foto : https://thecontentfair.com/
Sastra Budaya

Kebahagiaan Bertumbuh Melalui Tulisan

Bagikan

Oleh Cahyadi Takariawan

“Menulis itu membahagiakan”, bagi saya ini bukan moto hidup atau jargon. Namun kenyataan. Saya merasakan. Untuk itu saya menulis dan terus menulis. Dengan menulis, bertambah kebahagiaan saya dari waktu ke waktu.

Telah banyak studi yang menyatakan bahwa kebahagiaan itu bukan kondisi statis, melainkan kondisi dinamis. Bahagia itu bertumbuh. Rumusan tentang pertumbuhan kebahagiaan –Flourishing, salah satunya dikemukakan oleh Martin Seligman. Flourishing adalah keadaan seseorang yang menunjukkan perkembangan yang optimal dan fungsi-fungsi yang berjalan dengan sangat baik.

Ada lima aspek yang memberikan pertumbuhan bagi kebahagiaan, yakni Positive Emotion (emosi positif), Engagement (kelekatan), Relationship (relasi yang positif), Meaning (kemampuan memberi makna) dan Accomplishment (pencapaian/prestasi). Lima aspek ini disingkat dengan PERMA.

Saya ingin mengajak Anda mendapatkan aspek-aspek pertumbuhan kebahagiaan tersebut melalui kegiatan menulis. Bagaimana menulis bisa menumbuhkan kebahagiaan? Mari saya ajak Anda mendalaminya.

  • Positive emotion (emosi positif)

Menurut Seligman, positive emotion (emosi positif) dapat tercapai melalui dua sumber; yaitu kenikmatan dan kesenangan. Kenikmatan adalah hal-hal yang bersentuhan dengan fisik atau tubuh, seperti makan yang enak di saat lapar, atau tidur di saat lelah. Sementara kesenangan lebih berhubungan dengan intelektual dan kreativitas. 

Menulis adalah aktivitas intelektual dan sekaligus proses kreatif. Saat menulis, curahkan kemampuan intelektualitas Anda, sekaligus seluruh kreativitas Anda. Inilah yang disebut emosi positif oleh Seligman, yang akan menumbuhkan kebahagiaan manusia.

Kendatipun manusia bisa memenuhi selera makan, minum dan kenikmatan lainnya, namun jika tidak melakukan aktivitas intelektual dan tidak menumbuhkan kreatifitas, maka tidak akan bisa optimal merasakan kebahagiaan. Menulis artinya Anda tengah mencurahkan kemampuan intelektual sekaligus kreativitas. Ini mengapa menulis itu membahagiakan.

  • Engagement (kelekatan)

Engagement adalah sebuah kondisi jiwa yang hanyut menyatu dalam sebuah aktivitas. Di saat seseorang melakukan sebuah aktifitas, maka seluruh perhatian baik fisik maupun psikis diarahkan secara totalitas terhadap aktivitas tersebut. Saya istilahkan sebagai ‘larut’.

Jika Anda sedang menulis, berkonsentrasilah untuk menulis. Jangan memikirkan hal lain —seperti pekerjaan, ataupun tugas-tugas yang belum selesai. Nikmati proses menulis, sampai Anda larut dalam kenikmatan menulis. Kebahagiaan Anda akan terus bertumbuh.

Sama juga dengan ketika Anda sedang beribadah, berkonsentrasilah melakukannya. Shlatlah dengan khusyuk —ini yang disebut engagement. Bekerjalah dengan konsentrasi, sampai hanyut dalam pekerjaan Anda. Menulislah dengan konsentrasi, sampai Anda hanyut dalam kebahagiaan menulis. Kebahagiaan Anda akan terus tumbuh bersemi.

  • Relationship (hubungan positif)

Relationship atau lebih tepatnya positive relationship (hubungan positif) adalah kemampuan membangun relasi positif dengan orang lain. Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang selalu memerlukan orang lain. Tak akan bisa hidup sendiri, tak bisa bahagia hidup terpisah dari orang lain.

Dengan menulis dan memposting tulisan, Anda akan terhubung dengan sangat banyak orang di dunia ini. Jika Anda memposting melalui media sosial, maka sangat banyak teman-teman Anda akan membaca dan merespon tulisan Anda. Hubungan positif yang Anda ciptakan dengan banyak kalangan, akan membuat kebahagiaan Anda terus bertumbuh.

Ini juga memberikan pelajaran, menjadi penulis bukanlah memenjarakan diri di gunung atau goa untuk mendapatkan inspirasi. Justru harus banyak bergaul dengan berbagai kalangan agar semakin banyak perspektif serta masukan.

  • Meaning (kemampuan memberikan makna)

Dalam kehidupan, sering kali kita tidak bisa memilih peristiwa atau kejadian yang berlaku dalam diri kita atau di sekitar kita. Misalnya peristiwa pandemi Covid-19 saat ini, bukanlah pilihan kita, namun kita harus menghadapi. Jika kita mampu memberi makna atas pandemi yang tengah terjadi, kebahagiaan selalu kita dapatkan.

Nah, apa makna menulis bagi Anda? Semakin pandai Anda menciptakan makna dari aktivitas menulis yang Anda lakukan, kebahagiaan Anda akan semakin bertambah. Jika Anda memberi makna menulis hanya sekedar “daripada bengong”, maka menulis bukan hal demikian bermakna bagi Anda.

Namun jika Anda memahami bahwa menulis adalah mengubah dunia, maka Anda akan berbahagia saat menulis. Makin besar makna yang bisa Anda berikan, makin berbahagia pula diri Anda. Maka berikan makna yang besar atas aktivitas menulis yang Anda lakukan.

  • Accomplishment (pencapaian/prestasi)

Pencapaian sebuah target berpengaruh terhadap kebahagian seseorang. Demikian pula kemampuan untuk mencapai prestasi tertentu, adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Ini berlaku dalam sangat banyak bidang kehidupan, termasuk dalam aktivitas menulis.

Saya mencanangkan target sederhana selama masa pandemi corona. Saya harus memproduksi minimal satu tulisan yang saya posting di web www.lockdown2020.id setiap hari. Maka saya bekerja keras dan bersungguh-sungguh mencapai target sederhana ini, di tengah berbagai aktivitas saya.

Tak jarang saya harus lembur sampai jam satu malam demi menyelesaikan satu naskah untuk Web Lockdown 2020, agar bisa segera saya posting. Padahal esok harus bangun jam tiga untuk makan sahur bersama keluarga. Namun saya bahagia saat berhasil memposting satu tulisan.

Bahagia, karena target tercapai. Ini sekaligus prestasi bagi saya. Sederhana, mendefinisikan target dan prestasi. Namun begitu berhasil mencapai, ini menambah kebahagiaan dalam diri saya.

Bagaimana dengan Anda?

Bahan Bacaan

Martin Seligman, Flourish, A Visionary New Understanding of Happiness and Wellbeing, Atria Books, 2012

8 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: