Telah Pergi, Sahabat Kami
.
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Seperti apapun kami menangisi kepergianmu, nyatanya engkau memang telah pergi mendahului kami. Covid-19 semakin jahat, merenggut orang-orang terkasih dari sisi kami.
Kita bertemu sekitar tahun 1986, meskipun sama-sama masuk kampus UGM di tahun 1985. Engkau fakultas Kedokteran, dan aku fakultas Farmasi.
Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI) UGM yang bernama Jama’ah Shalahuddin dan bermarkas di Gelangang Mahasiswa, telah mempertemukan kita. Beraktivitas bersama dalam dakwah kampus, melalui wadah UKKI. Berjuang bersama, dari gelanggang mahasiswa.
Rupanya, ada sangat banyak kesamaan di antara kita berdua.
Kita ngaji, membina diri, pada guru yang sama. Kita satu guru, satu ilmu. Berangkat ngaji sepekan sekali, kemudian berpencaran untuk menunaikan amanah dakwah masing-masing.
Asyik sekali kegiatan dakwah, hingga kuliah menjadi terseok-seok. Aku menyelesaikan kuliah S-1 hingga sepuluh tahun. Aku rasa engkau tak jauh beda. Mungkin malah lebih lama dari aku.
Engkau menikah saat masih kuliah, pun istrimu masih kuliah. Tak lama kemudian akupun menikah di saat masih kuliah, pun istriku masih kuliah.
Usai kuliah, aku sebentar saja mencoba menekuni profesi. Sempat bekerja di Apotek, namun tidak enjoy. Maka aku melakukan berbagai aktivitas lain yang lebih membuat nyaman di hati.
Engkaupun demikian. Sempat bekerja sebagai dokter di Rumah Sakit maupun di rumah sendiri. Namun engkau tidak menikmati. Tidak enjoy. Lalu menekuni ‘dunia lain’ yang membuatmu lebi hepi.
Dalam segi sifat, ada pula persamaan kita. Engkau tampak serius, padahal engkau suka bercanda. Jika kita bertemu, adanya selalu canda tawa.
Tahun 1998 kita berkumpul untuk satu tantangan besar. Pasca reformasi, Orde Baru tumbang. Apa yang akan kita lakukan?
Dengan berbagai musyawarah dan perdebatan panjang, akhirnya kita melibatkan diri dalam format baru dakwah. Kita mengusung partai dakwah, sesuai napas hidup selama ini. Kita sama-sama mengemban amanah kepengurusan di Yogyakarta.
Tahun 1999, baru saja menjadi pengurus partai, sudah harus siap mengikuti Pemilu. Kita berjuang bersama, berkeliling Yogyakarta. Tim medis engkau siapkan untuk bakti sosial kepada masyarakat. Berbulan-bulan lamanya, hingga menjelang Pemilu pertama di masa reformasi itu.
Usai Pemilu 1999, kita mulai menjalani kegiatan yang berbeda. Tahun 2000 aku diberi amanah kepengurusan di Pusat. Saat itu engkau diminta fokus kepada satu amanah yang harus engkau selesaikan terlebih dahulu.
Lama tidak bertemu, semenjak peristiwa 2000 itu. Kita asyik di dunia dakwah masing-masing. Kita sama-sama berdakwah, namun menekuni amanah masing-masing, yang membuat kita tidak lagi berinteraksi. Benar-benar sangat lama. Hampir 20 tahun tidak berinteraksi.
Rupanya engkau membangun dan mengelola Pesantren Mahasiswa. Ya, ini dunia kita. Dakwah kampus, adalah tema yang menyatukan kita sejak pertama berjumpa.
Hingga akhirnya tahun 2019, kita dipertemukan kembali dalam pembangunan Masjid Al Ghozali. Aku dipercaya menjadi Ketua Panitia Pembangunan Masjid Al Ghozali. Aku memintamu menjadi Ketua Pelaksana.
Sejak pembangunan Masjid Al Ghozali inilah kita sering bertemu kembali. Berkoordinasi, merancang, mengeksekusi, agar terwujud masjid sebagai pusat peradaban. Hingga hari ini, proses pembangunan sudah hampir mencapai 90 %. Tinggal sedikit lagi.
Kami menjadi saksi engkau telah bekerja bersungguh-sungguh bersama tim, dalam membangun Masjid Al Ghozali. Insyaallah kelak Masjid ini makmur, menjadi salah satu amal jariyah bagimu.
Semua berjalan begitu cepat. Covid-19 menghampirimu dan keluarga.
Semenjak terkonfirmasi positif Covid, engkau dirawat di rumah sakit. Namun kondisi makin menurun. Hingga akhirnya mendapat berita duka.
Tadi malam, Jumat tanggal 25 Juni 2021 pukul 23.49 wib, engkau telah menghadap ke haribaanNya. Kesedihan kami tidak terkira. Inna Lillahi wa inna Ilaihi raji’un.
Kami percaya atas ketulusanmu dalam berdakwah di jalanNya. Sebuah jalan yang sangat engkau cintai. Jalan yang tak ingin engkau tinggalkan walau sebentar jua.
Teriring doa, dari hati yang pasrah dan mata yang terus basah.
Semoga Allah mengampuni semua dosa dan kesalahanmu. Semoga Allah menerima semua amal kebaikanmu. Semoga Allah memasukkanmu ke dalam surgaNya yang abadi, dan menjauhkanmu dari api neraka yang sangat ngeri.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلاً خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ أَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ
Ya Allah, ampunilah dan rahmatilah akhuna Arief Budiman. Bebaskanlah dan maafkanlah dia. Luaskanlah kuburnya dan mandikanlah ia dengan air, salju dan embun. Sucikan ia dari seluruh kesalahan seperti dibersihkannya kain putih dari kotoran.
Berikan ia rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), keluarga yang lebih baik dari keluarganya, pasangan yang lebih baik dari pasangannya. Masukkanlah ia ke dalam surga dan lindungilah ia dari siksa kubur dan azab neraka.
Aamiin.
