Mulai Membina Satu UPA Dulu Saja
@ Detti Febrina (Lampung)
“Berapa sebetulnya jumlah kelompok (pembinaan; upa/halaqah/taklim) yang ideal bisa dibina tiap kader?”
Demikian salah satu tema yang menyeruak dalam obrolan dengan Ketua Genk Anak Muda Lampung, Fajar Ghosiyah, dan penguasa warlok Bandar Lampung, Haji Agus Widodo—saya biasa memanggil beliau Pak Dodo.
“Mau jawaban serius, Jar?” cetus saya. “Satu. Cukup satu kelompok, tapi dibina dengan serius dan penuh tanggung jawab.”
Seraya menambahkan bahwa para asatidzah yang sanggup membina lebih dari 5 kelompok, bahkan sampai 2 digit, itu istimewa dan luar biasa. Tentu saja.
Pak Dodo, notabene tiada hari tanpa membina sejak subuh hingga subuh lagi, ikut mengamini.
“Jika semua kader di Bandar Lampung, tanpa terkecuali, dipastikan membina, itu sudah menyelesaikan banyak sekali PR dakwah,” tukasnya.
Disebutnya sebuah nominal, prosentase kader di wilayah kekuasaannya yang belum atau tidak membina.
Angkanya tidak kecil.
[Sebagai catatan, Lampung sudah memulai program upa ranting, yang butuh buanyak murabbi; atau jika Bandar Lampung sudah pol-polan, percayalah kabupaten lain pasti tak menolak jika ada “bala bantuan” dari Bandar Lampung]
*
Ada beberapa hal yang perlu kita pahami, berdasar perbedaan asbab, mengapa ada kader yang tidak/belum membina. Bagi kader muda mungkin karena ga pede, merasa belum cukup ilmu dan pengalaman. Bagi yang lebih senior mungkin karena fatigue—kelelahan—atau kesibukan yang seakan tiada jeda.
Memang akan selalu ada yang dipertimbangkan atau dijadikan alasan.
Maka, pertanyaan “membina berapa” seringkali datang terlalu cepat bagi yang masih menimbang, mengukur, dan belum jua memutuskan membina.
Jadi, cukup satu dulu saja.
Satu nama. Satu kelompok. Dimulai sekarang juga.
Dikelola dengan: bismillah, jangan kasi kendor, dan anti-mati gaya.
Membina itu sejatinya tarbiyah buat si pembina. Dan bukankah menjadi murabbi adalah wajibat maisiriyah nan melekat di diri dai? Ada jabatan pun tidak ada jabatan.
Seringkali bukan soal tidak mampu. Hanya belum mulai saja.
That simple.
*
Di sore yang basah dan deras itu, kami menyepakati antara lain hadirnya “Gen Z Mengaji”. Salah satu inisiasi karena menyadari bahwa zaman sudah beranjak. Kita semua, Bapak-Ibu, pasti terganti.
Sambil mengenang, bukankah kita bisa berada di jalan ini juga karena sentuhan para murabbi.
Agar nama Allah SWT tetap tersimpan di hati generasi demi generasi.
Jangan sampai terhenti.
Afwun minkum.
Detti Febrina
Bandar Lampung, 20 April 2026
