Sastra Budaya

Simulakra

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Mengapa kita tidak boleh menjadikan media massa sebagai referensi tunggal untuk memahami sebuah peristiwa? Karena media massa memang bukan sumber kebenaran. Media massa telah menjadi sumber penyimpangan. Bagaimana penyimpangan bisa terjadi? Inilah yang disebut sebagai simulakra.

Pada dasarnya, media massa telah menciptakan realitas imajiner, yang disebut  sebagai simulakra (symulacrum) —yakni suatu “model realitas” yang tampak nyata, tapi sesungguhnya semu. Realitas telah disembunyikan di balik citra realitas (image of reality) sedemikian rupa, sehingga antara “realitas” dan “citra realitas”, antara “kenyataan semu” dan “kenyataan sebenarnya” tidak dapat dibedakan lagi oleh publik.

“Fakta semu” atau simulakra itulah yang kemudian dianggap oleh publik sebagai fakta yang diyakini kebenarannya. Publik sangat sulit untuk mengetahui detail fakta yang disajikan oleh media massa, padahal “fakta semu” adalah hasil rekayasa media massa yang telah melewati serangkaian proses. 

Reporter TV harus memilih dan memotong rekaman video acara yang sedang berlangsung selama berjam-jam untuk disajikan dalam bentuk berita TV yang durasinya hanya sekitar 15 – 30 detik saja. Reporter media cetak harus memotong dan menyeleksi ucapan-ucapan atau fakta-fakta yang diterimanya untuk disajikan menjadi berita yang panjangnya hanya beberapa kolom saja.

Ucapan seorang presiden, menteri atau tokoh publik selama satu jam yang jumlahnya puluhan atau ratusan ribu kata, harus ditulis oleh seorang reporter dengan panjang tulisan sekitar 5.000 kata saja. Inilah simulakra itu.

Waspadalah, jangan terjebak simulakra, ciptaan media massa.

Jakarta, Momentum 212

Tinggalkan Balasan