Caption Hikmah

Abi Kalian, Sungguh Hebat

Bagikan

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Saya rasa batupun kalau mendengar kabar itu akan menangis” — dr. Nur Hidayat.

.

Untuk Maryam, Yahya dan Ibrahim,

Tulisan ini, setulus hati aku tujukan kepada kalian bertiga. Semoga kalian sempat menemukan tulisan ini –suatu ketika nanti. Semoga kalian sempat membaca isinya, pada saat yang tepat.

Abi kalian telah pergi. Rasanya memang terlalu cepat, di saat kalian masih sangat membutuhkan kehadirannya. Kami mengerti betapa sedih kalian atas kepergian Abi kalian. Sebagaimana kami pun teramat sangat bersedih, lantaran kehilangan.

Kami ingin memberi tahu kalian sesuatu. Kami khawatir, hal-hal ini tak sampai kepada kalian. Maka kami putuskan untuk dituliskan, meski hanya tulisan singkat dan sederhana. Apa adanya, sebagaimana apa adanya dan sederhananya Abi kalian.

Maryam, Yahya dan Ibrahim,

Berbahagialah kalian menjadi anak-anak dari seorang salih seperti Abi kalian. Memang Abi kalian bukan orang populer layaknya artis atau selebgram yang terkenal dimana-mana. Karena Abi kalian tidak mengejar popularitas dunia.

Namun yakinlah, saat ini Abi kalian tengah berbahagia dengan amal-amal baiknya selama di dunia. Orang baik itu, akan disaksikan kebaikannya oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Orang salih itu, akan dikenali kesalihannya oleh orang-orang yang berinteraksi dengannya.

Aku sendiri cukup lama bergaul dengan Abi kalian. Sejak masih sama-sama kuliah sudah saling mengenal, dan berkegiatan dalam ruang lingkup dakwah. Abi kalian adalah sosok aktivis dakwah yang tak bisa diam.

Dakwah Adalah Cinta

Maryam, Yahya dan Ibrahim, untaian kalimat Ustadz Rahmat Abdullah ini, sungguh tepat untuk menggambarkan kondisi Abi kalian semasa hidupnya. Coba kalian perhatikan petikan kalimat ustadz Rahmat Abdullah rahimahullah berikut ini, dan bayangkan tentang Abi kalian.

“Memang seperti itu dakwah. Dakwah adalah cinta. Dan cinta akan meminta semuanya dari dirimu. Sampai pikiranmu. Sampai perhatianmu. Berjalan, duduk, dan tidurmu. Bahkan di tengah lelapmu, isi mimpimu pun tentang dakwah. Tentang umat yang kau cintai.

Lagi-lagi memang seperti itu. Dakwah. Menyedot saripati energimu. Sampai tulang belulangmu. Sampai daging terakhir yang menempel di tubuh rentamu. Tubuh yang luluh lantak diseret-seret. Tubuh yang hancur lebur dipaksa berlari.

Sebagaimana tubuh mulia Umar bin Abdul Aziz. Dia memimpin hanya sebentar. Tapi kaum muslimin sudah dibuat bingung. Tidak ada lagi orang miskin yang bisa diberi sedekah. Tubuh mulia itu terkoyak-koyak. Sulit membayangkan sekeras apa sang Khalifah bekerja. Tubuh yang segar bugar itu sampai rontok. Hanya dalam dua tahun ia sakit parah kemudian meninggal. Toh memang itu yang diharapkannya; mati sebagai
jiwa yang tenang.

Dan di etalase akhirat kelak, mungkin tubuh Umar bin Khathab juga terlihat tercabik-cabik. Kepalanya sampai botak. Umar yang perkasa pun akhirnya membawa tongkat ke mana-mana.

Karena itu kamu tahu. Pejuang yang heboh ria memamer-mamerkan amalnya adalah anak kemarin sore. Yang takjub pada rasa sakit dan pengorbanannya juga begitu. Karena mereka jarang disakiti di jalan Allah. Karena tidak setiap saat mereka memproduksi karya-karya besar. Maka sekalinya hal itu mereka kerjakan, sekalinya hal itu mereka rasakan, mereka merasa menjadi orang besar.”

Itu yang terjadi pada Abi kalian, bukan? Tubuh yang sangat keras bekerja untuk umat, untuk dakwah, untuk Islam. Tubuh yang sejak dulu telah memiliki berbagai ‘keterbatasan’ –kami mengenal itu semua, namun tak pernah dikeluhkannya.

Apa yang Aku Lihat?

Inilah yang ingin kami beritahukan kepada kalian, Maryam, Yahya dan Ibrahim. Kami khawatir saat kalian telah dewasa semua nanti, kami-kami telah tiada. Tak bisa lagi menceritakan kesaksian para sahabat Abi kalian, kepada kalian.

Mumpung kami masih diberi kesempatan, kami akan sampaikan kepada kalian, betapa bangga kami semua kepada Abi kalian. Betapa hormat kami semua kepada Abi kalian. Betapa cinta kami semua kepada Abi kalian. Betapa iri kami semua atas kebaikan amal Abi kalian.

Apa yang aku ingat tentang Abi kalian? Inilah sejumlah ingatanku tentang Abi kalian.

“Sederhana. Bersahaja. Tenang. Sabar. Tak pernah marah. Lembut. Bersahabat. Sopan. Pekerja keras. Peduli. Suka berbagi. Ringan membantu siapapun. Nothing to lose. Tanpa pamrih. Senang silaturahim. Amanah. Jujur. Murah senyum.

Tak bisa mengendarai mobil. Pejabat level provinsi DIY, kemana-mana mengendarai motor. Serius memikirkan masyarakat. Aktif dalam dakwah. Tidak suka mengeluh. Lebih suka kerja nyata. Berjiwa sosial. Berhati lapang. Mudah memaafkan.

Agus Sumartono, sahabatku. Tugas peradabanmu sudah selesai. Selamat istirahat. Allah yang akan memberimu tempat terhormat”.

Tak ada yang aku ingat dari Abi kalian, kecuali kebaikan. Abi kalian, telah diistirahatkan oleh Allah yang Maha Rahman. Di tempat yang penuh kebaikan.

Kesaksian Para Sahabat

Maryam, Yahya dan Ibrahim, berikut kesaksian teman-teman Abi kalian.

“Ketika dikabari akhuna Gus Ton tak sadarkan diri, saya membaca hasil CT-scan. Saya kabarkan kondisi ini ke Pak Cah, dan Pak Cah menangis. Saya kabarkan ke Pak Arif Rahman, dia menangis. Saya rasa batupun kalau mendengar kabar itu akan menangis”. Dr. Nur Hidayat.

“Low profile, sederhana. Sebagai pejabat publik, sangat menjaga diri. Termasuk untuk membuat rumah saja tidak mau. Saya dan pak Amir Syarifuddin harus merayu-rayu dan memaksa untuk membuat rumah di Karangmojo itu”. Agus Effendi.

“Khusnul khatimah insya Allah. Hari-hari terakhir hidup beliau diisi dengan perjuangan. Sore rapat pansus dan malam PH DPW PKS DIY sampai larut. Kemudian beliau jatuh muntah dan tidak sadarkan diri.  Saya bersaksi beliau orang yang sangat shalih dan baik”. Huda Tri Yudiana.

“Tadi malam masih sempat muncul syura PH DPW PKS. Rupanya hanya ingin menyapa yang terakhir kali kepada kami semua”. M. Darul Falah.

“Suka mbayari saat makan bareng dengan teman-teman, tanpa diminta”. Hamam Cahyadi.

“Baik semasa hidup maupun setelah meninggal, kisah beliau selalu menjadi teladan bagi kita. Allahummaghfirlahu warhamhu wa afihi wa’fu ‘anhu”. Sigit Nursyam.

Abi Kalian di Jalan Dakwah

Maryam, Yahya dan Ibrahim, ketahuilah, Abi kalian adalah aktivis dakwah. Pelopor dakwah. Semua waktunya habis untuk dakwah. Tetap istiqamah dalam dakwah hingga akhir hayat yang indah, husnul khatimah. Kami iri dengan akhir yang indah ini, sementara kami semua, belum pasti.

Perhatikan apa kata teman-teman seperjuangan Abi kalian. Kami sungguh ingin kalian kelak seteguh Abi kalian, setegar Abi kalian, sekuat Abi kalian. Kami sungguh ingin, kalian mengerti kiprah Abi kalian.

“Gus Ton : ikhwah yang sanggup lurus sampai akhir”. Anang KondeMart.

“Teguh tanpa keluh. Walau kami tahu jantungmu tidak berfungsi penuh. Kau tetap teduh. Sepanas apapun masalah kau tempuh. Kau tetap berjalan jauh. Sepanjang yang harus ditempuh. (Justru kami terlalu rapuh. Bahkan instruktur yang harus merayu agar kau berhenti mengayuh).” Agus Effendi.

“Sekitar tahun 2000 Pak Gus Ton bersama ustadz Abdul Hakim pernah diberi amanah oleh DPP untuk jaulah dakwah dua bulan di pulau Sulawesi.  Semoga Allah Swt terima amal baiknya, tetap mengalir pahalanya, diampuni segala dosanya. Aamiin. Agus Mas’udi.

“Tiap pagi Pak Gus Ton berjalan mengunjungi warga dan tokoh masyarakat. Menyapa, silaturahim. Beliau tidak banyak bicara di media, tapi beliau lebih banyak bekerja nyata. Beliau sangat pandai merawat masyarakat”. Amir Syarifuddin.

“Sangat baik. Tidak pernah marah. Tidak mudah tersinggung”. Akbar. K. Setyawan.

“Beliau peserta Kembara yang gigih mengikuti seluruh rangkaian acara dengan semangat dan selalu ceria. Dan semangat dalam ketaatan berjamaah mengantarkan di akhir hayat husnul khatimah. Insyaallah”. Dr. Nur Hidayat.

“Saya menjadi saksi. Pas acara Kembara di Tawangmangu enam tahun yang lalu, ada agenda rappling, meluncur dari jembatan pakai tali. Pelatih sudah paham kondisi jantung beliau. Tetapi beliau tetap bersikeras mencoba meskipun dengan wajah pucat dan badan gemetar. Yang gak tega lihat justru instruktur nasionalnya”. Agung DN.

“Sepatu saya rusak total di tengah acara Kembara Dakwah. Akhirnya sepatu itu menjadi bahan bakar untuk perapian. Dua-duanya. Saat rombongan mulai berjalan untuk rute jarak jauh, saya harus rela berjalan tanpa sepatu. Tak terbayang oleh saya. Baru saja berjalan, Gus Ton mendekati saya dan menyerahkan sepatunya.

Saya bilang, emang antum gak ikut jalan kah? Dia bilang, saya ikut, tapi sudah terbiasa tidak bersepatu. Saya tahu, bukan itu jawaban yang sebenarnya. Sesungguhnya dia tidak tega melihat saya, dan dia lebih tega melihat dirinya berjalan tanpa sepatu. Saya kembalikan sepatu itu, tapi dia bersikeras saya yang harus memakai.” Cahyadi Takariawan.

Abi Kalian di Kancah Politik

“Pada Pemilu 2019 lalu, beliau bertanggung jawab membuat survey pileg tiap Dapil Propinsi, denga biaya yang cukup besar. Namun sayang, hasilnya tidak bisa dibaca dan dianalisis. Dalam rapat PH DPW beliau dicecar saat presentasi hasil survey tersebut.

Seperti biasanya, dengan wajah cool beliau komentar enteng, “Lha kan yang penting hasilnya PKS DIY nomor 2 dan Dapil provinsi untuk Bantul Barat dan Kota Jogja dapat kursi”. Ternyata hasil Pemilu betul sebagaimana survey tersebut.

Dalam hal politik, beliau ini ‘wali’ tenan. Seperti saat beliau jadi aleg tahun 2014, dengan suara 3.456, yang merupakan suara terkecil dari semua dewan Provinsi. Lebih baik nyaris ndak jadi daripada nyaris jadi, ungkap beliau”. M. Darul Falah.

“Rekan-rekan dewan dan wartawan menjuluki beliau Gus Ton alias Beton atau Bejo Sumartono. Karena nasibnya selalu baik, alias bejo terus. Tahun 2014  PKS  tidak mendapat kursi DPRD DIY dari dapil Bantul Barat, tetapi Bantul Timur tetap dapat.

Gus Ton caleg  peraih suara 3.456. Ternyata angka ini perolehan caleg paling sedikit di DPRD DIY. Bandingkan dengan Arif Haryanto yang saat itu meraih lebih dari 5.000 suara tetapi gak dapat kursi.

Pemilu 2019 mendapat amanah untuk merebut kursi PKS yang hilang dari dapil Bantul barat. Amanah ini berat karena DPRD  kabupaten  Bantul  juga hilang dua kursi, di samping itu beliau tinggalnya di Bantul Timur. Alhamdulillah beliau mampu menjalankan tugas dengan baik. Memang betul-betul bejo. Insyaallah tetap bejo sampai akhirat”. Agus Mas’udi.

Kebaikan Hati

Maryam, Yahya dan Ibrahim, Abi kalian, sungguh sangat baik. Berbanggalah menjadi anak-anak dari seorang yang dikenal dengan kebaikan dirinya. Sangat banyak orang yang merasa mendapatkan sentuhan perhatian dari kebaikan hati beliau.

Ungkapan bu Sugeng Rahayu berikut ini hanya salah satu contoh. “Iya beliau orang sholeh. Kelurga kami pernah dibantu mengurusi Jamkesos zaman dulu. Semoga beliau husnul khotimah”.

“Kebiasaan Pak Gus Ton, selalu nglarisi bakul yang masuk ke ruang fraksi. Meskipun sebenarnya beliau tidak terlalu membutuhkan”. M. Syafi’i.

“Saya berkesempatan mendampingi beliau selaku staf fraksi PKS DPRD DIY di 2012-2014. Saya amati, salah satu kebiasaan beliau adalah membeli barang dari setiap pedagang asongan yang masuk ke ruang fraksi. Tiap hari beli sendal, senter, powerbank, korek (meskipun bukan perokok), sabuk, palu, obeng, gunting dll.

Iseng pernah tak tanya, kok beliau sering beli barang meskipun tidak butuh? Jebul jawabannya mak jleger, “Lho! Kita ndak butuh barangnya, tapi kita butuh amalnya Git”. Dan benar, tiap masuk fraksi pedagang asongan selalu mencari pak Gus Ton yang hobi nglarisi barang dagangan mereka.

Kemarin dapat kabar dari ustadz Muhammad Syafi’i, ternyata kebiasaan tersebut masih berlangsung hingga pekan terakhir beliau di kantor fraksi. Kemarin dapat info juga dari Zaki Permana, jebul dekne pernah dapat oleh-oleh gunting made in china dari pak Gus Ton yang diduga hasil nglarisi pedagang asongan”. Sigit Nursyam.

“Tidak semua perbuatan baik harus terlihat baik. Lihat aja yang dilakukan kupu-kupu dan cacing tanah Git. Kupu-kupu banyak disukai, dan cacing tanah sering dianggap menjijikkan. Tapi yang mereka lakukan sama baik dan pentingnya bagi bumi”. Saya bagikan nasehat pak Agus Sumartono kepada saya di tahun 2012, dengan harapan makin banyak orang yang mendapat kebaikan dan kemanfaatan dari ilmu beliau”. Sigit Nursyam.

“Pekerja keras. Mudah membantu siapapun”. Amir Syarifuddin.

Kesaksian Orang-orang yang Pernah Berinteraksi

Maryam, Yahya dan Ibrahim, sekarang lihat kesaksian orang-orang yang pernah mengenal dan berinteraksi dengan Abi kalian. Adalah Dr. Joko Santoso, dosen F. Farmasi UGM, menyatakan kekaguman yang sangat dalam. Berikut ungkapan beliau.

“Mas Agus yang saya kenal, beliau mentor dakwah kampus , khususnya F. Biologi UGM. Beliau ikut membidani lahirnya Keluarga Muslim Biologi. Semangat dakwahnya yang begitu luar biasa kuat sehingga  kegiatan Pengajian dosen-karyawan-mahasiswa digelar bisa bareng setiap Sabtu pukul 13.00-15.00 tiap bulan.

Alhamdulillah, dakwah yang sejuk, akhirnya satu persatu dosen ikut shalat dan bahkan ibadah haji. Ibu-ibu dosen satu persatu berjilbab. Semoga menjadi Amal jariyah beliau. Al Fatihah”.

Masyaallah, kami sangat iri dengan amal ini. Abi kalian selalu menjaga hubungan baik dengan almamater tempatnya kuliah. Berikut kesaksian Dekan F Biologi UGM, Prof. Dr. Budi Setiadi, “Bulan lalu almarhum mengisi BioTalk #6 secara virtual. Insyaallah jasa dan amal sholehnya akan mengiringi beliau ke alam kubur. Aamiin”.

kucing pun bersedih

Kesaksian Para Kucing

Maryam, Yahya dan Ibrahim, kalian tahu, Abi kalian sangat suka dengan kucing. Hati Abi kalian sangat lembut. Bahkan kepada binatang dan tumbuh-tumbuhan. Perhatikan bagaimana kisah kedekatan Abi kalian dengan para kucing.

“Dialah yang membelikan makanan untuk kucing-kucing  yang numpang hidup di kantor DPRD DIY”. Agus Mas’udi.

“Kucing ini terlihat sedih. Dikasih makan tidak mau makan. Kata pak Taat, tadi malam juga demikian”. Kesaksian tetangga.

“Kucing pun sedih saat memandang karangan bunga, seolah tahu kalau pak Gus Ton yang sayang dengan kucing telah tiada”. Kesaksian tetangga.

Kesaksian Kaum Perempuan

“Selama saya mengenal beliau, Pak Gus Ton adalah sosok yang santun. Kepada  kaum perempuan, bersikap sopan dan hormat. Beliau suka mengajak diskusi pemberdayaan ekonomi dan pendidikan. Beliau juga ingin menginisiasi paguyuban mini market bekerjasama dengan koperasi.

Beliau selalu ingin menyenangkan orang lain. Sementara kepada dirinya tidak perhatian sebagaimana kepada orang lain”. Muzna Nurhayati.

“Pak Gus Ton pernah menjadi ketua Bidang DPW DIY. Saya stafnya. Semua program beliau biayai. Jadi stafnya tinggal minta uang untuk menjalankan program”. Dwi Churnia.

“Ini sama saat acara Salimah, sosialisasi Sister Lansia (Sekolah Ibu Terpadu Lansia) di sebuah Rumah Makan di ringroad barat. Ada miskom, Salimah sudah pesan konsumsi di RM tersebut. Tiba-tiba staf beliau datang membawa nasi kotak dan snack. Akhirnya beliau bayar juga konsumsi yang dari RM”. Ria Sapta.

“Sangat cepat membantu kegiatan dakwah. Kontribusi bantuannya untuk program dakwah sangat nyata”. Ida Nurlaila.

Komentar Media

Maryam, Yahya dan Ibrahim, berikut kesaksian media terhadap kiprah Abi kalian.

“Agus Sumartono selama ini dikenal sebagai politikus yang kritis terhadap persoalan publik khususnya yang terjadi di DIY”. Bernas.id, 13 September 2020.

“Anggota DPRD DIY dari Fraksi PDIP, Yuni Satia Rahayu menilai, semasa hidupnya, Gus Ton merupakan sosok yang mengayomi dan sabar saat mendengarkan pendapat koleganya”. Kabarkota.com, 13 September 2020.

“Beliau orang baik, rendah hati, pekerja keras dan senang menyambung silaturahmi.” PortalJogja.com, 13 September 2020.

“Gus Ton dikenal sebagai sosok yang santun dan perhatian pada staf di DPRD DIY”. KabarJogloSemar.com, 13 September 2020.

“Ketua DPW PKS DIY, M. Darul Falah mengungkapkan, Gus Ton merupakan salah satu kader terbaik yang dimiliki PKS. Semasa hidupnya, almarhum sebagai sosok yang diterima di mana saja berada, baik oleh eksekutif maupun masyarakat umum. “Dia mudah bergaul dengan siapa pun, diterima di kalangan mana saja.” Tagar.id, 13 September 2020.

“Huda Tri Yudiana menyatakan, Gus Ton itu sosok yang hebat dan tidak pernah marah sama sekali, sangat sabar. Gak pernah saya dengar dan melihat Gus Ton marah”. Tagar.id, 13 September 2020.

Demikianlah beberapa kesaksian tentang kebaikan Abi kalian. Kami ingin kalian selalu mendoakan Abi kalian, dan meneruskan perjuangan Abi kalian. Kami ingin kalian bangga menjadi anak-anak dari lelaki sederhana yang sangat luar biasa itu.

Dengan bangga kami sebut namanya, Agus Sumartono, rahimahullah.

Yogyakarta, 18 September 2020

Cahyadi Takariawan

3 Komentar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini:
Artikel ini telah dilihat : 3544 kali.