ibnu nafis
Sastra Budaya

Mengatasi Lupa dalam Proses Menulis

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Suatu ketika Anda tengah naik motor atau mengendarai mobil, kemudian Anda melihat sebuah kejadian yang menyentuh hati Anda. Langsung terpikir Anda akan menuliskan peristiwa itu. Namun begitu tiba di tujuan, Anda langsung sibuk dengan berbagai macam hal sehingga akhirnya Anda lupa untuk menulis. Ide itupun terlupakan dan tidak pernah Anda tuliskan.

Kejadian seperti itu sangat sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Salah seorang peserta Wonderful Writing Class (WWC) bertanya kepada saya, “Saya sering lupa dengan apa yang akan ditulis. Saat sedang nyuci atau memasak kepikiran ide untuk ditulis, namun giliran sudah pegang alat tulis jadi lupa dengan ide yang muncul”.

Manusia Tempat Lupa dan Salah

Pertama, jika mengalami hal tersebut, Anda harus bersyukur, karena itu menandakan bahwa Anda masih bernama manusia. Anda bukan robot atau mesin pengingat. Anda juga bukan malaikat yang tak pernah maksiat. Kita semua adalah manusia biasa, tempatnya salah dan lupa. Kita sangat akrab dengan kata pepatah Arab yang sering dikira hadits, padahal bukan :

اَلْاِنْسَانُ مَحَلُّ الْخَطَاءِ وَالنِّسْيَانِ

“Al-insan mahallul khatha’ wan nisyan. Manusia itu tempatnya salah dan lupa”

Kedua, hendaknya kita mengerti bahwa lupa adalah peristiwa yang sangat manusiawi dan bisa terjadi pada manusia di berbagai aktivitas kehidupan mereka. Maka syari’at Islam memberikan batasan dan aturan tentang lupa. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

وسر الفرق أن من فعل المحظور ناسيا يجعل وجوده كعدمه ونسيان ترك المأمور لا يكون عذرا في سقوطه كما كان فعل المحظور ناسيا عذرا في سقوط الإثم عن فاعله

“Perbedaan penting yang perlu diperhatikan bahwa siapa yang melakukan yang haram dalam keadaan lupa, maka ia seperti tidak melakukannya. Sedangkan yang meninggalkan perintah karena lupa, itu bukan alasan gugurnya perintah. Namun bagi yang mengerjakan larangan dalam keadaan lupa, maka itu uzur baginya sehingga tidak terkenai dosa.” (I’lam Al-Muwaqi’in, 2: 51).

Penjelasan Ibnul Qayyim ini menandakan bahwa lupa adalah medan pembahasan dalam syari’at Islam, dan para ulama telah meletakkan kaidah yang kokoh untuk memberikan hukum atas peristiwa lupa. Sebab, lupa menjadi kondisi yang lazim pada manusia yang sudah semakin tua usianya, dimana kemampuan memorinya sudah sangat terbatas.

Ketiga, sebagian dari lupa adalah godaan setan yang harus dilawan. Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata,

شَكَوْت إلَى وَكِيعٍ سُوءَ حِفْظِي فَأَرْشَدَنِي إلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي وَأَخْبَرَنِي بِأَنَّ الْعِلْمَ نُورٌ وَنُورُ اللَّهِ لَا يُهْدَى لِعَاصِي

“Aku pernah mengadukan kepada Waki’ tentang jeleknya hafalanku. Lalu beliau menunjukiku untuk meninggalkan maksiat. Beliau memberitahukan padaku bahwa  ilmu adalah cahaya dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat.” (I’anatu Ath-Thalibin).

Imam Syaf’i adalah ulama yang hafalannya sangat bagus. Namun beliau pernah merasakan ada kekurangan dalam hafalannya, dan saat diadukan kepada gurunya, beliau diminta untuk meninggalkan maksiat. Pada umumnya manusia, maksiat dilakukan karena godaan setan, maka kita harus berjuang untuk mengalahkannya.

Keempat, sebagian dari lupa adalah nikmat Allah kepada manusia. Coba saja seandainya manusia tidak memiliki sifat lupa, ia tidak akan bisa tenang. Misalnya diberi informasi mengenai kondisi neraka dan penghuninya. Ini adalah gambaran yang sangat mengerikan, membuat orang tidak enak makan dan tidur. Nah jika terus menerus teringat neraka, manusia justru tidak bisa tenang menjalani kehidupan.

Dari Hanzhalah Al-Usayidi -salah seorang juru tulis Rasulullah saw, ia berkata, “Abu Bakar pernah menemuiku, lalu ia berkata padaku, “Bagaimana keadaanmu wahai Hanzhalah?” Aku menjawab, “Hanzhalah kini telah jadi munafik.” Abu Bakar berkata, “Subhanallah, apa yang engkau katakan?”

Hanzhalah menjawab, “Jika kami berada di sisi Rasulullah saw, kami teringat neraka dan surga sampai-sampai seperti melihatnya di hadapan kami. Namun ketika kami keluar dari majelis Rasul saw dan bertemu dengan istri dan anak-anak kami, sibuk dengan berbagai urusan, kami pun jadi banyak lupa.” Abu Bakar pun menjawab, “Aku pun demikian.”

Kemudian Hanzhalah dan Abu Bakar menghadap Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, jika kami berada di sisimu, kami akan selalu teringat pada neraka dan surga sampai-sampai seolah-olah surga dan neraka itu benar-benar nyata di depan kami. Namun jika kami meninggalkan majelismu, maka kami tersibukkan dengan istri, anak dan pekerjaan kami, sehingga kami pun banyak lupa.”

Rasulullah saw menjawab, “Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya. Seandainya kalian bisa konsisten dalam beramal sebagaimana keadaan kalian ketika berada di sisiku dan kalian terus mengingat-ingatnya, maka niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di tempat tidur dan di jalan. Namun Hanzhalah, lakukanlah sesaat demi sesaat.” Beliau mengulanginya sampai tiga kali. (HR. Muslim no. 2750).

Nah, inilah contoh lupa yang merupakan nikmat dari Allah, sehingga kita bisa beraktivitas normal dalam kehidupan dan mampu menikmati kebahagiaan.

Mengatasi Lupa dalam Proses Menulis

Bagaimana mengatasi lupa dalam menulis? Untuk mengatasi sifat lupa dalam proses menulis, bisa dilakukan langkah spiritual dan langkah operasional.

  • Langkah Spiritual atau Batiniyah

Yang dimaksud dengan langkah spiritual atau langkah batiniyah adalah upaya secara ruhaniyah untuk menghindarkan diri dari lupa yang merugikan apalagi lupa yang membahayakan. Langkah spiritual yang bisa dilakukan adalah memperbanyak ketaatan kepada Allah, dan menjauhi larangan Allah. Sebagaimana nasihat Al-Waki’ kepada Imam Syafi’i, bahwa ilmu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidaklah mungkin diberikan pada ahli maksiat. Cahaya Allah hanya diberikan kepada mereka yang taat.

Para penghafal Qur’an adalah mereka yang bersih kehidupannya, yang selalu berada dalam kondisi ketaatan kepada Allah, menjauhi hal yang dilarang dan menjauhi perbuatan yang tidak patut sebagai ahlul Qur’an. Ini yang membuat mereka mampu menjaga hafalan sepanjang hidup, dengan menjaga kebaikan dan kebersihan diri. Ini yang dimaksud sebagai langkah batiniyah. Langkah spiritual ini bisa menjadi inspirasi bagi kita, bahwa kuatnya hafalan sebanding dengan kuatnya penjagaan diri dalam kebaikan.

  • Langkah Operasional atau Lahiriyah

Secara teknis operasional, sifat lupa bisa diatasi dengan menyiapkan peralatan yang diperlukan untuk mengurangi atau mencegah lupa. Sebagai contoh, pada pertanyaan yang saya kutip di awal tulisan, dari peserta WWC, maka dia bisa menyediakan alat tulis di dekat tempat beraktivitas, atau membawa selalu alat tulis kemanapun ia berada. Misalnya di dekat tempat mencuci, jika tak membawa gadget untuk mencatat, bisa disediakan buku dan bulpen untuk mencatat. Begitu muncul ide, dia bisa berhenti sejenak dari aktivitas untuk mencatat ide, setelah itu baru meneruskan mencuci lagi.

Begitu pula ketika sedang mengendarai motor atau mobil. Saat muncul ide menarik untuk ditulis, segera berhenti sejenak, mencari tempat parkir yang nyaman, untuk menuliskan garis besar ide tersebut. Jika Anda terbiasa menulis dengan gadget, buatlah satu folder yang isinya “Kumpulan Ide Tulisan”. Jika Anda bepergian bersama teman atau keluarga, sementara Anda bertugas mengendarai mobil, maka Anda bisa meminta tolong kepada salah seorang teman untuk menuliskan ide di gadget Anda.

Intinya, bawalah alat tulis —apapun bentuknya, sesuai dengan kebiasaan Anda masing-masing— kemanapun Anda pergi, dan segera tuliskan ide yang melintas di alat tulis tersebut. Yang Anda tulis saat itu hanyalah ide besarnya, adapun penjabarannya bisa Anda tulis di lain kesempatan saat memiliki waktu luang. Tujuan dari langkah operasional atau lahiriyah ini adalah untuk mendokumentasikan ide-ide yang terlintas dalam pikiran, agar tidak hilang. Terkadang ide melintas begitu saja, dan cepat hilang saat tidak dituliskan.

Tentu saja, ini tidak berlaku untuk aktivitas ibadah mahdhah. Misalnya sedang shalat lalu mendapat ide untuk menulis. Tentu saja harus segera mengembalikan konsentrasi pada aktivitas shalat. Tidak boleh menghentikan shalat untuk menuliskan ide. Karena bisa jadi ini adalah manivestasi godaan setan pada orang yang shalat agar tidak khusyuk. Jadi, menghentikan aktivitas hanya berlaku untuk hal yang teknis, bukan untuk konteks pelaksanaan ibadah mahdhah.

Kita bisa belajar dari Ibnu Nafis (1213 – 1288, Damaskus) dalam semangat menulis. Beliau adalah tokoh kedokteran muslim yang sangat banyak menghasilkan teori kesehatan yang ditulis dalam banyak kitab. Beliau sangat produktif menulis, di antara buku karya Ibnu Nafis adalah Syarh Tasyrih Al-Qanun, Al-Muhadzdzab fi Al-Kuhl, Syarah Fushul Abqarat, Kitab Al-Mukhtar fi Al-Ahdyiya, Kitab Asy-Syamil fi Ath-Thibb, dan lain-lain.

Sebelum Ibnu Nafis mulai menulis, beliau selalu menyiapkan pena siap pakai sebanyak mungkin. Ketika mulai menulis, ia menghadapkan wajahnya ke tembok, lalu ia curahkan semua pikirannya dengan pena ke atas kertas. Bila pena-nya masih lancip, tulisannya sangat cepat. Sampai pena-pena beliau tumpul, saking banyaknya menulis. Teknik yang beliau lakukan adalah —menyiapkan pena siap pakai sebanyak mungkin. Pada waktu itu belum ada komputer, laptop dan gadget. Jadi beliau harus menyiapkan sangat banyak pena untuk menulis.

Jika Terlanjur Lupa

Jika sudah terlanjur lupa dengan ide yang sempat melintas, segera tinggalkan ide itu. Jangan menghabiskan waktu untuk mengingat-ingat ide yang sudah dilupakan. Segera move on, hadirkan saja ide baru. Karena ada sangat banyak ide yang bisa Anda hadirkan dan bisa Anda tuliskan. Jangan terbelenggu pada satu ide yang sudah terlanjur terlupakan.

Misalnya Anda naik motor dan muncul ide untuk menulis sesuatu tema. Sesampai di rumah, Anda buka laptop untuk mulai menulis. Namun ternyata Anda lupa, tadi ingin menulis apa. Anda tidak berhasil mengingatnya. Dalam situasi seperti itu, jangan memaksakan diri mengingat-ingat ide yang sudah terlanjur terlupakan tersebut. Lebih berkonsentrasi mencari ide yang lain, toh sangat banyak. Anda tidak akan pernah kehabisan ide untuk menulis. Bagi seorang penulis, bahkan kehabisan ide adalah sebuah ide yang bisa ditulis.

Selamat menulis, selamat berkarya di tengah Corona dan di saat bulan mulia. Tetap semangat #WriteFromHome bersama saya. Kita #LawanCorona bersama-sama.

Yogyakarta, 27 April 2020

6 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: