Kolaborasi Otak Kanan dan Kiri dalam Menghasilkan Karya Tulis
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Muse on the right, the critic on the left” (Laura Connell, 2010)
Sesungguhnya teori tentang otak kanan dan otak kiri belum menempati posisi akademik yang bisa diterima semua ahli. Robert H. Shmerling dari Harvard University misalnya, cenderung mengajukan hasil studi yang menunjukkan tidak adanya pemisahan yang sigunifikan dalam cara kerja dua belahan otak manusia.
Namun bukan berarti teori tentang otak kanan dan otak kiri tidak bisa digunakan, toh ilmu pengetahuan manusia selalu berkembang. Shmerling menyatakan bahwa istilah otak kanan dan otak kiri, lebih bercorak “a figure of speech”, bukan pembagian anatomis. Okelah, kita pakai asumsi Shmerling saja.
Dalam teori tentang otak kanan dan otak kiri, dikatakan bahwa otak kanan bertanggung jawab atas hal-hal yang bercorak acak, intuitif, holistik, dan subyektif. Sedangkan otak kiri dianggap bertanggung jawab atas pemikiran logika, skuensial, rasional, analitis, dan obyektif. Manusia akan optimal dalam menjalani hidup, apabila mampu memadukan dan mengkolaborasikan kedua bagian otak tersebut secara seimbang.
Kolaborasi SIstemis Otak Kanan dan Otak Kiri dalam Menghasilkan Karya Tulis
Kolaborasi dua bagian otak manusia, salah satunya terjadi secara optimal dalam proses menghasilkan karya tulis. Sebagaimana telah saya sampaikan dalam postingan sebelumnya, bahwa ada tiga tahap dalam menghadirkan sebuah karya tulis. Tahap pertama adalah proses kreatif menuangkan ide ke dalam tulisn. Tahap kedua adalah mengedit tulisan. Tahap ketiga adalah menghias tulisan.
Dalam tiga aktivitas menghasilkan karya tulis tersebut, kedua bagian otak manusia bekerja secara kolaboratif. Pada tahap menulis, kita lebih fokus menggunakan otak kanan. Proses kreatif menuangkan ide ke dalam tulisan, akan optimal apabila lebih banyak menggunakan otak kanan yang bercorak intuitif, imajinatif, sekaligus subyektif.
Pada tahap mengedit tulisan, kita lebih banyak menggunakan otak kiri. Mengedit tulisan meliputi aktivitas mengoreksi adanya kesalahan aksara, meneliti penggunaan tata bahasa agar sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI), meneliti penggunaan diksi agar sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), juga meneliti sistematika, adakah bagian tulisan yang alurnya tidak logis dan tidak sistematis.
Pada tahap menghias tulisan, kembali kita lebih fokus menggunakan otak kanan. Tulisan yang sudah selesai kita edit, diperindah dan dipercantik sebelum dipublikasikan. Menghias tulisan bisa dilakukan dengan membuat judul yang menarik, membuat paragraf pembuka yang memesona, menambahkan ‘toping’ berupa quotes atau kisah menarik yang relevan dengan tema tulisan. Ini akan menjadi indah apabila dipoleh dengan potensi otak kanan.
Nah, tercipta kolaborasi yang sangat indah bukan? Menghasilkan karya tulis, diawali dengan kerja otak kanan, kemudian pindah ke otak kiri saat mengedit, dan akhirnya pindah ke otak kanan lagi saat menghias tulisan. Kedua belah otak kita diajak bekerja dengan sinergis dan kolaboratif, untuk menghasilkan karya tulis yang indah untuk dinikmati.
Jika proses menghasilkan karya tulis hanya mengandalkan sisi otak kanan, akan terlalu liar imajinasinya, sehingga tulisan akan sangat abstrak dan mungkin sulit dipahami pembaca, meski mereka bisa menikmatinya. Kita kadang menemukan, tulisan yang enak untuk dibaca dan dinikmati namun sulit dimengerti maksudnya.
Jika proses menghasilkan karya tulis hanya mengandalkan sisi otak kiri, akan terlalu kaku dan formal. Pembaca cenderung tidak nyaman membaca, karena semuanya tersajikan dalam bentuk data-data faktual dan analisa akademik. Kurang sentuhan seni, kurang ruang berimajinasi. Kita kadang menemukan tulisan yang mudah dimengerti maksudnya, namun tidak indah cara menyampaikannya.
Maka, tiga tahap menghasilkan karya tulis, menjadi ranah pekerjaan kedua bagian otak secara sinergis. Dari otak kanan, ke otak kiri, lalu kembali ke otak kanan lagi. Sangat indah kolaborasinya.
Tampak potensi otak kita bekerja secara kolaboratif saat menghasilkan karya tulis. Inilah mengapa, menulis itu menyehatkan otak manusia. Jika otak manusia sehat, maka sehat pula tubuhnya.
Tidak percaya? Coba saja.
Bahan Bacaan
KL. Wightman, 3 Ways to Write with Both Your Left and Right Brain, www.klwightman.com, 16 September 2013
Laura Connell, Left Brain vs Right Brain for Writers, www.articulatemarketing.com, 11 Agustus 2010
Robert H. Shmerling, MD, Right Brain / Left Brain, Right? www.health.harvard.edu, 25 Agustus 2013

20 Komentar
Trisna Sulistyan
Saya setuju dengan isi tulisan ini, menyeimbangkan antara proses menuangkan ide ke dalam tulisan dan proses menghias tulisan itu sendiri adalah sama penting. Salut dengan Pak Cah, yang selalu bisa menemukan ide tulisan yang bagus setiap hari. Sangat menginspirasi.
Cahyadi Takariawan
ayuuk makin produktif menulis Kak Trisna…
Syifa
Benar, benar, benar ..sangat pas kupasannya…jazaakalloh, Ustadz
Cahyadi Takariawan
yuk makin produktif berkarya mbak Syifa…
ekaibunyarizky
Jadi tambah semangat nih nulis, terimakasih pencerahannya pak Cah.
Cahyadi Takariawan
ayuk terus berkarya mbak…
Florida Salma
Super Pak Cah. Saya mengalami itu. Setelah belajar menulis cara berpikir saya menjadi lebih sehat.
Cahyadi Takariawan
syukurlah mbak Florida…
Muzna Nurhayati
Benar sekali pa Cah. Semoga semua selalu sehat
maryatiarif
Trimk. Lama sekali belum nulis, mudah2an segera malam inj
Cahyadi Takariawan
semangat mbak…
Cahyadi Takariawan
aamiin…
Sri Hartini
Otak kiri dan kanan bekerja sinergis, menyehatkan. Terkadang saya merasa kesulitan. Namun, tulisan pak Cah membuat termotivasi. Saya akan berusaha untuk bisa mengkolaborasi. Terima kasih banyak pak Cah pencerahannya
Cahyadi Takariawan
yesss mbak Sri…
Inmuslihat_jangkrikbertopi
Luar biasa. Semoga kedepannya saya bisa mengolaborasi otak kanan dan kiri dalam menyusun dan memerindah tulisan-tulisan saya.
Terimakasih banyak Pak Cah. Semoga Pak Cah beserta keluarga selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT.
Cahyadi Takariawan
ayuk makin produktif berkarya Bang…
Esti Yuliani
Hidup adalah keseimbangan. Kanan kiri bersinergi dan berkolaborasi, jadilah harmonisasi.
Cahyadi Takariawan
yesss…. ayuk berkarya…
eri fauzi rahman
Mencoba akan lebih sadar lagi menggunakan keduanya…terimakasih Pa
Cahyadi Takariawan
yuk semangat berkarya…