Caption Hikmah

Filosofi Barongko

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

Suku bangsa yang sangat halus perasaannya terhadap pisang, adalah Bugis – Makassar. Saya belum pernah menemukan jenis makanan tradisional berbahan pisang, yang lebih halus dari olahan masyarakat Bugis – Makassar. Barongko namanya, dan saya sangat menyukainya.

Sejak pertama kali mendarat di Makassar tahun 2000, saya sudah jatuh cinta dengan Barongko. Saya takjub dengan cita rasanya, hingga Barongko menjadi salah satu menu wajib jika hadir di Makassar. Beruntung saya sering mengunjungi Makassar, baik karena berkegiatan di Kota Makassar, ataupun sekedar singgah transit di bandara Makassar.

Nyaris tidak percaya bahwa pisang bisa diolah menjadi sangat cantik, halus mulus dan putih bersih. Karena saya penyuka pisang, maka saya tahu bahwa ketika pisang direbus, akan berwarna kecoklatan. Lihat masakan Nagasari dan Carang Gesing, pisang yang ada di dalamnya menjadi berwarna kecoklatan setelah dikukus.

Suku bangsa yang sangat halus perasaannya terhadap pisang, adalah Bugis – Makassar. Saya belum pernah menemukan jenis makanan tradisional berbahan pisang, yang lebih halus dari olahan masyarakat Bugis – Makassar. Barongko namanya, dan saya sangat menyukainya.

ilustrasi barongko : ResepKoki

Mengapa Barongko Putih Mulus?

Ini pertanyaan saya saat pertama kali menikmati Barongko. Benar-benar sangat menggoda keingintahuan saya. Mengapa Barongko bisa tampak cantik, halus mulus dan putih bersih?

Bahagia, saya mendapat jawaban dari Bunda Sri Rahmi, warga Makassar asli Bantaeng, Sulawesi Selatan. Ternyata memasak Barongko harus dilakukan dengan cara yang sangat halus. Juga oleh mereka yang berpengalaman. Tidak boleh sembarangan.

Pisang yang sudah masak, disisir dengan hati-hati. Jangan sampai mengenai bagian dalam pisang yang berwarna hitam. Nah, ini kuncinya. Bagian dalam pisang yang berwarna hitam itulah yang membuat masakan menjadi berwarna coklat ketika dikukus.

Selanjutnya, buah pisang yang telah disisir ini diblender bersama santan kental hingga halus lembut. Setelah halus lembut, dicampur dengan telur, susu kental manis, garam dan vanili.

Daun pembungkusnya tidak boleh sembarangan. Harus daun pisang yang masih muda, yang warnanya hijau muda kekuningan. Tekstur daun pisang ini sangat lembut dan tipis. Beda dengan daun pisang yang sudah tua, berwarna hijau tua dan keras.

Lihat perpaduannya. Daun pisang yang masih sangat muda dan halus, digunakan membungkus adonan pisang yang telah bercampur dengan bahan-bahan lain. Selanjutnya dikukus hingga masak.

Filososfi dalam Sebungkus Barongko

Barongko bukan sekedar makanan. Ia adalah nilai (value), ia adalah pesan, ia adalah kebijakan. Salah jika Anda sekedar menyantap kelezatannya, tanpa mendapat pesan, nilai dan kebijakan yang terkandung di dalamnya.

  • Kejujuran

FIlosofi pertama adalah kejujuran. Terbuat dari bahan utama pisang, dibungkus dengan daun pisang. Luar dan dalamnya sama. Apa yang ada dalam ucapan, ada pula dalam perbuatan. Apa yang ditampakkan, adalah pancaran dari isi di dalamnya. Inilah value dan wisdom yang sangat mulia.

Allah telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لا تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لا تَفْعَلُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS. As-Shaff: 2-3)

Allah juga mencela perilaku Bani Israil yang tidak sesuai antara perkataan dengan perbuatan,

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ وَأَنْتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

“Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, Padahal kamu membaca Al kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Selain arahan Al-Qur’an, terdapat pula arahan dalam banyak hadits. Rasulullah saw bersabda, “Akan didatangkan seorang pada hari kiamat lalu dicampakkan ke dalam neraka. Di dalam neraka orang tersebut berputar-putar sebagaimana keledai berputar mengelilingi mesin penumbuk gandum”.

“Banyak penduduk neraka yang mengelilingi orang tersebut lalu berkata, ‘Wahai Fulan, bukankah engkau dahulu sering memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran?’ Orang tersebut menjawab, ‘Sungguh dulu aku sering memerintahkan kebaikan namun aku tidak melaksanakannya. Aku juga melarang kemungkaran tapi aku melanggarnya’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah saw juga telah bersabda, “Saat malam Isra’ Mi’raj aku melintasi sekelompok orang yang bibirnya digunting dengan gunting dari api neraka. ‘Siapakah mereka’, tanyaku kepada Jibril. Jibril mengatakan, ‘Mereka adalah orang-orang yang dulunya menjadi penceramah ketika di dunia. Mereka sering memerintahkan orang lain melakukan kebaikan tapi mereka lupakan diri mereka sendiri padahal mereka membaca firman-firman Allah, tidakkah mereka berpikir?” (HR. Ahmad, Abu Nu’aim dan Abu Ya’la).

  • Kelembutan

Filosofi kedua adalah kelembutan. Pisang diblender dengan lembut. Benar-benar menghasilkan tekstur makanan yang sangat lembut. Dibungkus dengan daun pisang muda yang tipis dan lembut. Bukan hanya dalamnya yang lembut, luarnya juga lembut. Lembut luar dalam.

Pesan agar kita memiliki kelembutan hati dan perasaan dalam berinteraksi dengan sesama manusia dan alam semesta. Nabi saw bersabda:

يَا عَائِشَةُ إِنَّ اللَّهَ رَفِيْقٌ يُحِبُ الرِّفْقَ وَيُعْطِى عَلَى الرِّفْقِ مَا لاَ يُعطِِي عَلَى الْعُنْفِ وَمَالاَ يُعْطِي عَلَى مَا سِوَاهُ

“Wahai Aisyah, sesunguhnya Allah itu Mahalembut dan mencintai kelembutan. Allah memberi kepada kelembutan hal-hal yang tidak diberikan kepada kekerasan dan sifat-sifat lainnya” (HR. Muslim no. 2593).

Dari Aisyah ra, Nabi saw bersabda:

إِنَّالرِّفْقَ لاَيَكُونُ فِي شَيْءٍ إِلاَّ زَانَهُ وَلاَ يُنْزَ عُ مِنْ شَيءٍ إِلاَّ شَانَهُ

“Sungguh, segala sesuatu yang dihiasi kelembutan akan nampak indah. Sebaliknya, tanpa kelembutan segala sesuatu akan nampak jelek” (HR. Muslim no. 2594).

Dari Jabir bin Abdullah bahwa Nabi saw bersabda:

مَنْ يُحْرَمِ الرِّفْقَ يُحْرَمِ الْخَيْرَ

“Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan” (HR. Muslim no. 2592).

Allah memerintahkan dua orang nabi yang mulia yaitu Musa dan Harun untuk mendakwahi Fir’aun dengan lembut:

 اذْهَبَا إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, karena dia telah berbuat melampui batas. Berbicaralah kepadanya dengan kata-kata yang lembut, mudah-mudahan ia mau ingat atau takut” (QS. Thaha : 43 – 44).

Allah juga menjelaskan bahwa kelemahlembutan adalah rahmatNya. Manusia akan menjauh apabila disikapi dengan kasar:

 فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ

“Dengan sebab rahmat Allah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentu mereka menjauh dari sekelilingmu” (QS. Ali Imran : 159).

  • Kebersihan

Filosofi ketiga adalah kebersihan. Bagian dalam pisang yang hitam, akan membuat warna masakan menjadi coklat kotor. Dengan memisahkan bagian dalam pisang, Barongko menjadi putih bersih. Seakan tanpa kotoran.

Mengajarkan kepada kita agar selalu berorientasi kepada kebersihan dan kesucian dalam hidup. Allah memerintahkan orang beriman:

وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ .وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ

“Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah” (QS. Al-Muddatsir : 4 – 5).

Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bersih:

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُطَّهِّرِينَ

“Dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih” (QS. At-Taubah : 108).

Allah juga menyukai orang-orang yang membersihkan dan mensucikan diri:

إِنَّ ٱللَّهَ يُحِبُّ ٱلتَّوَّٰبِينَ وَيُحِبُّ ٱلْمُتَطَهِّرِينَ

“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri” (QS. Al-Baqarah : 222).

Rasulullah saw bersabda:

الطهور شطر الإيمان

“Kebersihan setengah dari iman” (HR. Muslim no. 328).

Demikianlah Barongko mengajarkan pesan-pesan kebijakan yang luar biasa. Hendaknya kita menjadi manusia yang jujur, lembut dan bersih.

Hari ini (Senin 11 Januari 2021), istri saya memasak istimewa untuk saya. Masakan Bugis – Makassar, Barongko namanya. Jika dibuat berita koran, mungkin judul yang tepat adalah “Diduga Tidak Kuat Menahan Rindu, Laki-laki Itu Meminta Istrinya untuk Memasak Barongko”. Tidak dinyana, hasilnya benar-benar Barongko yang lezat. Padahal baru pertama kali membuatnya.

Selamat menikmati Barongko.

Tinggalkan Balasan

Artikel ini telah dilihat : 299 kali.