pada suatu hari
Sastra Budaya

Bagaimana Cara Mengawali Cerita?

Bagikan

Oleh : Cahyadi Takariawan

Apa yang Anda rasakan saat membaca cerpen, novel atau kisah berhikmah yang diawali dengan kalimat “pada suatu hari”? Coba perhatikan tiga contoh berikut.

Kisah Pertama

Pada suatu hari, Raja mendengar laporan dari seorang mata-mata, bahwa kompeni Belanda akan datang ke Borneo melalui jalur laut. Raja sudah maklum, bahwa jika kompeni datang pasti akan mengeruk kekayaan alam Borneo. Tentu saja Raja tidak rela dan sangat murka dengan tindakan kompeni tersebut.

Kisah Kedua

Pada suatu hari, seekor beruang yang tamak sedang mengamati gerombolan semut. Beruang melihat semut berbaris menuju sumber air, ia marah dan melarang semut mengambil air. Akhirnya semut pun menghindar pergi.

Di tengah perjalanan pulang, semut melihat seekor semut hitam, teman mereka, tergeletak di pinggir jalan. Mereka menduga, semut hitam dicelakai oleh beruang tamak. Para semut marah, lalu bergegas menuju sarang beruang.

Kisah Ketiga

Pada suatu hari, Daryl berangkat ke sekolah. Tidak seperti biasa, kali ini ia tidak diantar oleh Mamanya. Untuk pertama kali Daryl berangkat sekolah dengan bus kota, sendirian. Ia mulai merasa malu, bahwa setiap hari harus diantar Mama sampai gerbang sekolah. Ia ingin mandiri, tidak diantar Mama lagi.

*************

Pada ketiga contoh di atas, semua menggunakan kalimat pembuka konvensional “pada suatu hari”. Kalimat ini telah menggiring pembaca untuk berpikir linear, masuk dalam ‘perangkap’ cerita yang konvensional dan cenderung mudah ditebak. Kesan yang muncul, kisah yang ditulis teramat sederhana dan kaku, dengan pola-pola baku. Pola yang biasanya diajarkan di bangku sekolah.

Apakah salah membuka cerita dengan “pada suatu hari”? Tentu saja tidak salah. Sah dan boleh saja.

Namun kalimat pembuka “pada suatu hari” semacam pengantar tidur bagi anak. Maka ketika Anda menulis kisah dengan kalimat “pada suatu hari”, membuat pembaca langsung mengantuk. Akhirnya mereka tidur dan tidak jadi membaca cerita Anda.

Bagaimana cara menghilangkan kata “pada suatu hari” untuk mengawali sebuah kisah? Tentu ada sangat banyak cara. Berikut adalah contoh, bahwa tanpa “pada suatu hari”, justru akan memberikan ruang kebebasan berimajinasi kepada pembaca. Terserah pembaca, akan meletakkan dalam kerangka waktu ‘kapan’, biar mereka bebas memilih.

************

Kisah Pertama

Raja sangat murka. Wajahnya memerah, suaranya menggelegar memecah keheningan istana. Kemarahan Raja memuncak ketika mendengar laporan dari seorang mata-mata, bahwa kompeni Belanda akan datang ke Borneo melalui jalur laut.

Raja sudah maklum, bahwa jika kompeni datang pasti akan mengeruk kekayaan alam Borneo. Tentu saja Raja tidak rela dengan tindakan kompeni tersebut.

Kisah Kedua

Para semut berduka. Tiap hari mereka menghadapi kesewenangan seekor beruang tamak yang selalu berlaku jahat terhadap semut. Saat matahari mulai meninggi, gerombolan semut berbaris menuju sumber air. Beruang datang dan melarang para semut mengambil air. Akhirnya semut pun memilih menghindar pergi.

Kisah Ketiga

Ransel sekolah telah menempel di punggung Daryl, saat gadis kecil itu berjalan kaki menuju halte pemberhentian bus kota. Tidak seperti biasa, kali ini ia tidak diantar oleh Mamanya. Untuk pertama kali Daryl berangkat sekolah dengan bus kota, sendirian. Ia mulai merasa malu, bahwa setiap hari harus diantar Mama sampai gerbang sekolah. Ia ingin mandiri, tidak diantar Mama lagi.

*************

Nah, sebuah kisah tidak harus diawali dengan “pada suatu hari”, atau “di sebuah negeri yang aman sentosa”, atau yang semacamnya. Awalan sebuah cerita sangat menentukan selera pembaca, apakah merasa tertarik atau memutuskan untuk meninggalkan bacaannya. Maka kemampuan memilih kalimat pembuka cerita, sangat penting untuk membuat pembaca memutuskan meneruskan bacaan —atau meninggalkannya.

Mari belajar kepada tokoh-tokoh hebat dalam dunia sastra, bagaimana mereka mengawali cerita.

Cerpen Bom karya Putu Wijaya, dibuka dengan kalimat sangat menegangkan. “Oki terbangun di pagi hari dan menemukan sebuah bom di tempat tidurnya”.

Novel The Woods karya Harlan Coben, dibuka dengan cerita tentang ayah. “Aku melihat ayahku membawa sekop itu. Air mata mengalir di wajahnya. Isak tangisnya tertahan, keluar dari mulutnya dengan berat dan parau. Ia mengangkat sekop itu tinggi-tinggi, lalu menghujamkannya ke tanah. Mata sekop itu merobek tanah seakan-akan tanah itu adalah daging segar”.

Novel The History Keepers karya Damian Dibben, dibuka dengan pernyataan mengejutkan. “Malam saat Jake Djones tahu bahwa orangtuanya hilang di suatu masa dalam sejarah, tercatat sebagai malam dengan badai terdahsyat”. 

Novel The House Keeper & The Professor karya Yoko Ogawa dibuka dengan pengenalan tokoh secara unik. “Kami memanggilnya sang Profesor. Dan, dia memanggil anak lelakiku Root—akar, karena, sang Profesor berkata, puncak kepala anakku yang datar mengingatkannya pada simbol akar kuadrat”. 

Novel The Rain Maker karya John Grisham, dibuka dengan konflik. “Keputusanku untuk menjadi pengacara semakin kuat ketika kusadari ayahku membenci profesi hukum”. 

Novel The Son of Sobek, Rick Riordan, dibuka dengan buaya. “Ditelan seekor buaya raksasa sudah cukup buruk bagiku”. 

Nah, sebagai pembaca kita langsung tertarik dan penasaran untuk terus membaca, sejak kalimat pertama. Perlu latihan untuk membuat kalimat pembuka, agar tidak menghilangkan kehebatan cerita yang kita tulis. Sebagus apapun isi kisah yang Anda tulis, bisa rusak oleh kalimat pembuka.

Bahan Bacaan

Ellen Conny, 7 Cara Membuat Opening Lines (Kalimat Pembuka) Novel yang Memikat, www.ellenconny.com, 28 Februari 2017

10 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: