ramadan
Sastra Budaya

Menulis Buku Selama Ramadhan, Mau?

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Alhamdulillah, kita bertemu kembali dengan bulan Ramadhan. Nabi saw menyambut Ramadhan dengan kegembiraan, dan mengajak umatnya untuk bergembira menyambut bulan mulia.

ﻗَﺪْ ﺟَﺎﺀَﻛُﻢْ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥُ، ﺷَﻬْﺮٌ ﻣُﺒَﺎﺭَﻙٌ، ﺍﻓْﺘَﺮَﺽَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺻِﻴَﺎﻣَﻪُ، ﺗُﻔْﺘَﺢُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﻨَّﺔِ، ﻭَﺗُﻐْﻠَﻖُ ﻓِﻴﻪِ ﺃَﺑْﻮَﺍﺏُ ﺍﻟْﺠَﺤِﻴﻢِ، ﻭَﺗُﻐَﻞُّ ﻓِﻴﻪِ ﺍﻟﺸَّﻴَﺎﻃِﻴﻦُ، ﻓِﻴﻪِ ﻟَﻴْﻠَﺔٌ ﺧَﻴْﺮٌ ﻣِﻦْ ﺃَﻟْﻒِ ﺷَﻬْﺮٍ، ﻣَﻦْ ﺣُﺮِﻡَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ﻓَﻘَﺪْ ﺣُﺮِﻡَ

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi. Allah mewajibkan atas kalian berpuasa padanya. Pintu-pintu surga dibuka padanya. Pintu-pintu Jahim (neraka) ditutup. Setan-setan dibelenggu. Di dalamnya terdapat sebuah malam yang lebih baik dibandingkan 1000 bulan. Siapa yang dihalangi dari kebaikannya, maka sungguh ia terhalangi.” HR. Ahmad dalam Al-Musnad (2/385). Dinilai shahih oleh Syaikh Syu’aib Al-Arna’uth.

Menjelaskan hadits ini, Ibnu Rajab Al-Hambali menyatakan, “Bagaimana tidak gembira? seorang mukmin diberi kabar gembira dengan terbukanya pintu-pintu surga. Tertutupnya pintu-pintu neraka. Bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bergembira jika diberi kabar tentang sebuah waktu yang di dalamnya para setan dibelenggu. Dari sisi manakah ada suatu waktu menyamai waktu ini (Ramadhan)”.

Ibnu Rajab Al-Hambali juga menyatakan,

ﻗَﺎﻝَ ﺑَﻌْﺾُ ﺍﻟﺴَّﻠَﻒُ : ﻛَﺎﻧُﻮْﺍ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻥَ ﺍﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳُﺒَﻠِّﻐَﻬُﻢْ ﺷَﻬْﺮَ ﺭَﻣَﻀَﺎﻥَ، ﺛُﻢَّ ﻳَﺪْﻋُﻮْﻧَﺎﻟﻠﻪَ ﺳِﺘَّﺔَ ﺃَﺷْﻬُﺮٍ ﺃَﻥْ ﻳَﺘَﻘَﺒَّﻠَﻪُ ﻣِﻨْﻬُﻢْ

“Sebagian salaf berkata, ‘Dahulu mereka (para salaf) berdoa kepada Allah selama enam bulan agar mereka dipertemukan lagi dengan Ramadhan. Kemudian mereka juga berdoa selama enam bulan agar Allah menerima (amal-amal shalih di Ramadhan yang lalu) mereka.“

Mengoptimalkan Ramadhan untuk Produktif Beribadah

Karena begitu istimewanya Ramadhan, jangan sampai terlewat begitu saja. Berbagai macam ibadah harus dilakukan dengan sepenuh kesungguhan, selain puasa, kita juga melaksanakan shalat tarawih, memperbanyak dzikir, doa, taubat, tilawah, infak, belajar ilmu, dan lain sebagainya. Ramadhan harus produktif dalam kebaikan, dan tidak menghalangi untuk umat Islam menunaikan aktivitas —bahkan yang berat sekalipun. Kita tahu Perang Badar dan Perang Tabuk terjadi pada bulan Ramadhan.

Salah satu produktivitas yang bisa dilaksanakan pada bulan Ramadhan adalah menulis dan membuat buku. Anda bisa membuat target tertentu,  misalnya menghasilkan banyak karya tulis yang layak untuk dipublikasikan atau dibukukan, selama Ramadhan. Atau bahkan berani mentarget yang lebih pasti, “menerbitkan satu buku selama Ramadhan”. Jika Anda konsisten dan bersungguh-sungguh mengupayakan, insyaallah bisa menabung banyak tulisan yang bisa menjadi bahan buku. Bahkan bagi Anda yang benar-benar produktif menulis, sebulan bisa menghasilkan satu buku.

Sebulan Penuh Menulis Bahan Buku

Berikut saya pandu dengan beberapa langkah, bagaimana menghasilkan produktivitas menulis selama bulan Ramadhan.

Pertama, Tentukan Tema dan Jenis Buku

Pertama kali, tentukan tema dan jenis tulisan yang ingin anda hadirkan selama Ramadhan. Misalnya, apakah akan menulis fiksi atau nonfiksi. Kemudian, tema apa yang akan Anda tulis menjadi buku. Untuk memudahkan pembahasan, saya ambil contoh tulisan jenis nonfiksi, dengan tema ”Wonderful Life, Menggapai Keberkahan Hidup”. Ini hanya contoh saja. Silakan masing-masing dari anda menetapkan satu tema besar, yang akan anda wujudkan dalam banyak tulisan selama bulan Ramadhan.

Masing-masing Anda bebas memilih tema maupun jenis tulisan, sesuai kecenderungan, minat maupun bakat Anda sendiri. Jangan bingung menentukan tema, sampai Ramadhan habis dan anda tidak menulis satu naskah pun karena kebingungan menentukan tema. Sangat banyak pilihan tema, pilih yang paling mudah bagi anda, pilih yang paling cocok bagi anda. Jika anda sudah memiliki banyak tema, pilih satu saja tema untuk anda tuliskan selama Ramadhan ini.

Ingat, kita belum bicara tentang judul. Anda tentukan tema saja, karena ini bermakna luas. Judul bisa kita buat di bagian akhir nanti.

Kedua, Bikin Outline Buku

Outline adalah kerangka tulisan. Untuk sebuah buku yang akan anda hasilkan, outline adalah kerangka yang mencerminkan logika keseluruhan isi buku tersebut sebelum anda tulis. Outline berfungsi untuk memberikan batasan. Mungkin sangat banyak hal yang ingin anda tulis, namun dengan adanya outline, maka akan terbatasi bagian apa saja yang harus anda tulis. Ini penting bagi anda yang sering kebanjiran ide. Outline membuat anda disiplin menulis dengan batasan yang jelas, sehingga berbagai ide lain untuk sementara harus anda singkirkan.

Outline juga akan membantu anda yang sering merasa kehilangan ide atau tidak memiliki ide. Bukankah outline ini anda buat sendiri, artinya anda dari awal sudah memiliki ide itu. Dengan adanya outline, maka anda akan menulis secara teratur, karena terbimbing oleh alur yang ada dalam outline tersebut.

Outline membuat anda bisa menentukan prioritas, akan menulis dari mana? Jika anda sudah membuat outline buku, maka anda bisa menulis dari bagian manapun yang paling mudah bagi anda. Jadi tidak mesti urut dari awal hingga akhir, namun bisa dimulai dari bagian manapun.

Contoh outline tulisan dari tema yang sudah saya sebutkan di atas, adalah sebagai berikut.

Tema : Wonderful Life, Menggapai Keberkahan Hidup
Pengantar
Pendahuluan

Bab Pertama : Makna Keberkahan
Makna Berkah secara Bahasa
Makna Berkah secara Istilah
Kata Barakah dalam Al Qur’an
Kata Barakah dalam Al Hadits
Makna Berkah menurut Para Ulama

Bab Kedua : Gambaran Hidup yang Berkah dari Zaman Keemasan Islam
Kehidupan Berkah di Zaman Nabi Saw dan Para Sahabat
Kehidupan Berkah di Zaman Tabi’in dan Masa-masa Setelahnya
Ciri-ciri Kehidupan yang Berkah

Bab Ketiga : Faktor yang Mendatangkan Keberkahan
Iman yang Kokoh
Taqwa yang Sebenarnya
Amal Salih yang Kontinyu
Jalan Hidup yang Lurus
Ketaatan yang Totalitas
Sikap Hidup Positif

Bab Keempat : Faktor yang Menghilangkan Keberkahan
Ingkar kepada Allah
Banyak Berbuat Dosa dan Maksiat
Jalan Hidup yang Menyimpang
Sikap Takabur
Tidak Mau Bersyukur

Bab Kelima : Upaya Meraih Keberkahan dalam Kehidupan
Meningkatkan Keimanan kepada Allah
Menguatkan Ketaqwaan
Memperbanyak Amal Salih
Selalu Bersyukur
Meneladani Jalan Hidup Nabi Saw
Mengembangkan Sikap Hidup Positif

Penutup
Daftar Pustaka

Inilah yang disebut sebagai kerangka buku atau outline. Semakin Anda bisa membuat outline secara rinci, semakin mudah pula bagi Anda untuk menuliskan. Hasil akhir tulisan Anda juga akan lebih sistematis dan logis, jika berhasil membuat kerangka yang detail.

Namun outline atau kerangka tulisan bersifat opsional, bukan keharusan. Boleh dibuat boleh pula tidak. Tergantung kebiasaan masing-masing, tergantung pula pada tujuan dan jenis tulisan. Namun apabila anda membuatnya, akan memudahkan anda dalam menyelesesaikan tulisan dengan sistematis.

Ketiga, Cari dan Kumpulkan Referensi

Setelah anda menetapkan tema dan membuat outline, maka anda mengerti akan menulis apa saja untuk buku yang akan Anda terbitkan. Jika Anda merasa memerlukan rujukan, maka Anda bisa mengumpulkan terlebih dahulu. Rujukan bisa berupa kitab klasik, buku, artikel, dokumen, data, bisa pula berbentuk hasil wawancara. Jika anda mencari referensi dari internet, pastikan Anda hanya mengakses web atau blog yang terpercaya.

Apakah menulis wajib menggunakan referensi atau daftar pustaka? Tentu saja tidak. Karena tergantung dari apa yang hendak Anda tulis, dan jenis tulisan yang hendak Anda wujudkan. Misalnya, untuk jenis tulisan opini, maka lebih banyak mengeksplorasi pendapat pribadi sang penulis. Oleh karena itu, tidak harus menggunakan referensi. Daftar pustaka menjadi sesuatu yang bersifat opsional. Namun untuk jenis artikel ilmiah murni, keberadaan referensi menjadi keharusan.

Pada contoh outline tulisan yang saya tuliskan di atas, ada beberapa bagian yang mengharuskan adanya rujukan. Misalnya pada bab pertama, tentang makna berkah secara bahasa, secara istilah, makna kata berkah menurut Al Qur’an dan Al Hadits, serta makna berkah menurut para ulama, ini semua memerlukan rujukan. Tidak bisa saya karang sendiri.

Namun jangan menghabiskan waktu hanya untuk mencari dan mengumpulkan referensi. Karena proses mencari refrensi bisa Anda lakukan sambil menulis. Saat merasa memerlukan rujukan, Anda bisa langsung mencari pada saat itu juga. Dengan demikian waktu Anda efektif untuk menulis, dan tidak habis untuk mencari referensi.

Keempat, Tetapkan Waktu, Tempat dan Alat Menulis

Anda harus menetapkan waktu, tempat dan alat untuk menulis. Selama Ramadhan 1441 ini, jam berapa setiap harinya yang Anda alokasikan untuk menulis. Misalnya, setelah Subuh Anda lanjutkan dengan dzikir dan tilawah, sampai shalat syuruq. Jika masih ada waktu luang sebelum beraktivitas yang lain, Anda mengambil waktu jam 06.00 – 07.00 pagi setiap hari selama Ramadhan —untuk menulis. Satu jam yang benar-benar Anda alokasikan sebagai waktu menulis. Ini waktu pokok, jika ternyata masih ada slot waktu yang bisa Anda gunakan untuk menulis lagi, maka itu bonus waktu. Misalnya malam hari usai tarawih dan tadarus, masih ada waktu jam 21.30 – 22.30 untuk menulis.

Ini definisi waktu menulis, saya ambil contoh, jam 06.00 – 07.00 dan jam 21.30 – 22.30 setiap hari. Berarti selama Ramadhan ini Anda mengalokasikan waktu 2 jam untuk menulis. Ini hanya contoh, masing-masing Anda memiliki keluangan atau kesempitan waktu yang berbeda-beda. Namun Anda harus mendefinisikan, jam berapa Anda menulis setiap harinya.

Kemudian, selama Ramadhan ini, dimana Anda akan menulis? Di rumah, ya benar di rumah. Tapi di bagian mana dari rumah Anda? Misalnya, di kamar, atau di teras belakang rumah, atau di ruang keluarga, atau dimanapun, definisikan secara spesifik. Saya ambil contoh, tempat di ruang keluarga. Artinya, pada jam 06.00 – 07.00 dan jam 21.30 – 22.30 setiap hari, Anda harus berada di ruang keluarga di rumah Anda untuk menulis. Ini definisi tentang waktu dan tempat menulis.

Selanjutnya, dengan alat atau sarana apa Anda menulis selama Ramadhan ini? Coba definisikan, apakah Anda menggunakan komputer rumah, laptop, tablet, atau gadget. Terserah Anda. Saya ambil contoh, Anda menulis menggunakan laptop merk A berwarna hitam. Inilah definisi alat atau sarana, bahwa selama Ramadhan ini, Anda akan selalu menggunakan laptop hitam merk A milik Anda, untuk menulis.

Jadi, setiap hari jam 06.00 – 07.00 dan jam 21.30 – 22.30, Anda harus berada di ruang keluarga, menghidupkan laptop hitam merk A, dan menulis. Ini menjadi komitmen yang harus Anda ciptakan sendiri. Ini hanya contoh dari saya. Sekarang, definisikan sendiri oleh Anda, dan isilah sendiri:

Waktu menulis selama Ramadhan – jam : …….

Tempat menulis selama Ramadhan – di : ……..

Alat menulis selama Ramadhan – menggunakan : …….

Tiga poin di atas adalah komitmen Anda sendiri. Terdiri atas komitmen waktu, komitmen tempat dan komitmen alat. Mengapa perlu mendefinisikan ketiga aspek tersebut? Karena ketiganya akan menciptakan ‘asosiasi menulis’ dalam diri Anda, yang juga bisa membangun spirit serta habit menulis. Jika Anda disiplin dengan tiga aspek komitmen tersebut, maka setiap kali Anda bertemu waktu menulis tersebut, Anda akan merasa ditagih dan diingatkan untuk menulis.

Jika Anda melihat tempat seperti yang sudah Anda tetapkan, Anda akan merasa ditagih dan diingatkan untuk menulis. Jika Anda melihat laptop hitam merk A, Anda akan merasa ditagih dan diingatkan untuk menulis. Sekarang bayangkan saja, jika ketiganya bertemu dalam satu waktu. Misalnya, jam 6 pagi, Anda tengah berada di ruang keluarga, dan melihat laptoip hitam merk A. Ini menjadi asosiasi yang sangat kuat dalam diri Anda untuk menulis.

Kelima, Segera Kerjakan, Jangan Beralasan

Setelah memiliki outline tulisan, apalagi sudah mengumpulkan rujukan, segeralah mengerjakan. Jangan menunda lagi, segeralah mulai menulis bagian demi bagian. Outline membuat anda bisa memulai menulis dari bagian manapun yang anda anggap paling mudah. Sekali lagi, mulailah dari bagian yang paling mudah.

Disiplinkan menulis pada jam tersebut, seperti apapun kondisi anda. Jangan mencari-cari alasan dan pembenaran untuk tidak menulis pada jam yang sudah Anda tentukan tersebut. Kelola semua kesibukan Anda, agar pada jam yang sudah Anda tetapkan untuk menulis, tidak dikalahkan oleh kesibukan yang lain. Jangan beralasan. Intinya, tetaplah menulis pada jam yang sudah Anda tetapkan untuk menulis, seperti apapun kondisi Anda. Jangan memudahkan untuk tidak menulis pada jam yang sudah Anda tetapkan untuk menulis.

Sekali Anda memberi toleransi untuk tidak menulis pada jam yang sudah Anda tetapkan, maka Anda akan semakin mudah untuk memaklumi kosongnya halaman buku Anda pada hari-hari yang lainnya. Makin lama makin sering tidak menulis, sampai sebulan tidak ada tulisan apapun yang anda hasilkan, dan buku anda tetap kosong.

Keenam, Fokus Menulis, Bukan Mengedit

Waktu Anda selama Ramadhan pendek, hanya 30 hari, dan sudah terbagi untuk berbagai macam aktivitas ibadah dan kebaikan. Maka pada waktu yang sudah Anda tentukan, fokuslah hanya menulis sesuai kerangka yang sudah Anda tetapkan. Jangan tergoda untuk mengedit tulisan. Begitu Anda mulai tergoda mengedit tulisan, biasanya di sini letak keterlenaan yang menghabiskan sangat banyak waktu. Ingat, tugas Anda selama Ramadhan adalah menulis, sesuai target yang telah ditetapkan sejak awal.

Tulis semua bahan sampai selesai, sampai Anda merasa sudah menuangkan semua pikiran atau ide ke dalam tulisan. Jangan berhenti untuk mengedit. Sekali Anda berhenti untuk mengedit, Anda bisa menghabiskan sangat banyak waktu untuk urusan ini. Dampaknya, Anda kehabisan waktu untuk proses kreatif menuangkan ide ke dalam tulisan.

Kapan Anda harus mengedit? Jika semua bahan sudah Anda tuliskan. Tidak harus dilakukan saat Ramadhan, editing bisa Anda lakukan usai Ramadhan nanti, karena justru bagian ini yang lebih sulit dan lebih rumit. Editing bisa memakan waktu lebih lama dibanding proses menulis itu sendiri.

Ingat ya, fokus hanya menulis, selama Ramadhan. Bukan mengedit. Gunakan waktu yang sudah Anda alokasikan, hanya untuk menulis —bukan mengedit. Oke?

Demikianlah beberapa tips praktis agar bisa konsisten dan fokus menulis selama bulan Ramadhan. Semoga Allah berikan kemudahan, kelancaran dan keberkahan dalam aktivitas menulis selama bulan Ramadhan ini —hingga mampu menghasilkan satu buku mandiri, karya Anda sendiri. Aamiin.

17 Komentar

  • Popon Siti Mariah

    Saya dari kelas Antologi batch 6. Sangat berterima kasih atas pencerahan mengenai kepenulisan selama saya bergabung. Berdasar apa yang saya lihat di sekitar, saya sangat ingin berbagi pemikiran saya mengenai complicated kehidupan muslimah di tengah2 kondisi tatanan masyarakat saat ini. Muslimah secara fitrah seharusnya tinggal di rumah, karena itu adalah sesempurna-sempurnanya hijab. Namun disisi lain muslimah saat ini tertuntut untuk berkiprah diluar urusan rumah tangganya,seperti kegiatan sosial atau ekonomi. Hal ini memberikan kesulitan tertentu, dan inilah yang selama ini saya alami, rasakan dan pikirkan.

  • Ida Farida

    Terimakasih pak Cah atas motivasinya…Bismillah, sy mengihlaskan diri selama Ramadhan ini untuk belajar menulis satu buku Curahan hati wali santri, mohon bimbingannya langkah2 apa saja yg harus saya lakukan?. Terimakasih

  • Yessy eria

    Terimakasih atas arahannya Pak.

    Mudahan ini bisa saya terapkan fokus menulis sampai tulisan selesai dan barulah mengedit.

    Itulah point pentingnya

  • Dewi Masrurin

    Senang sekali mendapat tips tips menulis dari bapak Cahyadi Takariawan, terima kasih pak…in sya Allah saya akan mulai menulis.

  • Zuhra Catri

    Saya kesulitan menetapkan waktu menulis krn sbg ibu rt sy lebih suka menyelesaikan pekerjaan rt dulu. Sangat riskan klu pekerjaan rt terbengkalai. Bgaimana solusinya, Pak?

  • Nurhayati Hasan

    Mau bikin buku selama Ramadhan. Dan bisa tidak sy kirim balik ke ust untuk di koreksi dan jika layak terbit mohon arahannya, biar sy siapkan dananya

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: