Sastra Budaya

Dunia Yang Anda Geluti, Itulah Bahan Tulisan Anda

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

“If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter” ― Dan Poynter

***************

Banyak peserta Kelas Menulis Online yang bertanya kepada saya, mengapa saya bisa menulis kapanpun dan dimanapun. Bahkan dengan waktu yang relatif cepat untuk menyelesaikan satu artikel yang layak posting di Kompasiana atau di blog lainnya. Ingin tahu rahasianya?

Saya sudah berjanji, tidak ada resep menulis yang saya rahasiakan —untuk para peserta Kelas Menulis Online yang saya ampu. Maka atas pertanyaan tersebut, saya harus menjawab jujur, dan tak ada yang saya sembunyikan.

Salah satu sebab, mengapa saya bisa menulis tanpa mengenal waktu dan tempat, adalah karena saya menulis apa yang menjadi dunia saya. Dunia yang saya tekuni, dunia yang saya cintai, dunia yang menghabiskan waktu terbanyak saya dalam kehidupan sehari-hari.

Negeri Wonderful Family

Saya hidup di negeri Wonderful Family. Sejak tahun 2000 hingga hari ini, saya banyak menerima konsultasi pernikahan dan keluarga. Tamu-tamu itu, datang dan pergi. Sebelum masa pandemi, mereka datang ke rumah, dari tempat yang jauh.

Bukan karena di kotanya tidak ada konsultan pernikahan dan keluarga, namun tidak nyaman jika masalah privasinya ada yang mengetahui di kota itu. Mereka lebih nyaman berkonsultasi dengan ‘orang jauh’ yang tidak bertemu setiap hari.

Setiap hari, saya bertemu sejumlah persoalan terkait pernikahan dan kehidupan berumah tangga. Baik yang disampaikan secara langsung —datang ke rumah, ataupun yang disampaikan secara online. Pertanyaan via online tentang masalah kehidupan berumah tangga, dalam satu bulan kadang ada 500 pertanyaan, bahkan bisa lebih.

Saya harus menjawab ratusan pertanyaan tersebut —dan jujur : tidak semuanya mampu saya jawab, saking terbatasnya waktu. Andai semua waktu saya digunakan hanya untuk menjawab dan memecahkan masalah tersebut, sepertinya tetap tidak memadai. Padahal saya masih memiliki banyak agenda dan amanah lainnya yang harus diselesaikan.

Nah, inilah negeri Wonderful Family yang saya hadapi sehari-hari, dalam 20 tahun terakhir ini. Setiap hari —dalam 20 tahun— saya bertemu dengan banyak masalah pernikahan dan keluarga. Inilah yang menyebabkan wajah saya adalah wajah masalah, karena setiap hari bertemu masalah. Meski saya berharap, wajah saya adalah wajah solusi bagi tamu-tamu itu.

Karena intensitas mendiskusikan masalah kehidupan berumah tangga, dengan berbagai macam renik dan coraknya, maka saya harus meng-up grage kapasitas diri, terus menerus. Saya banyak membaca buku-buku tentang pernikahan dan keluarga dari berbagai perspektif. DI rumah saya, sangat banyak buku kepustakaan tentang pernikahan dan keluarga.

Komplit sudah. Setiap hari menghadapi tamu —offline maupun online— yang menceritakan masalah pernikahan dan rumah tangga. Membuat saya harus banyak membaca buku-buku dan kepustakaan tentang pernikahan dan keluarga. Wajar jika saya sangat mudah menulis segala sesuatu yang bertema pernikahan dan keluarga.

Jadi, sudah ketemu jawabannya kan? Mengapa Pak Cah bisa menulis dimanapun dan kapanpun, bahkan dengan waktu yang cepat untuk menyelesaikan satu artikel layak tayang? Mengapa Pak Cah bisa menulis semudah bernafas? Karena Pak Cah menulis segala sesuatu yang menjadi dunia yang digelutinya.

Ini harusnya menjadi rahasia mentor menulis ya… Tapi saya kan mentor yang baik, jadi harus saya sampaikan semua ilmu saya… cie cie….

Saya akan sulit dan lama, menulis tema yang tidak pernah saya geluti. Buatkan saya satu tema, yang bukan dunia saya, dan minta saya menulisnya. Insyaallah akan saya tulis, tapi bisa jadi sangat lama, karena bukan dunia saya.

Misalnya, saya diminta menulis tentang “Peranan Penyuluhan Pertanian Terhadap Pendapatan Petani yang Menerapkan Sistem Tanam Jajar Legowo”. Jika tema ini yang harus saya tulis, sepertinya saya akan minta waktu satu minggu untuk menyelesaikannya. Mengapa begitu lama? Karena saya harus belajar dari nol tentang dunia pertanian —yang tidak pernah saya geluti sebelumnya.

Tidak mungkin saya bisa menulis semudah bernafas, jika tema tulisan pun belum saya pahami. Saya baru akan bisa menulis semudah bernafas, apabila menulis sesuatu yang menjadi dunia saya. Makin paham ya?

Apa Dunia Anda?

Sekarang perhatikan, apa dunia Anda? Apa yang paling banyak menghabiskan waktu dan perhatian Anda? Apa yang paling banyak Anda geluti dalam kehidupan sehari-hari?

Saya ingat seorang Kompasioner, dengan nama pena Syaiha. Nama aslinya adalah Syaiful Hadi. Sejak tahun 2011 Syaiha sangat aktif menulis di Kompasiana. Dia seorang guru SD, maka yang ditulis seluruhnya adalah tentang tema pendidikan serta tema belajar mengajar.

Tentu sangat mudah bagi Syaiha untuk menulis tentang dunia pendidikan Sekolah Dasar dengan segala reniknya, karena ia adalah pelaku. Mengajar dan mendidik telah menghabiskan sebagian besar waktu dan perhatiannya. Mengajar dan mendidik telah menjadi dunianya.

Nah, jika Anda guru, maka Anda akan sangat mudah dan renyah menulis tentang segala sesuatu yang terjadi di dunia pendidikan dan dunia belajar mengajar. Anda bisa melihat dari sisi teori, atau dari sisi realitas, atau dari sisi problematika, atau dari sisi manapun yang Anda suka —karena Anda adalah pelakunya.

Jika Anda petugas kesehatan —dokter, perawat, bidan, apoteker, dan tenaga kesehatan lainnya, akan sangat mudah bagi Anda untuk menulis segala sesuatu yang terkait dengan tema kesehatan. Baik tentang teori tentang kesehatan, praktek hidup sehat, pelayanan kesehatan, penyakit, pandemi, dan berbagai macam hal di sekitar kesehatan.

Jika Anda pensiunan, akan sangat mudah bagi Anda untuk menulis segala sesuatu tentang aktivitas yang recomended bagi para pensiunan. Anda bahkan bisa memberikan inspirasi dan motivasi bagi para pensiunan untuk menjalani hidup dengan positif, konstruktif dan produktif.

Jika Anda aktivis lingkungan, maka akan sangat mudah bagi Anda menulis segala sesuatu yang terkait dengan lingkungan hidup. Sejak dari teori-teori tentang lingkungan, persoalan global yang dihadapi semua negara tentang lingkungan, sampai rekomendasi yang bisa diberikan kepada berbagai pihak terkait lingkungan.

Intinya, apapun yang menjadi dunia Anda, apapun yang Anda geluti dalam kehidupan sehari-hari,  maka itulah sumber inspirasi yang paling mudah untuk dituliskan. Anda tetap bisa menulis hal-hal lain yang bukan dunia Anda, namun memerlukan waktu yang lebih lama dibanding dengan apabila menulis tema yang menjadi dunia Anda.

Maka, Anda tidak perlu menunggu inspirasi untuk menulis, karena inspirasi itu ada dalam dunia Anda sehari-hari. “If you wait for inspiration to write you’re not a writer, you’re a waiter” (Dan Poynter).

Selamat menulis, dan rasakan mudahnya menulis, karena terkait dunia Anda sendiri. Bukan Dunia Sophie[i].


[i] Dunia Sophie adalah novel filsafat karya Jostein Gaarder, yang aslinya berbahasa Norwegia, Sofies Verden. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan pada tahun 1996 oleh Penerbit Mizan.

20 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: