Antara Kemauan (Willingness) dan Ketrampilan (Skill) Membina
Oleh : Cahyadi Takariawan
Kemarin malam (Rabu, 10 Mei 2017), kami berbincang dalam Forum “Lingkar Amal”, tentang fenomena banyaknya aktivis dakwah yang tidak membina. Sebuah data menyebutkan, setengah dari jumlah aktivis dakwah di Kabupaten B, ternyata tidak memiliki binaan. Ini sesuatu yang sangat menyeruak, dan perlu segera dilakukan upaya untuk merespon dan mengantisipasi kondisi tersebut.
Semua dari kami berbicara dan berpendapat. Sangat hangat dan bersahabat. Sejak dari membuka-buka file tentang peta aktivis dakwah di Kabupaten B, sampai mengemukakan berbagai teori dan analisa. Tentu saja disertai upaya untuk menemukan solusi terbaik.
Dari semua diskusi tersebut, bermuara pada dua idiom : kemauan dan kemampuan membina. Skill dan willingness dalam membina. Pertanyaannya adalah, apakah mereka yang tidak membina itu disebabkan oleh karena tidak punya kemauan (will), ataukah tidak punya kemampuan (skill) dalam membina?
Jika persoalannya adalah soal kemampuan membina, maka dengan mudah dibuat pelatihan massal bagi siapapun aktivis dakwah yang belum memiliki binaan. Dibikin saja Sekolah Murabbi, Akademi Murabbi, Daurah Murabbi, atau apapun sebutan dan namanya. Berbagai kegiatan tersebut dimaksudkan untuk memberikan berbagai kemampuan praktis dalam membina.
Persoalan skill itu masih bisa diperinci lagi menjadi berbagai sub bagian yang kecil-kecil. Seperti : apakah kesulitan dalam manajemen kelompok, atau tidak memiliki stok materi untuk disampaikan, atau kesulitan dalam cara menyampaikan materi, atau kesulitan dalam mendinamisir kelompok, atau kesulitan dalam mengarahkan (orientasi) binaan, dan lain sebagainya. Daurah Murabbi dilakukan dalam bentuk yang spesifik, menjawab sub bagian persoalan yang dihadapi para aktivis tersebut.
Ada lagi yang tidak memiliki kemampuan untuk melakukan rekrutmen. Saat ditanya mengapa tidak membina, jawabannya : karena tidak memiliki binaan. Saat ditanya mengapa tidak memiliki binaan, jawabannya : karena tidak bisa merekrut ‘bahan’ untuk dibina. Nah, jika memang kesulitannya adalah dalam “cara merekrut”, maka diperlukan Daurah Teknik Merekrut, atau Daurah Teknik Mengajak, atau Daurah Teknik Meyakinkan Orang, atau Daurah Teknik Mempengaruhi Orang, dan lain sebagainya.
Pada intinya, jika persoalan yang dihadapi adalah pada kemampuan (skill), maka bisa dihadirkan solusi berupa Daurah, atau Bimbingan / Choaching, sesuai dengan sub-sub tema yang diperlukan. Selebihnya, tinggal praktek merekrut dan praktek membina. Dengan semakin banyak ‘jam terbang’ membina, akan semakin tertingkatkan pula kemampuan dalam membina. Berbekal ilmu yang didapat dari Daurah, ditambah dengan praktek membina, maka akan didapatkan kemampuan membina yang terus menerus meningkat dari waktu ke waktu.
Tapi bagaimana jika persoalannya bukan pada kemampuan? Bagaimana jika persoalannya justru pada kemauan membina?
Tidak adanya rasa percaya diri untuk membina, tidak adanya kebanggaan akan tarbiyah, tidak adanya rasa tanggung jawab akan kelangsungan dakwah, tidak adanya rasa kepantasan untuk menjadi sosok murabbi, belum tumbuh rasa cinta untuk menjadi murabbi, menjadi beberapa sub-persoalan willingness dalam membina. Jika ini yang terjadi, maka berapapun banyaknya program Daurah Murabbi untuk meningkatkan skill, menjadi salah obat. Salah solusi.
Program-program “tentir materi”, program Daurah Murabbi yang berfokus untuk meningkatkan skill, menjadi tidak tepat sasaran, untuk mereka yang persoalan pokoknya adalah willingness. Berapapun banyak program Daurah Murabbi, tidak berpengaruh terhadap bertambahnya jumlah Murabbi baru. Karena persoalannya bukan pada kemampuan, namun pada kemauan, pada motivasi, pada ‘tumuhat’ dan ghirah membina.
Ungkapan petinju legendaris dunia, Muhammad Ali, berikut ini, bisa menjadi sebuah pelajaran berharga dalam menjawab persoalan pembinaan. Menurut Ali, “champions aren’t made in gyms. Champions are made from something they have deep inside them: a desire, a dream, a vision. They have to have last-minute stamina, they have to be a little faster, they have to have the skill and the will. But the will must be stronger than the skill”.
Ungkapan Ali ini sangat tepat : the will must be stronger than the skill. Bagaimanapun bagusnya skill, jika tidak dilandasi dengan will, tidak akan bisa mencetak juara.
Harus kita ingat, yang membuat seseorang mampu menjadi murabbi handal, tidak semata-mata karena skill mereka yang terus bertumbuh, melainkan ada alasan kuat di balik itu : mengapa mereka mau menumbuhkan skill tersebut. Alasan yang membuat mereka mau membina, alasan yang membuat mereka bersemangat untuk meningkatkan skill membina, alasan yang membuat mereka bergairah untuk merekrut dan terus merekrut, itu semua yang akan membuat mereka memiliki willingness dalam merekrut dan membina.
Jika alasan ini mereka temukan, maka yang paling sulit adalah menghentikan mereka. Sungguh, mereka akan menjadi arus dan badai yang tidak akan terbendung.
Mertosanan Kulon, Yogyakarta, 11 Mei 2017
