Ruang Membina

Menjadi Pembina yang Produktif

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Dalam rangkaian kisah ashabul ukhdud, kita disodori dua tokoh “ideologis” yang berbeda secara nyata. Yang pertama adalah tukang sihir yang kafir, dan yang kedua adalah Rahib yang beriman kepada Allah. Tersebutlah Ghulam, tokoh sentral dalam kisah ini, dia harus menjalani kewajiban dari Raja untuk belajar ilmu sihir. Diharapkan dialah yang akan meneruskan jejak tukang sihir di negeri tersebut. Kehadiran Ghulam, adalah jawaban dari permintaan tukang sihir lantaran dirinya sudah tua dan semakin mendekati ajal. Raja memilih anak muda yang bisa dikader, dan dia adalah Ghulam.

Namun rupanya, ada sang Rahib yang ajarannya membuat Ghulam terpesona. Maka Ghulam mengunyah ilmu dari dua guru. Hukuman dari tukang sihir yang dia terima lantaran terlambat datang ke majelisnya, tidak digubris oleh Ghulam. Dia tetap setia belajar dari Rahib, namun juga tetap mengikuti pembelajaran dari tukang sihir. Hingga suatu hari dia merasa harus memilih. Melalui lantaran binatang yang tengah mengamuk di perjalanan, Ghulam mendapat petunjuk bahwa Rahib adalah pihak yang benar dan dicintai Allah.

Menemukan Alasan

Ada pertanyaan penting dalam memahami setting kisah tersebut. Apa motivasi tukang sihir untuk mencari penerus? Apa motif dasar yang membuatnya perlu memiliki kader penerus? Apa alasan yang membuat tukang sihir menerunkan ilmunya? Demikian pula, apa motivasi Rahib untuk memberikan pelajaran secara rutin kepada Ghulam? Apa motif dasar yang mendorong Rahib membina Ghulam, hingga akhirnya anak muda ini lebih memilih dirinya dibanding tukang sihir? Apa alasan Rahib untuk menurunkan ilmu kepada Ghulam?

Pasti ada alasan yang kuat, mengapa tukang sihir dan Rahib mengajarkan ilmu dan keyakinannya kepada Ghulam. Resiko bagi Rahib sudah jelas di depan mata, namun toh dia tetap melakukan pembinaan terhadap Ghulam. Dalam ujung kisah tersebut, Rahib syahid terbunuh, bahkan Ghulam sang tokoh utama juga syahid terbunuh. Namun Al Qur’an menyatakan, “Dzalikal fauzul kabir”, itulah kemenangan yang besar, padahal semua rakyat yang beriman ikut syahid terbunuh di parit api.

Inilah yang saya maksud sebagai willingness dalam tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Tentang Kemauan dan Kemampuan Membina”. Jika kita menemukan ada kader dakwah tidak membina atau tidak memiliki binaan, maka pertanyaannya adalah, apakah dia tidak membina itu tidak memiliki kemauan (willingness), atau tidak memiliki kemampuan (skill), atau gabungan dari keduanya? Jika masalah terletak pada kemampuan atau skill, maka dengan mudah kita menggelar acara pembekalan, sekolah, pelatihan, dan lain sebagainya untuk meningkatkan skill.

Namun jika yang menjadi masalah adalah faktor kemauan membina (willingness), maka sebanyak apapun program pembekalan dan pelatihan skill, menjadi tidak ada maknanya, dan tidak memberikan solusi apapun. Karena faktor yang harus ditumbuhkan adalah reason (alasan) mengapa harus membina? Harus ada visi yang kuat, harus ada motivasi yang kokoh, harus ada motif dasar yang menonjol, yang menggerakkan kader untuk melakukan proses pembinaan. Dengan willingness yang kuat, seseorang bersedia melakukan tindakan tanpa berorientasi imbalan materi. Mereka beregerak karena visi, karena ideologi.

Pembina Produktif

Pada acara Menjadi Pembina Produktif di Bantul, Ahad 27 Agustus 2017, saya bertanya kepada 21 orang emak-emak peserta acara tersebut, alasan apakah yang membuat anda harus membina? Temukan alasan, mengapa anda harus membina. Jika anda tidak menemukan satupun alasan yang kuat untuk membina, maka pasti tidak ada dorongan yang menggerakkan anda membina. Inilah willingness, yang posisi serta perannya lebih dominan dibanding skill atau ketrampilan.

Mari kita cermati jawaban dari 21 emak-emak peserta acara BMM dalam lembar kerja yang dibagikan kepada mereka. Ada sangat banyak poin alasan dari para peserta, setelah saya klasifikasi, terdapat 17 poin alasan membina, sebagai berikut.

  1. Untuk membina dan mensalihkan diri sendiri serta orang lain agar menjadi pribadi Islami (19)
  2. Untuk membentuk keluarga yang Rabbani (4)
  3. Untuk membentuk masyarakat Islami (5)
  4. Menyebarkan nilai nilai Islam secara luas (2)
  5. Membangun fikrah Islam (2)
  6. Menyiapkan generasi Islam, agar ada penerus dakwah (11)
  7. Sebagai sarana  untuk memperbanyak amal dan pahala (6)
  8. Realisasi kewajiban dakwah seorang muslim (3)
  9. Sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan lebih baik (2)
  10. Untuk berbagi dan mengamalkan ilmu supaya bermanfaat untuk diri sendiri serta orang lain (9)
  11. Agar waktu tidak sia-sia (2)
  12. Agar menjadi orang yang bermanfaat dan mampu menjadi solusi (4)
  13. Untuk memperbanyak ukhuwah dan silaturrahim (4)
  14. Untuk menyebarkan kebaikan (4)
  15. Bagian dari pencegahan terhadap kemungkaran (2)
  16. Untuk mewujudkan peradaban Islam (1)
  17. Agar bisa meraih surga (1)

Itulah 17 alasan dari 21 peserta acara. Angka yang ada di dalam kurung menunjukkan jumlah peserta yang mengemukakan alasan tersebut, dengan kalimat yang beraneka ragam namun memiliki satu semangat yang sama.

Coba kita cermati dengan seksama. Itu semua adalah alasan-alasan yang luar biasa. Adakah dorongan yang lebih kuat daripada keinginan untuk masuk surga? Masuk surga tidak sendirian, namun dengan mengajak semakin banyak orang bersama-sama. Maka harus ada proses untuk memperbaiki dan mensalihkan diri serta orang lain sesuai muwashafat Islam, memperbaiki keluarga, masyarakat, bangsa dan peradaban dunia. Inilah yang menjadi reason sangat kuat mengapa harus membina.

Proses berikutnya adalah, sadari sepenuhnya dorongan ini, terima sepenuhnya, dan ledakkan menjadi potensi serta energi membina. Lakukan internalisasi berbagai alasan membina tersebut, agar menjadi kepribadian, menyatu dalam kesadaran, menggerakkan pikiran, hati, perasaan dan badan. Selamat menjadi murabbi dan murabbiyah muntijah. Berbekal semangat dan kemauan yang kuat, menempa diri dengan terus belajar dan banyak menimba ilmu. Insyaallah akan memudahkan langkah-langkah tarbiyah.

Yogyakarta 27 Agustus 2017

Tinggalkan Balasan