Gunungkidul, Duapuluh Tahun Lalu
Oleh : Cahyadi Takariawan
Gunungkidul, apa yang kalian ketahui tentang Gunungkidul? Sebelum 1995, tak ada yang bisa kami sebut tentang Gunungkidul. Alhamdulillah, sekarang dakwah sudah semakin marak berkembang di wilayah pegunungan itu.
Ingatan saya masih sering melayang pada sebuah peristiwa di tahun 1995, duapuluh tahun yang lalu, saat dengan tangis pedih saya melepaskan akhuna Imam Taufiq dan Ratih, isterinya, tinggal bersama mertuanya di Wonosari, ibu kota Gunung Kidul. Dalam syura yang cukup hangat di sebuah ruang sempit, saya menyampaikan keberatan —sangat— atas kepergian akhuna Taufiq sekeluarga dari “pusat peradaban” Jogja.
Sungguh saya merasa tidak tega, kami semua tidak bisa memberi bekal apa-apa kepada mereka berdua. Memulai hidup dan memulai dakwah di tempat yang belum ada sesiapa. Ini yang menjadi keberatan dalam diri saya. Apa bekal yang akan kita berikan? Apa bentuk dukungan dakwah yang bisa kita janjikan? Tak ada fasilitas yang kami punya.
Akhuna Muhammad Haris yang saat itu dengan sangat arif mendukung rencana akhuna Taufiq pindah ke Wonosari. Akhirnya kami semua bisa menerima kepergian tersebut. Akhuna Muhammad Haris berwawasan jauh ke depan. Ia mengatakan, inilah penyebaran dakwah. Kita tidak boleh mengumpul di kota Jogja dan Sleman semua, harus ada yang tinggal di Gunung Kidul, Bantul dan Kulon Progo.
Akhirnya forum sepakat bulat atas argumen itu, karena memang jumlah kita yang sedikit menyebabkan kita perlu berfikir pembagian kerja dalam konteks pemekaran wilayah dakwah. Suatu hari di tahun 1995, akhuna Taufik beserta istri memulai kehidupan di Gunungkidul, dan memulai dakwah di Kabupaten nan luas itu. Dari sepasang suami istri.
Duapuluh tahun telah berlalu. Dakwah sudah mulai bisa disebut hasilnya. Gunungkidul, tak kalah dengan kabupaten lainnya. Hanya Allah sebaik-baik penolong dan pelindung kita semua.
Gunungkidul, 2015
