Caption Hikmah

Kami Selalu Berprasangka Baik Kepada Allah

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Pandemi Covid-19 tak segera berakhir. Tidak tahu sampai kapan akhirnya nanti. Hanya Allah saja yang Maha Mengetahui. Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Suatu ketika nanti pandemi pasti berakhir, dan kami bisa berativitas normal kembali. Saat pandemi berakhir nanti, kami juga tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Saat ini anak-anak kami belajar dari rumah. Kami para orangtua dipaksa untuk mendampingi proses pembelajaran jarak jauh itu. Mau tidak mau, para orangtua harus terkuras energi untuk melakukan pendampingan. Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Sebagian lembaga pendidikan sudah memasukkan siswa, dengan menerapkan protokol pencegahan Covid. Orangtua lega, namun tetap was-was memikirkan keselamatan anak-anak di sekolah dan asrama. Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Banyak masyarakat terdampak secara ekonomi. Ada yang bisnisnya harus berhenti. Ada yang usahanya tutup. Mereka harus berusaha eksis dengan melakukan berbagai kegiatan bisnis sekuat tenaga. Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Sebagian lagi justru panen keuntungan di masa pandemi Covid ini. Usaha dan bisnis mereka melejit saat pandemi. Keuntungan berlipat mereka dapatkan dari suasana ini. Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Telah banyak masyarakat meninggal dunia karena terinfeksi Covid. Tentu keluarga sangat bersedih karena kehilangan orang tercinta. Ditambah lagi dengan sanksi sosial yang sangat kejam menimpa mereka. Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Sebagian yang lain berhasil sembuh setelah terinfeksi. Ada pula yang tetap sehat walafiat tak kurang suatu apa. Apakah mereka ini lebih beruntung nasibnya? Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Di tengah pandemi yang mencekam ini, bencana tetap datang silih berganti. Banjir bandang di berbagai wilayah. Longsor di sana sini. Gempa di Sulawesi. Waterspout di Wonogiri. Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Bahkan kecelakaan pesawat udara Sriwijaya. Pesawat yang dikendalikan pilot salih itu gagal mengudara. Baru beberapa menit take off, langsung terjun ke laut. Semua penumpang wafat. Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Ada kisah penumpang Sriwijaya batal berangkat. Awalnya mereka bersedih karena tak jadi berangkat. Setelah mendapat berita kecelakaan pesawat, mendadak mereka bergembira. Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

Demikianlah hidup yang harus kita jalani di zaman ini. Banyak ketidakpastian terjadi. Kami harus siap menghadapi. Dan sungguh Kami tidak tahu, kehidupan seperti ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah.

.

*) “Kami tidak tahu, ini rahmat atau musibah. Tapi kami berprasangka baik kepada Allah”, adalah kalimat yang diajarkan ayah Sultan Al-Manshur Saifuddin Qolawun kepada dirinya sejak kecil. Seperti yang dinukil dalam buku “Dalam Dekapan Ukhuwah” karya Salim A. Fillah.

.

ilustrasi : IDN Times

Tinggalkan Balasan

Artikel ini telah dilihat : 590 kali.