Mulai Dari Tetangga Dekat Kita
Oleh : Marintha Eky Wulansari (Mimika, Papua Tengah)
Suatu ketika Pembinaku memberi amanah untuk membentuk UPA baru.
Sungguh aku tidak tahu siapa yang akan aku ajak menjadi anggotanya. Yang terpikirkan pertama kali adalah para tetangga terdekatku.
Aku coba untuk mengundang mereka ke rumah. Hari yang ditentukan telah datang, Ahad sore ba’da Ashar.
Aku telah bersiap-siap di ruang tamu menunggu mereka. Tidak begitu yakin akan ada yang memenuhi undanganku.
“Bismillah,” ucapku. Toh Allah tetap akan mencatat niat-niat baik kita. Hingga tiba-tiba pintu rumahku diketuk, kubuka pintu dan tampaklah dua orang tetanggaku.
“Mbak…jadi mengajinya?” ucap salah satu dari mereka.
Aku jawab dengan tergagap, “Iya…jadi…jadi…silahkan masuk. ”
Tak terbayangkan betapa bergembiranya hatiku saat itu.
Kami segera awali majelis dengan membaca Al Fatihah bersama. Di tengah membaca Al Fatihah tiba-tiba suaraku tercekat. Haru dan bahagia.
Hampir saja air mataku meleleh sangking harunya. Namun aku tahan, hari itu adalah titik awal perjalanan kelompok UPA kami.
Dari dua orang tetangga inilah kemudian lahir sebuah kelompok kecil yang kami beri nama UPA Shohibul Jannah.
Meskipun salah satu dari tetanggaku itu akhirnya tidak bisa lanjut karena berpindah lokasi rumah yang cukup jauh, alhamdulillah Allah kirimkan penggantinya.
Perlahan-lahan anggota bertambah, sebagian besar berasal dari tetangga sekitar. Hingga saat ini, kelompok kecil itu telah berkembang menjadi 12 orang anggota.
Ternyata, membentuk UPA bisa dimulai dari tetangga terdekat kita.
