Memulai Pembinaan Dengan Cinta dan Pembiasaan
@ Iwan, S.E, MM. (Sulawesi Barat)
.
Saya meyakini sesungguhnya tarbiyah itu mudah jika kita memulainya dengan cinta dan pembiasaan.
Langkah dakwah saya tidak dimulai dari panggung besar, melainkan dari sebuah TPA sederhana di lingkungan Parung-Parung, Kelurahan Binanga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Sejak duduk di bangku SD, saya sudah menemukan kebahagiaan dalam mengajar adik-adik mengaji.
Semangat ini terus bertumbuh saat saya SMP dan MAN. Saat itu saya tinggal bersama orang tua angkat, kami istiqamah memanfaatkan waktu ba’da Magrib untuk membimbing anak-anak di sekitar rumah untuk membaca Al-Qur’an. Di masa itulah saya mulai mengenal dunia tarbiyah.
Salah satu pesan ustadz yang selalu terpatri di hati saya: “Menyebarkan risalah Rasulullah saw itu wajib bagi setiap Muslim. Dakwah tidak harus selalu di atas mimbar ceramah atau khutbah, tapi bisa dilakukan dengan mengajak orang lain berbuat baik, secara berkelompok maupun personal.”
Pesan itulah yang membentuk jati diri saya. Hingga saat ini, ketika mendapatkan amanah di bidang Kepemudaan DPW Sulawesi Barat, tantangan untuk mengajak orang lain justru menjadi energi tambahan bagi saya.
Mengajak dan membina bukan lagi beban, melainkan kebutuhan jiwa. Di sela kesibukan, menjalin komunikasi dengan peserta binaan adalah momen yang selalu saya rindukan.
Menurut pengalaman saya, kunci kemudahan dalam membina terletak pada dua hal. Pertama, keterbiasaan. Pada dasarnya, terbiasa membina, lahir dari kerelaan diri untuk terus dibina. Kita tidak bisa membina orang lain, jika diri kita sendiri tidak rela dibina.
Kedua, Long-life Learning. Jangan pernah berhenti belajar untuk menambah wawasan agar materi yang kita sampaikan selalu segar dan relevan.
Mari kita buktikan pada kader di seluruh penjuru negeri, bahwa membina adalah jalan ninja kita menuju ridha-Nya.
