Kemanusiaan Dakwah

Tentang Perbedaan Generasi Dakwah

Bagikan

@ Cahyadi Takariawan

.

Kemaren pagi saya diantar menuju bandara Mannheim oleh mas Nanda dan mbak Reni. Berpindah aktivitas, dari Kota Mannheim menuju Frankfurt.

Saat kami masuk mobil, tampak ada signal yang menunjukkan sesuatu tidak beres. Mobil Citroen milik Mas Nanda ini termasuk generasi baru yang cukup canggih.

Mbak Reni segera menyadari ada yang belum beres pada seatbelt di tempat duduknya. Ia duduk di bangku tepat belakang sopir.

Ia keluar dari mobil dan kembali masuk, dengan menutup pintu secara pelan dan memasang seatbelt. Ternyata signal sudah berhenti. Semua sudah beres dan mobil siap berjalan.

“Mobil-mobil generasi baru memang lebih rewel. Ada hal kecil saja yang tidak beres, langsung ribut,” ujar mas Nanda. Saya hanya diam menyimak.

“Mobil zaman dulu lebih kuat dan tidak rewel”, jika dilanjutkan kira-kira demikian pernyataan tersebut.

Saya tersenyum mendengar komentar spontan Mas Nanda. Tapi kami segera bergerak menuju stasiun.

Di sepanjang perjalanan saya memikirkan komentar barusan. “Mobil-mobil generasi baru memang lebih rewel. Ada hal kecil saja yang tidak beres, langsung ribut”.

Apakah hal ini berlaku juga pada kader dakwah? Seakan-akan kalimat tadi berbunyi begini : “Kader-kader dakwah generasi baru memang lebih rewel. Ada hal kecil saja yang tidak beres, langsung ribut.”

********

Dulu pada generasi awal, kami duduk mengaji tanpa kursi, roti dan kopi. Kami berkumpul, melingkar di atas tikar usang. Pembina menyampaikan materi dengan cara sederhana. Menulis di papan whiteboard. Terkadang tak ada alat penghapus.

Tapi kami sangat menikmati. Bahkan materi-materi pembinaan terasa sedemikian berkesan. Tak terlalu banyak materi kami pelajari, namun hampir semua kami kuasai. Dampaknya, kami bisa menyampaikannya kembali.

Kami hampir tak mengeluh oleh terbatasnya sarana. Tak mengeluh oleh keterbatasan informasi. Tak mengeluh oleh ketidakmampuan pendanaan.

Kegiatan dakwah tetap berjalan di tengah beragam keterbatasan dan kekurangan. Belum ada yang punya mobil. Belum banyak yang punya motor. Belum ada yang mampu bepergian dakwah dengan pesawat. Belum ada yang mengakses hotel. Semua nikmat dan nyaman saja.

Setelah dakwah mulai memiliki banyak akses dan sarana, rupanya berdampak kepada mentalitas pelakunya. Rapat di ruang yang AC-nya kurang dingin, langsung mengeluh. Padahal dulu tidak mengenal AC.

Berkegiatan di tempat yang susah signal, langsung mengeluh. Padahal zaman dulu tak ada HP dan internet.

Dukungan dana dari struktur yang tak penuh, langsung mengeluh. Padahal zaman dulu tak ada yang memberikan dukungan dana.

Namun apakah generasi baru tak berhak mengeluh? Tentu saja berhak –sepanjang keluhannya menghasilkan solusi kreatif, sehingga memberikan kontribusi positif bagi dakwah.

Yang menjadi tolok ukur penting adalah mentalitas dan produktivitas dakwah. Kader di zaman manapun, harus memiliki mentalitas perjuangan, pantang menyerah, dan kreatif mengantisipasi persoalan. Hasilnya adalah produktivitas dakwah.

Jadi, benarkah kader generasi baru lebih rewel? Semoga tidak. Kalaupun lebih rewel, semoga rewel fi sabilillah, demi produktivitas dakwah.

Frankfurt, 6 April 2026

Tinggalkan Balasan