Tarbiyah Itu Mudah

Membina Adalah Anugerah: Di Sanalah Saya Menemukan Jati Diri

Bagikan

Serial Arabika : Ajak, Rangkul, Bina, Kawal

Oleh : Wijaya (Pembina Gen Z)

Awal Membina. Saya membina sejak masih duduk di bangku SMP. Kira-kira di era tahun 2004-2005. Waktu itu, yang saya bina tentu anak-anak SD. Dengan sekelumit dinamikanya, ternyata membina anak SD itu seru dan asyik.

Di keluarga, saya anak laki-laki pertama dari 3 bersaudara. Adik saya perempuan semua.

Di daerah kelahiran saya, dengan posisi sebagai satu-satunya anak laki-laki, saya harus beraktivitas serba sendiri. Berangkat ke sekolah sendiri, main juga sendiri, tidur sendiri, serba sendiri.

Di saat seperti itulah saya merindukan sosok “adik laki-laki”. Nah, bisa dibilang mungkin itu jadi motivasi saya bisa dekat dengan anak kecil laki-laki.

Saat ada anak yang ingin ngaji dengan saya, tentu saya sangat gembira dan bersemangat. Setidaknya ada “adik laki-laki”, meski beda ibu beda ayah.

Seiring berjalannya waktu kegiatan membina terus berlanjut. Sampai akhirnya saya kuliah. Dengan amanah sebagai “kakak mentor”, dan modal awal saya dulu pernah membina, cara yang sama saya gunakan di kelompok binaan mahasiswa.


Membina 12 UPA. Saat ini saya membina 12 kelompok UPA dengan jumlah total 123 orang. Ditambah membina 3 kelompok Majelis Taklim dengan jumlah anggota 120 orang.

Sejak dulu saya selalu menggunakan metode 3A : Asah, Asih dan Asuh.

  • Saling mengasah kemampuan
  • ⁠Saling mengasihi karena Allah dan
  • ⁠Saling asuh mengasuhi dalam kebaikan.

Metode 3A ini yang terus saya terapkan sampai sekarang.


Membina jadi kebutuhan, bukan kewajiban. Satu waktu saat membina “libur”, saya merasakan ada yang hilang. Sepi, kering.

Sekitar awal tahun 2013-an, pasca saya menyelesaikan studi sarjana, di itempat kerja, saya ditugaskan keluar daerah. Dengan scope pekerjaan manufacturing project yang berpindah-pindah kota dan tempat. Ini membuat saya kesulitan dalam beraktifitas selain urusan pekerjaan.

Dunia terasa hambar. Biasanya dengan membina disanalah tempat saya “refreshing”. Ya refreshing, menghela nafas sejenak dari banyaknya tuntutan dunia luar dan saya sungguh merasakan kehidupan membina adalah bukan kewajiban lagi, melainkan kebutuhan.

Bukan beban amanah dakwahnya yang justru saya kedepankan. Tapi justru menikmati setiap momen dalam membina, membuat saya jatuh cinta dengan pekerjaan ini.

Berjumpa dengan banyak pasang mata, dengan kisahnya yang berbeda-beda. Apalagi kalau sudah sampai ada kata-kata : “Ustadz, kapan kita liqo lagi?”

Duh rasanya, kata-kata itu syahdu sekali. Yang tadinya semangat hampir pudar, serta merta jadi bangkit dan berjalan lagi.

Tinggalkan Balasan