Yang Pergi di Masa Pandemi

Imam Dimyati, “The Man Behind The Scene”

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Minta tiket pesawat ke Jakarta untuk besok pagi. Penerbangan paling pagi dari Jogja. Pulangnya Ahad malam. Pilihkan yang paling akhir dari Halim”.

“Tiket untuk besok pagi tolong direschedule. Saya baru bisa berangkat setelah pukul sembilan”.

“Tiket untuk nanti siang, tolong tambah dua orang lagi. Nama lengkap segera saya susulkan”.

“Tiket pulang pergi Jogja – Padang cancel semua ya. Jadwalku mendadak berubah”.

“Minta tiket kereta api ke Malang, pulang pergi. Berdua sama istri. Sekalian hotelnya untuk tiga malam di Malang. Pilihkan hotel yang di pinggir kota, jangan yang tengah kota”.

“Jumat malam aku ke Ciebon ya. Minta kereta paling malam dari Jogja.”

“Siapkan visa Jepang ya. Bulan depan aku berangkat ke Jepang. Atur tiketnya. Sekalian carikan tiket Shinkanzen untuk sepekan di Jepang”.

“Minta visa dan tiket ke Kairo ya. Sekaligus bekal uang untuk sepekan di Kairo”.

****

Sahabat, jika ada di antara Anda pernah mengikuti seminar atau pelatihan yang saya gelar di berbagai kota, Anda hanya mengenal saya sebagai narasumber. Anda mengenal saya sebagai trainer yang menyampaikan mareri-materi wonderful family.

Banyak di antara Anda yang tidak tahu, siapa yang mengatur semua teknis perjalanan saya. Tentu saya tidak mengatur sendiri, karena akan sangat merepotkan.

Seorang lelaki salih, dia yang mengatur semua teknis perjalanan saya. Anda tidak mengenalnya.

Ke manapun saya pergi, dalam negeri maupun luar negeri, dengan pesawat maupun kereta api, lelaki itu yang mengurus semua tiket dan penginapan. Saya tinggal memesan dengan chat whatsapp. Sesekali telpon untuk hal yang mendesak.

Bukan hanya tiket dan penginapan, dia juga menguruskan visa perjalanan saya. Bahkan bekal uang untuk perjalanan luar negeri. Dia akan mengatur detail. Dia benar-benar “the man who always had my back”.

“Pak Cah transit di Bandara SIngapura enam jam. Berarti butuh dolar Singapura untuk ngopi di bandara. Lalu langsung Doha. Uang untuk Doha sudah saya siapkan”.

Tidak pernah ada penolakan. Pukul berapapun saya meminta, dia langsung respon. Dia meyakini, itu bagian dari tugas peradaban. Itu yang bisa dia perankan.

Saya tidak pernah bertanya tentang harga tiket dan hotel. Saya tidak pernah ribut tentang perjalanan seperti apa, penginapan seperti apa. Saya percayakan semuanya kepada dia.

Dia orang yang sangat mengerti kehidupan saya. Dia sangat mengerti selera saya. Dia sangat paham jiwa saya, kesenangan saya, juga ketidaksenangan saya. Dia sangat menjiwai apa yang harus dilakukan.

Di dunia bisnis, mungkin disebut srvice excellent. Namun bukan soal itu ketika dia memperlakukan saya dengan sangat istimewa.

Dia sangat yakin saya berbuat baik, di semua tempat yang saya kunjungi. Saya berjuang untuk penguatan ketahanan keluarga, melalui edukasi, pelatihan dan konseling. Maka dia rela membantu saya untuk semua keperluan perjalanan.

Akhir bulan dia akan konformasi. “Tagihan ke siapa Pak Cah?” Karena sebagian ada yang ditagihkan ke lembaga, ada yang ditagihkan ke pribadi.

Ini sebabnya saya bisa leluasa ke mana-mana. Karena saya tidak berpikir ‘membeli tiket’. Saya tinggal mengontak dia kapanpun saya akan bepergian.

Kalau ke rumah, dia hanya mengantar keperluan perjalanan saya. Visa, tiket, mata uang sesuai negara tujuan. Dia tidak meminta bayaran. Karena tagihan semuanya, dilakukan di akhir bulan.

Sesekali waktu dia merasa tidak enak. “Sorry Pak Cah. Di sana ga ada hotel bagus. Adanya penginapan sangat sederhana. Siap-siap ya…”

Saya sangat terbantu dengan keberadaannya. Amat sangat terbantu. Tanpa dia, saya harus mengurus sangat banyak hal teknis.

Dia benar-benar sosok yang menjadi tulang punggung semua “kegiatan luar” yang saya lakukan. Sosok di balik layar, tidak terkenal, namun mendapat pahala yang banyak dari mempersiapkan keperluan perjalanan.

Hari ini Allah memanggil lelaki salih itu. Imam Dimyati, saya sangat mencintainya.  Namun Allah lebih berhak atasnya. Allah lebih mencintainya. Memanggil kembali ke haribaannya, lantara corona.

Sedih tiada terkira. Tangis kami tak henti-henti karena kepergiannya.

Semoga Allah istirahkan dia di tempat yang mulia. Semoga Allah ampuni semua dosa dan kesalahannya. Semoga Allah terima semua amal kebaikannya. Semoga Allah tempatkan dia kelak di surga.

Yogyakarta, 21 Juli 2021

Tinggalkan Balasan