan berkomentar, “Pak Cah ngawur. Mana mungkin SMS di zaman sekarang menimbulkan kasus perceraian sebanyak itu?” Bisa jadi, itu adalah data 20 tahun lalu di tahun 2000, bukan tahun 2020.

Nah informasi tentang kasus perceraian Kota Depok itu jelas tidak kekinian. Dengan sangat mudah, Anda akan menyimpulkan, tulisan Pak Cah tidak berkualitas, karena tidak kekinian. Tulisan saya tertinggal duapuluh tahun dari realitas hari ini. Begitu kesimpulan Anda.

Termasuk dalam konteks kekinian, misalnya ketika Anda menulis konstitusi RI, yaitu Undang-Undang Dasar . Jika Anda menulis dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, disingkat UUD NRI Tahun 1945, maka Anda telah memiliki konteks kekinian. Jika Anda menulis dengan UUD 1945, maka ini cara penulisan lama yang sudah resmi diubah. Jika Anda menulis dengan UUD NKRI Tahun 1945, maka ini cara penulisan yang salah.

Demikian pula, ketika Anda menuliskan, “Kalimat yang saya gunakan ini sudah sesuai dengan Ejaan Yang Disempurnakan atau EYD”. Ini menandakan Anda ketinggalan zaman. Karena EYD sudah dinyatakan tidak berlaku lagi, dan diganti dengan Pedomen Umum Ejaan Bahasa Indonesia, atau PUEBI. Inilah contoh informasi kekinian, yang membuat pembaca melihat Anda update dengan hal-hal mutakhir. Oke ya, Anda sudah mengerti apa yang dimaksud dengan informasi kekinian.

A – Akurasi Tinggi

Masih pada contoh berita perceraian di Kota Depok yang saya kutip di atas. Dengan mudah Anda akan menyimpulkan bahwa data saya tidak akurat. Informasi yang saya kutip tidak menyebutkan waktu dan sumber pengutipan. Informasi tersebut menjadi akurat apabila saya berikan tambahan keterangan yang meyakinkan. Misalnya,

“Kehadiran media sosial telah menimbulkan banyak sisi negatif. Di Kota Depok Jawa Barat, Pengadilan Agama mengeluarkan data, bahwa 70 % perceraian disebabkan karena media sosial, terutama whatsapp dan facebook. Kepala Humas Pengadilan Agama Kota Depok, Dindin Syarif mengatakan, perceraian di Kota Depok sangat tinggi. Data tahun 2019 menunjukkan, perceraian di Kota Depok berada pada peringkat 10 di Provinsi Jawa Barat dan peringkat 41 di Indonesia. Demikian laporan yang diunggah di web resmi Pemerintah Kota Depok, www.depok.go.id pada tanggal 10 Februari 2020”.

Informasi ini memuat data yang lebih akurat dibandingkan dengan informasi sebelumnya tentang SMS. Misalnya, menyebut data tahun 2019, nama Kepala Humas PA Kota Depok, sumber pengambilan data dari web resmi, menyebut tanggal posting di web, dan sebagainya. Pembaca akan merasakan akurasi yang tinggi, apabila mereka melacak ke link web yang saya cantumkan, dan benar-benar menemukan informasi seperti yang saya posting tersebut. Inilah tulisan yang memiliki akurasi tinggi.

Namun jika link yang saya cantumkan tidak bisa dibuka, atau setelah dibuka isinya berbeda, atau bahkan tidak memuat informasi sebagaimana yang saya sampaikan, maka pembaca akan mengutuk saya sambil marah-marah. Ternyata informasi itu hoax, misalnya. Untuk selanjutnya, pembaca akan menandai saya sebagai salah satu penulis yang melakukan kebohongan, atau penipuan, atau asal-asalan dalam pencatuman data. Ini tentu saja merusak reputasi saya sebagai penulis.

Demikianlah lima unsur yang membangun pengertian tulisan yang bagus dan berkualitas. Anda boleh tidak setuju, dan boleh membuat batasan sendiri tentang kriteria tulisan yang bagus dan berkualitas. Agar unik dan orisinil dari Anda sendiri. Agar menjadi penulis yang mulia, dengan menerapkan konsep MULIA.

Selamat berkarya. Tetap produktif di masa pandemi. Semangat #WriteFromHome.

Yogyakarta, 19 April 2020

#StayAtHome #LawanCorona

7 Komentar

  • dudung basori

    terimakasih pak Cah…., sy masih punya garapan tulisan buku ajar unntuk dilanjut …; tantangannya adalah ‘matetri lama’ misalnya tentang Wahyu dlm mapel pai Alquran Hadis, bagaimana mengemasnya agar tetap hadir up to date bahasanya untuk kalangan remaja (sy mengajar kls X-XII); hati sy perihatin saat melihat ajar kemasan dn terbitan kementrian, tak sedikit yg ketinggalan di kelas, apalagi bk pinjaman dr perpus, kadang milik pribadi juga. Tetapi, sy jarang menemukan bk novel bacaan siswa yg ketinggaln tergeletak …
    Jadi, bagaimn pak Cah mengemas bk ajar agar nasibnya di tangsn siswa adlh serupa novel itu ?

  • Titiek Suyanti

    Alhamdulillah.
    Konsep MULIA. Saya harus memperbaiki diri di poin I dan A.
    Jazakallah ustadz pak Cah atas ilmunya ini. Sangat bermanfaat untuk penulis pemula seperti saya.

  • Indah Puji

    Terimakasih banyak atas pencerahannya pak. Semoga Allah melimpahkan berkah.
    .
    Saya ingin menulis, tetapi masih dibingungkan oleh passion. Saya belum mampu menentukan genre tulisan. Cenderung ke fiksi atau non fiksi.
    Saya harap Pak Cahyadi berkenan memberi saran. Hehe.
    Salam.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: