Dulu Saya Takut Membina, Sekarang Sangat Menikmatinya
@ Ermiati (Mimika, Papua Tengah)
Menjadi seorang murabbi? Jujur, hal itu sama sekali tidak pernah terbayang dalam benakku. Membayangkan saja takut.
Aku sangat sadar akan keterbatasan diriku, begitu banyak kekurangan yang masih harus aku perbaiki. Namun, takdir berkata lain.
Di sebuah pertemuan Kader, aku kaget ketika diberi amanah untuk menjadi Murabbi.
Hati kecilku bergemuruh, “Ya Allah, bagaimana nanti kalau aku jadi murabbi? Apa yang harus aku lakukan? Aku sendiri pun masih sangat butuh bimbingan”.
Rasa takut, ragu dan tidak percaya diri begitu besar menyelimuti pikiranku.
Akhirnya, aku memilih untuk menyiapkan diri. Aku perbanyak salat Tahajud, memohon petunjuk dan kekuatan hanya kepada-Nya.
Aku meyakini bahwa segala sesuatu pasti terjadi atas izin Allah. Jika aku diberi amanah, itu artinya ini adalah jalan yang Allah ridhai untukku.
Langkah pertamaku dimulai dengan menghubungi calon peserta binaan yang akan aku dampingi. Namun beberapa orang yang aku hubungi berada dalam kesulitan teknis untuk mengikuti forum pembinaan rutin.
Aku tidak mau menyia-nyiakan waktu. Aku anggap ini sebagai kesempatan untuk mempersiapkan diri.
Aku banyak membaca buku, mendengarkan kajian, dan mendalami Al-Qur’an agar nanti saat waktunya tiba, aku bisa tampil dengan percaya diri dan membawa ilmu yang bermanfaat.
Aku kembali menjapri mereka satu per satu, untuk menanyakan kesiapan mengikuti dan memulai forum pembinaan rutin. Kembali mereka menyatakan belum siap.
Aku memohon petunjuk kepada Allah. “Ya Robbi, apa yang sebenarnya Engkau kehendaki? Apakah mereka tidak mau belajar bersamaku atau ada rencana lain yang sedang Engkau siapkan?”
Di suatu sore sebelum waktu Maghrib, sebuah pesan WhatsApp masuk. “Apakah Ibu berkenan mengisi UPA kami? Kebetulan Pembina kami sedang agenda keluar daerah beberapa pekan.”
Membaca pesan tersebut, aku yakin itubadalah jawaban dari Allah. Walaupun kelompok yang aku kehendaki belum siap, Allah justru membuka jalan lain. Allah mengirimkan orang-orang yang membutuhkanku terlebih dahulu.
Tanpa pikir panjang, aku segera mengiyakan dengan niat yang tulus untuk belajar menjadi Murabbi.
Saat pertama kali mengisi pertemuan di kelompok UPA tersebut, tanganku masih sempat gemetar dan suaraku terbata-bata karena gugup. Ini adalah pengalaman pertamaku hadir sebagai Pembina UPA. Alhamdulillah, ternyata menjadi murabbi tidak seseram yang aku bayangkan.
Suasananya sangat menyenangkan dan teman-teman menerima kehadiranku dengan sangat baik. Aku mendampingi UPA mereka selama satu bulan penuh dengan hati yang bahagia.
Tak berapa lama, ada lagi umahat yang memintaku untuk menggantikannya sementara karena beliau harus kegiatan keluar daerah. Karena sudah memiliki pengalaman sebelumnya, rasa gugup itu sudah jauh berkurang.
Aku mendampingi kelompok UPA kedua ini selama dua bulan. Namun saat Umahat telah kembali, ternyata kelompok UPA tersebut justru dilimpahkan sepenuhnya kepadaku untuk didampingi.
Seiring berjalannya waktu, aku mulai merasa nyaman. Allah memudahkan urusanku dalam mengelola forum pembinaan pekanan.
Suatu hari, Pembinaku menyampaikan bahwa ada satu kelompok UPA lagi yang sedang dicarikan pendamping. Aku ditugasi untuk mendampingi.
Tanpa ragu, aku terima amanah itu. Aku sadar, dengan mengajari orang lain, justru aku yang semakin paham dan ilmu semakin bertambah.
Kini, jika ditanya apakah aku bahagia menjadi murabbi? Jawabannya adalah: Sangat bahagia dan bersyukur.
Aku bersyukur bahwa saat itu aku tidak menolak mendampingi UPA. Menjadi murabbi mengubah mindset dan cara pandangku terhadap kehidupan.
Aku bertemu banyak orang dengan karakter yang berbeda, belajar sabar dan dewasa dari mereka.
