Catatan Sambil Antri Gudeg Pawon
Oleh : Cahyadi Takariawan
Jam 22.00 wib, terlalu awal saya tiba. Ternyata baru buka jam 22.15. Mungkin karena terlalu berselera. Tapi toh mau antri juga.
Namun saya bukan pengantri yang pertama. Sudah ada dua orang duduk di depan pintu sambil menikmati minuman panas. Rela menunggu dan menghabiskan waktu di depan pintu yang masih tekunci.
Baru sebentar duduk, datanglah para tamu satu per satu. Tanpa suara, tanpa keributan, mereka pun duduk termangu. Diam saja membisu. Memainkan HP atau BB agar tidak terasa jemu menunggu. Semua duduk berderet di depan pintu.
Waktu terus berlalu, saatnya tiba, pintu pun dibuka. Para pengantri memasuki area “pawon” dengan segera. Aroma gudeg pawon yang menggugah selera, membuat orang rela menunggu berlama-lama. Alami, apa adanya, namun mengundang ketertarikan orang untuk menikmatinya.
Semua antri dengan tertib, tidak ada yang berdesak-desakan minta diutamakan. Semua rela berdiri di antrian yang memanjang sampai keluar ruangan.
Andai saja kita mampu mengemas dakwah dengan citarasa gudeg pawon yang alami dan mengundang ketertarikan yang luar biasa. Siapapun akan rela antri menunggu kesempatan bergabung dengan dakwah kita.
Semoga.

2 Komentar
Daryanti Apriani
terinspirasi
Cahyadi Takariawan
alhamdulillah…