sapardi djoko damono
Sastra Budaya

Masih Akan Adakah Hujan di Bulan Juni?

Bagikan

.

Mengenang Sapardi Djoko Damono

Oleh : Cahyadi Takariawan

Apakah masih akan ada hujan di bulan Juni, tatkala engkau telah pergi? Padahal tak ada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, katamu. Tak ada yang lebih bijak dari hujan bulan Juni, ujarmu. Tak ada yang lebih arif dari hujan bulan Juni, ungkapmu.

Apakah masih akan ada hujan yang pandai merahasiakan rintik rindunya, tatkala engkau telah pergi? Bahkan pohon berbunga itupun tak tahu. Dihapusnya jejak-jejak kaki yang ragu-ragu di jalan itu. Dibiarkannya yang tak terucapkan, diserap akar pohon bunga itu.

Apakah masih ada yang sanggup mencintai dengan sederhana, tatkala engkau telah pergi? Mencintai dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu. Mencintai dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.

Apakah masih ada yang akan terus menerus berdoa, tatkala engkau telah pergi? Bagimu, doa adalah  cinta. “Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu”, katamu.

Apakah masih ada yang memiliki hati seperti  selembar daun, tatkala engkau telah pergi? Hati yang melayang jatuh di rumput, dan sejenak terbaring di sini. Karena ada yang masih ingin dipandang, yang selama ini senantiasa luput. Meskipun sesaat, namun ia adalah abadi, sebelum kausapu tamanmu setiap pagi

Apakah masih akan ada yang duduk di restoran, tatkala engkau telah pergi? Biasanya engkau duduk berdua saja, memesan ilalang panjang dan bunga rumput. Bahkan aku tak tahu, entah mau memesan apa.

Kadang engkau memesan batu, di tengah sungai terjal yang deras. Kadang engkau  memesan rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya, memesan rasa lapar yang asing itu. Aku tetap saja tidak tahu, entah mau memesan apa.

Apakah masih akan ada si telaga, tatkala engkau telah pergi? Kau biarkan perahu cinta berlayar di atasnya. Berlayar menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma. Berlayar sambil memandang harumnya cahaya.

Tetapi, sesampai di seberang sana, bisakah aku tinggalkan begitu saja? Perahu itu, siapa akan menjaganya?

Apakah masih ada yang fana, tatkala engkau telah pergi? Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga, sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa. “Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu. Kita abadi.

Apakah masih tersisa tajam hujanmu, tatkala engkau telah pergi? Aku ini sudah terlanjur mencintaimu. Payung terbuka yang bergoyang-goyang di tangan kananku, air yang menetes dari pinggir-pinggir payung itu, aspal yang gemeletuk di bawah sepatu, arloji yang buram berair kacanya, dua-tiga patah kata yang mengganjal di tenggorokan. Sungguh deras dinginmu, sungguh sembilu hujanmu.

Apakah masih akan ada puisi, setelah kepergianmu? Aku tak tahu. Dan karena hidup itu indah, aku menangis sepuas-puasnya.

Catatan

Bahan-bahan puisi Sapardi Djoko Damono untuk tulisan di atas, silakan sahabat simak di link berikut ini.

Tinggalkan Balasan

Artikel ini telah dilihat : 659 kali.