Tarbiyah Itu Benar-benar Indah
@ Khomsa Ummu Hilya (Pekanbaru)
.
Ini tentang kenangan 22 tahun yang lalu. Masa awal saya mengenal tarbiyah adalah tahun 2004. Ketika itu berstatus sebagai mahasiswi dan sedang menikmati dinamika kuliah.
Saat sekolah SMA, saya belum mengenal kegiatan Islam. Yang saya kenal, hanya beberapa teman yang memakai jilbab. Saat itu hanya jilbab “kecil”, namun di kampung kami sudah dianggap paling baik dan salihah.
Saat mulai masuk bangku kuliah, saya merasakan sangat banyak kebingungan. Di setiap sudut kampus, banyak orang berkumpul. Sesekali waktu saya ikut duduk menyimak kajian, meskipun tak satupun saya kenal.
Satu dua kali merasa nyaman di sebuah perkumpulan, lalu besoknya saya datang lagi. Tapi ketika beberapa kali hadir, merasakan ada yang aneh. Ada hal yang membuat tidak nyaman.
Pernah suatu ketika, seorang kakak mentor menegaskan bahwa menjadi muslimah harus mengenakan pakaian polos, warna gelap, dan tak boleh bermotif. Sambil melirik ke arah saya yang saat itu berpenampilan berbeda dari yang lain.
Ah, ternyata saya merasa tidak nyaman diperlakukan dengan cara seperti itu. Saya enggan datang lagi ke perkumpulan mereka.
Menurut saya, harusnya kebaikan Islam itu bisa membuat nyaman siapapun. Termasuk bagi mereka yang belum baik keislamannya, atau mereka yang belum berpakaian menutup aurat dengan sempurna, atau bahkan mereka yang tidak Islam sekalipun.
Maka di hari berikutnya saya beranjak ke sudut kajian lain. Sebuah kelompok pengajian yang tampaknya sangat seru. Saya ikut duduk menyimak sekali dua kali, hingga kemudian saya menemukan hal yang asing. Cenderung “ekstrem” bagi saya yang baru belajar lebih dalam tentang Islam.
Lagi lagi, kebaikan Islam itu harusnya membuat orang lebih tertarik untuk terus belajar dan berbuat baik. Bukan membuat takut serta merasa terasing.
Hingga kemudian Allah mempertemukan saya dengan sekumpulan orang di teras masjid. Semua saling sharing, semua orang bisa berbicara menyampaikan pesan kesan dan harapan.
Ada evaluasi di akhir pertemuan, ada tawa ceria bersama tanpa kaku dalam lingkaran. Dan bahkan tak harus seragam dalam berpakaian. Saya hanya mengamati saja dari kejauhan. Tidak ikut dalam lingkaran mereka.
Bahkan saat itu, saya melihat ada yang ikut duduk melingkar padahal ia belum memakai jilbab. Sementara semua yang hadir telah mengenakan hijab. Ia tampak nyaman, karena merasa diterima.
Setiap usai berkumpul, mereka menyapa semua yang ada disekitarnya, termasuk saya. Karena mereka melihat saya selalu berada di dekat lingkaran perkumpulan itu setiap hari dan jam yang sama, hingga suatu hari salah satu di antara mereka mengajak saya untuk ikut bergabung dalam lingkaran kajian yang mereka gelar rutin itu.
MasyaAllah, baru sekali duduk diantara mereka, seolah kami sudah lama bersama. Itulah awal yang membuat saya betah bergabung dengan lingkaran pembinaan, sampai hari ini.
Duapuluh dua tahun telah berlalu. Namun kehangatan penerimaan akan diri saya yang baru belajar Islam, tetap saya rasakan hingga saat ini. Saya betah duduk dalam lingkaran pembinaan tersebut. Sampai sekarang.
Tarbiyah memang indah.
