Murabbi Gen Z Itu Bukan yang Paling Muda, Tapi yang Paling Mau Mengerti
🥈🇮🇩🇮🇩🇮🇩🇮🇩
Namanya Samsuri. Usia 48 tahun. Akrab dipanggil Kang Sam. Tinggal di Bandar Lampung.
Sepekan ia membina 6 kelompok UPA. Terdiri 5 kelompok gen Z dan 1 kelompok milenial.
Ada kegelisahan yang diam-diam dirasakan banyak pembina hari ini: tidak mudahnya menjangkau Gen Z. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena ada jarak yang terasa nyata—cara berpikir, cara berkomunikasi, hingga cara memaknai hidup.
Sebagian memilih mundur sebelum mencoba.
“Gen Z susah didekati.”
“Gap-nya jauh.”
“Ngobrolnya beda dunia.”
Kang Sam tidak menolak kenyataan itu. Tapi ia juga tidak berhenti di sana.
“Bukan mereka yang jauh. Bisa jadi kita yang belum cukup mendekat.”
Kang Sam, ayah dari empat anak, tidak berada dalam generasi yang sama dengan anak-anak muda yang ia bina. Namun justru di situlah letak ceritanya menjadi menarik.
Alih-alih menjaga jarak, ia memilih masuk. Kang Sam membina satu kelompok milenial dan lima kelompok Gen Z.
Kelompok pembinaan anak muda yang dia kelola, bukan sekadar ada secara administratif, tetapi hidup. Dinamis. Bertumbuh. Bahkan melahirkan penggerak-penggerak baru.
Awalnya sederhana. “Saya cuma kepikiran… kalau generasi dulu bisa menyiapkan anak-anaknya jadi pemimpin sejak muda, kenapa kita tidak?”
Inspirasi itu datang dari kisah-kisah dalam sejarah peradaban Islam—tentang bagaimana generasi muda tidak hanya diajari, tetapi dipersiapkan. Dibentuk dengan kesadaran bahwa mereka akan memikul peran besar.
Dari situ, Kang Sam mengambil satu keputusan penting: tidak membina Gen Z dengan cara lama.
“Kalau saya banyak ceramah, mereka hilang. Saya tahu itu.”
Ia memilih pendekatan yang lebih personal: dialog.
Bukan sekadar metode, tetapi cara hadir. Ia meluangkan waktu, duduk bersama, mendengarkan, dan membangun kedekatan yang tidak dibuat-buat.
“Saya lebih banyak ngobrol. Duduk bareng. Dengerin cerita mereka. Kadang bukan butuh jawaban, mereka cuma butuh didengar.”
Dia sampai kaget mendengar ada binaannya yang bertanya: “Memang kalo liqo boleh ketawa-ketawa ya, Bi?”
Wah, kalau anak muda ga menikmati proses pembinaan, datang semata karena diharuskan, wajar mereka pergi.
Kang Sam sabar membersamai. Dan perubahan tidak terjadi seketika, tetapi terlihat jelas.
Anak-anak yang awalnya ragu mulai berani berbicara.
Yang kurang percaya diri mulai tampil. Yang datang karena kewajiban, perlahan datang karena kebutuhan.
“Yang bikin saya bahagia itu bukan jumlahnya. Tapi ketika saya lihat mereka mulai berani ngomong… itu lompatan besar.”
Namun Kang Sam tidak berhenti pada perubahan personal. Ia memahami bahwa Gen Z membutuhkan ruang untuk berkembang.
“Anak-anak ini suka tantangan. Suka hal baru. Kalau kita kasih ruang, mereka akan tumbuh sendiri.”
Ia membuka akses pada pengalaman yang relevan dengan dunia mereka: diskusi dengan tokoh, interaksi dengan politisi, pengusaha, aktivis, hingga tokoh agama.
Pembinaan tidak lagi terasa sempit, tetapi menjadi jendela menuju dunia yang lebih luas.
Hasilnya mulai terlihat. Mereka tidak hanya hadir, tetapi terlibat.
Tidak hanya mengikuti, tetapi berkontribusi.
Tidak hanya belajar, tetapi mengajak.
“Yang paling saya syukuri itu, ketika mereka bukan cuma datang… tapi mulai ngajak orang lain. Itu tanda mereka sudah merasa punya.”
Di balik semua itu, ada satu hal yang paling menonjol: cara Kang Sam memperlakukan anak-anak muda ini.
Dalam satu momen, seorang binaannya datang dengan rasa bersalah. Ia merasa belum memenuhi harapan, lalu meminta maaf dengan tulus.
Respons Kang Sam jauh dari menghakimi.
“Kalau kamu butuh teman ngobrol, saya ada.”
“Kalau kamu mau berproses bareng, kita jalan sama-sama.”
“Kalau kamu mau cari jati diri dulu, silakan… saya tetap dukung.”
“Yang penting, jangan jauh dari circle kebaikan.”
Pendekatan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru di situlah kuncinya.
“Gen Z itu bukan anti nasihat. Mereka cuma tidak suka dihakimi.”
Kang Sam tidak berusaha menjadi anak muda. Ia tidak berpura-pura mengikuti gaya mereka. Ia tetap menjadi dirinya—dengan kedewasaan dan ketenangan yang ia miliki—namun hadir dengan cara yang bisa diterima.
“Saya tidak pernah merasa lebih tinggi. Saya cuma menemani mereka.”
Cara pandangnya pun berbeda. Ketika banyak orang melihat Gen Z sebagai tantangan, ia melihat mereka sebagai potensi.
“Anak-anak itu sholeh-sholeh, Bu… potensinya luar biasa.”
“Mereka itu mutiara. Saya cuma bantu mereka sadar kalau mereka itu berharga.”
Di situlah letak kekuatan Kang Sam. Tak heran ia dijuluki “pawang gen z”.
Bukan pada teknik yang rumit. Bukan pada usia yang “mendekati”. Bukan pada strategi yang kompleks.
Tetapi pada kesediaan untuk hadir, mendengar, dan percaya.
Hari ini, ketika banyak yang merasa ada jarak dengan Gen Z, kisah Kang Sam memberi satu pelajaran yang sederhana, tetapi tidak mudah dijalankan:
Masalahnya seringkali bukan pada generasinya, melainkan pada cara kita mendekat.
“Kalau kita mau duduk, mau dengar, mau sabar… mereka akan datang sendiri.”
Sebagian binaannya bahkan “sudah mentas”. Sudah membina, bahkan merekrut teman-teman mereka untuk ikut terbina.
Maka mungkin, menjadi “pawang Gen Z” bukan soal mengendalikan.
Melainkan tentang memahami—dengan sungguh-sungguh.
